Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Sabtu Pekan Biasa XV tahun A
Mi 2:1-5: Mzm 10:1-2.3-4.7-8.14:: Mat 12:14-21
Buluh yang Patah Terkulai Tidak Akan Diputuskan-Nya, dan Sumbu yang Pudar Nyalanya Tidak Akan Dipadamkan-Nya

Tuhan Yesus menunjukkan diri-Nya sebagai Sang Penyelamat bagi semua orang dan tempat perlindungan bagi semua orang yang berharap kepada-Nya. Dalam bacaan suci hari ini, St. Matius penginjil mengisahkan bahwa akibat tanda-tanda heran yang dilakukan-Nya, banyak orang menjadi percaya dan mengikuti-Nya dari dekat. Ia menyembuhkan segala penyakit yang mereka derita. Ia rela merendahkan diri-Nya melarang mereka untuk tidak memberitahukan kepada orang lain tentang segala mukjizat yang dilakukan-Nya.

Dia adalah Hamba Yahwe yang rendah hati dan menderita demi keselamatan semua orang.  Yesus mengutip himne pertama tentang Hamba Yahwe yang menderita di dalam Kitab nabi Yesaya: “Lihatlah itu hamba-Ku yang Kupilih, yang Kukasihi, yang kepada-Nya jiwa-Ku berkenan. Roh-Ku akan Kucurahkan atas Dia, dan Ia akan memaklumkan hukum kepada sekalian bangsa. Ia tidak akan berbantah dan tidak akan berteriak, suara-Nya tidak terdengar di jalan-jalan. Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya, tidak akan dipadamkan-Nya, sampai Ia akan menjadikan hukum itu menang. Kepada-Nyalah semua bangsa akan berharap.” (Mat 12: 18-21; Yes 42:1-4).

Himne Hamba Yahwe yang menderita ini terpenuhi dalam diri Yesus Kristus. Dialah wajah kerahiman Allah Bapa bagi semua orang. Namun Injil juga mengisahkan bahwa, banyak orang Farisi bersekongkol untuk membunuh-Nya. Apakah Yesus melawan mereka? Tidak.

Ia mengetahui rencana yang ada dalam hati mereka sehingga Ia menyingkir darinya. Sebenarnya, dengan kuasa yang ada pada-Nya, Yesus bisa saja melakukan sesuatu untuk menyingkirkan mereka. Tapi Yesus mengetahui dan memahami bahwa orang-orang Farisi itu adalah orang-orang yang lemah secara rohani. Mereka tidak hidup menurut hukum Tuhan yang mereka ajarkan. Mereka ibarat buluh yang patah terkulai, ibarat sumbu yang pudar nyalanya. Ia tidak “mematahkan” atau “memadamkan”, karena tujuan kedatangan Yesus adalah untuk menyelamatkan, bukan melenyapkan.

Allah adalah Penguasa yang lemah lembut, yang tetap menghendaki kebenaran, yang jatuh dalam dosa tidak dibinasakan-Nya, tetapi justru direngkuh-Nya agar selamat. Kelemah-lembutan dan kebaikan Allah itu dinyatakan dengan sabda, ”Buluh yang patah terkulai tidakakan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya, sampai Ia menjadikan hokum itu menang” (Mat. 12:20).

Maka kita dipanggil untuk terlibat dalam menghadirkan kasih dan kerahiman Tuhan kepada sesama yang lain. Marilah kita berjalan dengan saudara-saudari yang lain dalam jalan cinta kasih Allah. Kita dipanggil untuk menempuhnya setiap hari dengan kesetiaan dan sukacita. Inilah jalan belaskasih di mana kita menjumpai banyak saudara-saudari kita, yang mencari seseorang untuk menggandeng dan menjadi teman seperjalanan, membantunya menegakkan kembali buluh harapan yang patah terkulai, dan menjaga sumbu iman dan kasih agar tidak padam/ tetap bernyala dan semakin bernyala serta menjauhkan diri dari sikap saling menyingkirkan satu dengan yang lain.

Mikha mengatakan: celakalah orang-orang yang merancang kedurjanaan dan merencanakan kejahatan di tempat tidurnya (Mi. 2:1). Tuhan akan melakukan keadilan sesuai dengan kehendak-Nya.(*)

Renungan oleh
RD Laurentius Yustinianus Ta’Laleng


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •