Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

HR MINGGU BIASA KE XIV/A
Zak 9:9-10, Rom 8:9,11-13, Mat 11:25-30

          Setiap kali kita merayakan Ekaristi, kita sedang merayakan syukur atas kasih Tuhan yang telah memilih kita, membaurkan diri-Nya dengan kita dalam perjalanan kehidupan, dan telah memberikan Putera-Nya untuk menyelamatkan kita. Dan di dalam Ekaristi ini kita menemukan Yesus yang amat mengasihi kita. Dialah Anak Allah yang rela merendahkan diri-Nya untuk keselamatan kita. Kerelaan itu ditandai dengan kerendahan hati dan kelembutan hati-Nya.

Bacaan-bacaan Kitab Suci pada hari Minggu ini membantu kita untuk mengenal lebih dalam Pribadi Yesus Kristus. Di dalam bacaan Injil kita mendengar Yesus mewahyukan diri-Nya sebagai Anak Allah dan tugas-tugas yang harus dilakukan-Nya. Sebagai seorang Anak, Ia memuji dan memuliakan Bapa (Mat 11:25-26), Yesus dan Bapa saling mengenal satu sama lain (Mat 11: 27) dan undangan Yesus untuk memikul kuk (Mat 11:28-30).

Kasih Allah dalam diri Yesus ini, mau mengatakan bahwa Allah terpikat oleh kecilnya kita, dan karena alasan inilah Ia telah memilih kita. Dan Ia memilih orang-orang kecil. Hal ini di tegaskan oleh Yesus dalam Injil hari ini: “Aku bersyukur kepada-Mu, ya Bapa, Tuhan langit dan bumi! Sebab misteri Kerajaan Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil”. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu.” (Mat 11:25-26). Orang kecil yang Yesus maksudkan adalah diri-Nya sendiri sebagai Anak, yang akan menjadi Juru Selamat bagi banyak orang sesuai rencana Bapa.

Orang kecil yang lainnya adalah para murid, orang-orang sederhana dan rendah hati yang terbuka untuk menerima keselamatan dari Tuhan, orang-orang kecil adalah mereka yang selalu membutuhkan Tuhan dalam situasi apapun. Maka, untuk dapat memahami tentang misteri kasih Allah yang tampak dalam diri Yesus Kristus, kita harus merendahkan diri kita, menjadikan diri kita kecil, rendah hati di hadapan-Nya. Dan kepada kita Ia selalu memanggil: “Marilah kepadaku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepada kamu.

Kita adalah yang paling kecil – oleh karena penderitaan, oleh karena letih lesu, oleh karena beban berat kehidupan. Kita adalah yang paling kecil oleh karena masalah yang datang silih berganti, yang tidak dapat berdiri sendiri tanpa kehadiran Tuhan. Ya, kita butuh Allah.  Itu sebabnya Ia mengajak kita semua untuk belajar dari pada-Nya, karena Ia lemah lembut dan rendah hati.

Apa yang harus kita lakukan untuk menjadi lemah lembut dan rendah hati? St. Paulus mengajak agar kita membiarkan Roh Kristus tinggal di dalam diri kita, sehingga kita pun tetap menjadi milik Kristus selamanya.(bdk Rom 8:9). Di dalam Yesus dan bersama Yesus kita semua akan hidup dalam Roh, dan menjadi anak-anak Allah, yang mampu berseru: “ya Abba, ya Bapa”.

Semoga kita juga menjadi bagian dalam doa syukur Yesus. Menjadi orang-orang kecil dan sederhana yang terbuka pada undangan Tuhan untuk datang kepada-Nya, belajar dari-Nya, yang lemah lembut dan rendah hati, hingga pada akhirnya jiwa kita pun mendapat ketenangan dalam Dia. (*)

Renungan oleh
RD Laurentius Yustinianus Ta’Laleng


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •