Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

PANGKALPINANG, KATEDRALPANGKALPINANG.COM –  Dua puluh lima tahun yang lalu, tepatnya 08 Juli 1995 putra pasangan Ignasius Sumedi dan Maria Suminah ditahbiskan sebagai imam dari ordo OFM oleh Kardinal Julius Darmaatmadja SJ, selaku Uskup Agung Semarang. Dialah Diakon Adrianus Sunarko yang saat itu berusia 29 tahun. Putra kelahiran Merauke yang memiliki tanah leluhur di Sedayu, Daerah Istimewa Yogyakarta itu terkenal sebagai pribadi pendiam, namun tajam dalam pemikiran.

Berkesempatan berbincang dengan pemimpin tertinggi umat Katolik se-Bangka Belitung dan Kepulauan Riau ini di ruang kerjanya, Senin (06/07/2020), katedralpangkalpinang.com mencoba mencari tahu apa hal yang berkesan selama 25 tahun menjalani panggilan imamatnya.

“Yang berkesan banyak ya, tapi yang paling berkesan terutama karena mendapat dukungan dan bantuan dari macam-macam. Dari rekan-rekan imam, keluarga, umat. Umumnya saya berjumpa dengan umat yang sangat mendukung imamnya dengan    satu dan lain cara. Macam-macam. Keramahan. Ada yang mendoakan, ada yang mengajak makan, ada yang memberi hadiah, ada yang memberi masukan,” tutur doktor teologi dogmatic lulusan Universitas Albert Ludwig, Jerman ini.

Uskup melanjutkan, secara umum ia merasakan dukungan dari banyak pihak.

“Masuk-masukan yang disampaikan juga positif. Dengan maksud positif. Kalaupun itu berupa kritik, arahnya demi perbaikan-perbaikan. Bersyukur atas semua itu,” ungkap imam yang sejak tiga tahun terakhir berkarya sebagai uskup di Keuskupan Pangkalpinang ini.

Berbicara lebih jauh tentang perjalanan tiga tahun menjadi gembala di Keuskupan Pangkalpinang, Uskup yang dinobatkan Kemenristek RI sebagai profesor tanggal 01 November 2018 ini mengaku memiliki banyak kesan.

“Banyak ya… setelah keliling-keliling, tapi yang paling penting disyukuri adalah iman. Kenyataan bahwa iman itu hidup. Dari perjumpaan-perjumpaan dengan umat, keliling, salaman, ngobrol, orang minta doa, dan lain sebagainya, kelihatan bahwa iman itu dihidupi secara konkret, secara nyata,” ujar Mgr Adrianus.

Uskup mengaku, bahkan hingga ke pelosok-pelosok ia merasakan umat menghidupi iman secara konkret.

“Di pulau-pulau yang mungkin tidak setiap minggu bisa Ekaristi, tapi waktu datang, ngobrol-ngobrol, keliatan mereka menjaga. Menghidupkan imannya itu. Macam-macamlah. Dari doa-doa, ibadat, permohonan-permohonan doa, cerita-cerita tentang pengalaman hidup. Saya kira keliatan sekali bahwa iman itu dihayati secara konkret. Memberi inspirasi dan kekuatan. Itu saya kira modal paling penting,” tandasnya.

Titipkan Harapan Membangun Komunio

Uskup Keuskupan Pangkalpinang, Mgr. Adrianus Sunarko, OFM (KATEDRALPKP/FENNIE)

Lebih jauh Uskup juga memiliki serangkaian harapan pada umat maupun imamnya.

“Pertama itu harus disyukuri, iman tadi harus dipelihara. Dan sesuai tahun ini, itu juga penting sekali, baik untuk imam maupun umat. Membangun komunio. Mengupayakan betul-betul supaya ada persaudaraan satu sama lain. Karena kalau tidak, potensi-potensi yang dimiliki kurang maksimal menghasilkan buah. Artinya banyak bakat, kemampuan yang dimiliki pribadi-pribadi, baik imam maupun umat. Sesuai dengan tahun ini juga. Hanya bagaimana caranya supaya kerjasama satu sama lain, membangun komunio. Kalau bisa lebih bagus lagi mungkin potensi-potensi yang ada dimaksimalkan,” harap Uskup.

Uskup melanjutkan, kedua yang agak khusus, berkaitan dengan pandemi.

“Semoga bisa menjadi pertanyaan juga bagi kita. Erat kaitannya juga dengan komunio itu. Kebiasaan atau kepekaan untuk saling menolong. Bela rasa. Saya tidak tahu bagaimana selama ini dengan pandemi di tingkat paroki atau di tingkat KBG. Apakah keliatan bahwa orang secara spontan mau saling menolong satu sama lain atau tidak,” ujar Uskup sembari berharap mudah-mudahan itu juga menjadi ciri ke depan.

“Komunio dalam arti khususnya kepekaan pada penderitaan orang lain. Mudah-mudahan itu juga berkembang makin subur,” pesannya.

Mengaku menjalani kehidupan yang jauh berbeda antara menjadi dosen dan uskup, kini Mgr Adrianus lebih banyak belajar dari situasi yang baru.

“Pengetahuan sekarang bukan didapat dari buku-buku, karena makin jarang baca buku, tetapi dari kehidupan. Ngobrol, ketemu langsung dengan orang. Sangat beragam. Ketemu dengan orang-orang yang beraneka-ragam profesi, latar belakang, pekerjaan. Itu dari segi orang-orang yang dijumpai. Pekerjaan yang dihadapi juga lingkupnya luas. Ada masalah paroki, ada soal sekolah, ada rumah sakit, ada hal–hal sosial. Jadi harus ke mana-mana. Kalau dulu hanya mengajar dan baca buku,” imbuhnya.

Kini seperempat abad sudah perjalanan Imamat Mgr. Adrianus. Kata orang, sekali layar terkembang, pantang biduk surut ke pantai. Proficiat atas ulang tahun imamat yang ke-25 untuk Uskup kami tercinta, Prof. DR. Mgr. Adrianus Sunarko, OFM. Ad multos annos. Doa kami menyertai. (katedralpkp)

Penulis: caroline_fy
Editor : caroline_fy

 

———————————-


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •