Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

(Inspirasi Iman)

NEW NORMAL. Pandemi Covid-19 berakhir? Saat tulisan ini dimuat, jumlah orang yang positif Covid-19 terus bertambah. Karena itu, persiapan memasukki masa new normal tetap harus memperhatikan protokol kesehatan secara ketat. Protokol kesehatan dalam situasi ini sangat diperlukan agar kehidupan sosial dan ekonomi kita bisa pulih. Hal yang sama berlaku juga dalam konteks kemungkinan untuk merayakan upacara keagamaan.

Selain protokol kesehatan fisik, mungkin kita juga ingat akan kesehatan rohani dan psikis yang dapat ditimba dari Sabda Tuhan sendiri. Ada catatan menarik yang ingin kami bagikan berhubungan dengan ptotokol kesehatan mata batin, spiritual.

Musuh Yang Dicintai Allah Bapa
Dalam kehidupan sehari-hari kita seringkali mengalami dorongan untuk “membalas” kebaikan atau kejahatan yang dilakukan sesama kepada kita. Secara khusus, terhadap orang yang menyakiti kita, kita tergoda dan terdesak oleh arus emosi kemarahan untuk mendendam, bahkan bernafsu untuk memperlakukan hal yang sama kepada yang menyakiti atau melukai martabat kita. Kita cenderung memberlakukan aturan ini: «Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu (Mt 5:43).

Namun, Tuhan Yesus, Pusat dan Sumber hidup kita berpesan: «Aku berkata kepadamu Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya daripada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian? Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna» (Mt. 5:44-48).

Kita mungkin sedikit kecewa dengan pesan Yesus ini, karena terasa begitu sulit mengasihi musuh kita. Mungkin sebelum berpikir tentang cara untuk mencintai musuh, baik kalau kita melihat terlebih dahulu apa yang telah, sedang dan akan terus terjadi dalam diri kita masing-masing.

Kita mulai dengan kisah kecil berikut ini. “Suatu hari seorang katekumen bertanya kepada pastor parokinya yang kebetulan ahli Kitab Suci tentang arti dosa. Sang Ahli Kitab Suci itu menjawab, dengan mengutip teks 1 Yohanes 3: 4: “setiap orang yang berbuat dosa, melanggar juga hukum Allah, sebab dosa ialah pelanggaran hukum Allah”; dan St. Paulus pernah menulis: “Allah menunjukkan kasihNya kepada kita karena ketika kita adalah musuh-musuhnya, Dia mati untuk kita”.

Berdosa berarti melawan hukum Allah, yaitu mengasihi. Melawan Allah berarti kita menempatkan diri sebagai musuhNya. Jika semua manusia adalah pendosa, artinya “kita dalam tanda petik “adalah musuh Allah” yang Ia kasihi; yang Ia cintai. Karena itulah mengapa Yesus meminta para muridNya untuk mencintai musuh, karena Bapa sendiri melakukannya untuk kita. Semoga mata kita mampu melihat di dalam diri kita masing-masing bahwa kita ini sesungguhnya adalah musuh Allah yang terkasih, yang paling dikasihi, dicintai; dan untuk musuh yang dikasihi itulah Kristus menderita, wafat dan bangkit.

Diperlakukan Sama oleh Allah Bapa
Kita semua yakin bahwa kerendahan hati untuk memandang dan menyadari bahwa setiap kita yang berdosa adalah “pribadi-pribadi yang dikasihi Allah” menjadi syarat awal yang sangat penting untuk menghidupi semangat komunio dalam komunitas-komunitas kita.

Seperti zaman Yesus, banyak kali pikiran kita cenderung untuk memandang orang lain “bukan bagian dari kita” saat kita membuat pengelompokan: orang Yahudi dan non-Yahudi, tetangga dan bukan tetangga, orang suci dan orang berdosa, yang tahir dan yang tidak tahir, dll. Saudara-saudarai terkasih…. hari ini Yesus menyadarkan kita: Bapa kita Pencipta menjadikan matahari bagi yang jahat dan yang baik; Ia menjadikan hujan bagi yang benar dan yang tidak benar. Mari kita jadikan kesadaran ini sebagai “Protokol Iman” memasuki situasi baru di masa pandemi ini. (*)

Oleh :
Rm DR Benny Balun, Pr
(Doktor Hukum Gereja, Imam Keuskupan Pangkalpinang)


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •