Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Renungan Harian, Rabu (29 Juli 2020)

Pesta St. Marta
Bacaan1 : 1 Yoh 4: 7 – 16
Injil : Yoh 11 : 19 – 27 atau Luk 10 : 38 – 42

Saudara- saudari terkasih dalam Kristus,

Hari ini Gereja Kudus memperingati Pesta St. Marta, saudari Lazarus dan Maria. Ketiga bersaudara ini mempunyai relasi yang dekat dengan Yesus. Kedekatan yang kita ketahui dari kehadiran Yesus di tengah-tengah keluarga ini di Betania, baik ketika mendengar kabar Lazarus sakit (Yoh 11 : 1), maupun ketika dalam perjalanan ke Yerusalem Yesus singgah di rumah mereka (Luk 10: 38). Marta mendapat perhatian khusus karena dalam kedua kisah ini dia tampil aktif. Penampilan yang kemudian menjadi alasan kita menyimpulkan bahwa Marta adalah tipikal seorang yang aktif, ceplas-ceplos, sibuk bekerja, seorang pelayan yang rajin.
Sangat kontras dengan Maria – saudarinya – yang lebih tenang dan banyak mendengar.

Dalam Injil Yohanes 11 : 19 – 27 (versi panjangnya 11 : 1 – 44) dikisahkan saudara mereka Lazarus yang sakit lalu meninggal. Ketika Lazarus sakit, Marta dan Maria mengirim kabar kepada Yesus, namun Yesus baru tiba Ketika Lazarus sudah empat hari dalam kubur. Ketika Yesus tiba Marta yang pergi mendapatkan-Nya, sedangkan Maria tinggal di rumah.

“Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati. Tetapi sekarang pun aku tahu, bahwa Allah akan memberikan kepada-Mu segala sesuatu yang Engkau minta kepada-Nya” (Yoh 11 : 21 – 22). Dalam Injil Lukas 10 : 38 – 42 dikisahkan peristiwa ketika Yesus singgah di Betania. Marta disebutkan “sibuk sekali melayani’, bahkan ia berkata kepada Yesus, “Tuhan tidakkah Tuhan peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantuaku!” (Luk10 :40)
Dari kedua kisah di atas kita bias melihat tipikal Marta : aktif, berani bicara, sibuk melayani dan frontal.

Saudara – saudari terkasih dalam Kristus,

Dalam tradisi hidup religious Katolik, kita mengenal dua cara hidup membiara, yakni cara hidup aktif dan cara hidup kontemplatif. Cara hidup aktif biasanya diperlihatkan melalui karya-karya dan pelayanan yang langsung bersentuhan dan berinteraksi dengan sesama, seperti karya kesehatan, pendidikan di sekolah, karya-karya sosial (panti asuhan anak-anak, panti jompo) dan sebagainya. Sedangkan cara hidup kontemplatif dicirikan dengan waktu yang sebagian besar dipakai untuk berdoa. Kerja fisik hanya semata-mata untuk menunjang.

Para religious aktif (imam, frater, bruder dan suster) umumnya mudah kita jumpai dan kita kenal, sedangkan para religious kontemplatif agak jarang. Selain karena jumlahnya sedikit juga karena tidak semua keuskupan mempunyai biara kontemplatif. Tahun 2016, di sela-sela acara Indonesian Youth Day di Menado, saya mengajak OMK dari Keuskupan Pangkalpinang mengunjungi salah satu Biara Susteran Kontemplatif di Kakaskasen. Sebagian besar anak-anak OMK belum pernah melihat para suster kontemplatif. Mereka tinggal, hidup dalam biara hamper seumur hidup. Aktifitas keluar sangat terbatas dan hanya untuk urusan tertentu saja. Mereka berdoa tujuh kali satu hari! Saat ke Kakaskasen itu kami bertemu suster yang sudah sangat sepuh, hampir sembilan puluh tahun. Dia bercerita dia sangat bahagia bias berdoa dan kontemplasi sepanjang hari bagi umat Allah.

Marta – jika dibandingkan dengan cara hidup ini – memilih untuk ‘hidup aktif”, sementara Maria – saudarinya – lebih kontemplatif. Dalam kehidupan sehari-hari, sisi aktif dan kontemplatif ini bisa silih berganti kita lakukan. Ada saatnya seperti Maria, kita harus aktif bekerja, banyak bertanya dan bicara serta sibuk melayani, namun ada saat di mana kita juga harus hening, tenang dan lebih banyak mendengar.

Yesus mengasihi Marta, Maria dan Lazarus (Yoh 11 : 5). Kita menghormati Marta karena kerinduan kita terdalam sebagai murid-murid dan pengikut Kristus adalah bahwa kita bias menerima Yesus dalam hidup kita, di rumah kita, di tengah-tengah keluarga kita serta boleh melayani Tuhan dan mengadakan perjamuan dengan-Nya. Marta mengalami semua itu dalam hidupnya : ia menerima Kristus dalam rumahnya dan melayani Tuhan serta makan bersama-Nya dalam perjamuan.
Semoga pengalaman Marta menjadi pengalaman kita semua.
Santa Marta doakanlah kami…. (*)

Renungan oleh:
RD Hans Jeharut.


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •