Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Renungan Harian, Kamis, 23 Juli 2020
MINGGU BIASA 16
Yer 2 : 1-13, 7-8, 12-13
Mat 11 : 25
Mat 13 : 1-17

Saudara-saudari terkasih,

Dalam kebudayaan kita, kita mengenal kata petuah. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ‘petuah’ memiliki dua arti. Pertama, keputusan atau pendapat mufti (tentang masalah agama Islam); fatwa. Kedua, nasihat orang alim, pelajaran (nasihat) yang baik. Ada banyak cara menyampaikan petuah. Ada yang menyampaikan petuah to the point, langsung tanpa basa basi.

Ada yang menyampaikan dengan gaya bahasa yang berbunga-bunga. Ada yang menyampaikan dengan kiasan. Ada yang menyampaikan dengan pantun. Ada juga yang menyampaikan dengan perumpamaan-perumpamaan. Pilihan tentang cara bagaimana nasihat disampaikan biasanya berkaitan dengan beberapa alasan. Bisa karena budaya. Ada budaya yang kalau menyampaikan dengan terus terang tanpa basa basi dianggap sopan, sementara di budaya dan kebiasaan yang lain malah dianggap tidak sopan. Bisa juga sebagai gaya pengajaran tertentu dengan pertimbangan pesannya lebih mudah dimengerti kalau disampaikan dengan cara yang tepat.

Injil hari ini mengisahkan murid-murid yang bertanya kepada Yesus, “mengapa Engkau berkata-kata kepada mereka dalam perumpamaan?” Dari sini kita melihat ada dua kelompok yang mendengarkan ajaran Yesus. Kelompok pertama adalah yang ‘diberi karunia untuk mengetahui Kerajaan Surga’ (Mat. 13:11a). Kelompok kedua adalah ‘yang tidak [diberi karunia untuk mengetahui Kerajaan Surga]’ (Mat. 13:11b).  Kelompok pertama diberi (lagi) sehingga berkelimpahan. Sedangkan kelompok kedua tidak mempunyai dan apa pun juga yang ada padanya akan diambil.

Yesus kemudian mengemukakan alasan kenapa Dia berkata-kata dalam perumpamaan, yaitu karena “… sekalipun melihat, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mendengar dan tidak mengerti” (Mat 13: 12). Murid-murid disebut berbahagia karena matanya melihat dan telinganya mendengar.

Saudara-saudari terkasih,

Menjadi murid Yesus adalah karunia istimewa, karena menjadi orang pilihan yang diberi karunia mengetahui Kerajaan Surga. Ini menuntut syarat mata dan telinga kita selalu terarah pada (Sabda) Tuhan. Mata yang senantiasa terarah dan memandang Tuhan menjadikan kita orang-orang yang berkelimpahan dan senantiasa diberi lebih. Telinga yang senantiasa terarah dan mendengarkan Tuhan juga demikian. Jika mata kita terarah dan memandang Tuhan, telinga kita terarah dan mendengar Tuhan, maka kita pun akan memiliki “mata” dan “telinga” yang lain dalam memandang dan mendengarkan sesama. Pada mata dan telinga yang seperti inilah benih-benih sabda Tuhan akan bertumbuh dan berkembang dengan subur serta menghasilkan buah berlimpah. (***)

Oleh : RD Hans Jeharut


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •