Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Renungan Harian, Kamis (30 Juli 2020)
Pekan Biasa XVII
Bacaan : Yer 18:1-6: Mzm: 146:2abc.2d-4.5-6: Mat 13:47-53

Bacaan Pertama, Nabi Yeremia menyampaikan kepada Tuhan pengalaman pergumulannya dan penderitaannya ketika berhadapan dengan umat Israel. Banyak orang membenci dan ingin menghilangkan nyawanya karena tugasnya sebagai nabi Alah. Ia bahkan bertanya kepada Tuhan: “Mengapa penderitaanku tidak berkesudahan, dan lukaku sangat payah, sukar disembuhkan?” (Yer 15:18).

Yeremia berkeluh kesah kepada Tuhan dan ia percaya bahwa Tuhan melalui sabda-Nya akan meneguhkan dan menguatkannya. Terhadap pengalaman Yeremia yang keras ini, Tuhan berjanji akan selalu hadir dan menyempurnakan hidupnya. Tuhan berkata: “Pergilah dengan segera ke rumah tukang periuk! Di sana Aku akan memperdengarkan perkataan-perkataan-Ku kepadamu.” (Yer 18: 2)

Di sana, Yeremia belajar dari tukang priuk untuk memahami cara kerja Tuhan bagi umat-Nya. Seperti bejana itu mudah retak atau pecah sebelum menjadi sempurna, maka tukang periuk itu dengan sabar membentuknya kembali hingga menjadi bejana yang indah, demikian pula Tuhan berkuasa menjadikan apa saja menurut kuasa dan rencana-Nya (Yer 8;4).

Dan Tuhan berkata: “Masakan Aku tidak dapat bertindak kepada kamu seperti tukang periuk ini, hai kaum Israel!, demikianlah firman Tuhan. Sungguh, seperti tanah liat di tangan tukang periuk, demikianlah kamu di tangan-Ku, hai kaum Israel!” (Yer 18:6). Nabi Yeremia sungguh-sungguh mendapat peneguhan dari Tuhan. Tuhan menyadarkan-Nya bahwa hanya Dialah yang selalu mencipta baru, hari demi hari. Yang rusak diperbaiki sehingga menjadi baru di hadirat-Nya.

Demikian pula keberadaan kita hanyalah bagaikan bejana tanah liat di tangan tukang periuk. Kita mudah retak dan pecah oleh berbagai persoalan hidup, oleh karena relasi kita dengan sesama, oleh tantangan dan cobaan, oleh penderitaan dan kesakitan kita. Dalam situasi itu, ingat bahwa Tuhan sedang melihat kita, Tuhan sedang menyertai kita, Tuhan sedang mendengar kita, sedang mencurahkan kasih-Nya yang sempurna bagi hidup kita dan bahkan Dia sedang membentuk kita untuk sebuah rencana yang telah Dia tetapkan, yaitu rencana yang indah dan sempurna bagi kita, bagi kemuliaan-NYA dan bagi kebaikan sesama.

Maka marilah kita mempercayakan sungguh kuasa Tuhan atas kehidupan kita. Biarkanlah diri kita berada di atas tangan-Nya yang kudus, biarlah Ia juga membakar kita dengan api kerahiman dan belas kasih-Nya. Dan pada akhirnya kita akan menjadi bejana yang indah bagi-Nya dan sesama. Yang penting adalah bertobat dan menyadari bahwa Allah hadir menyertai kita, dan menyempurnakan kelemahan dan dosa kita. Namun bila orang tidak merasakan kehadiran Tuhan di dalam dirinya, maka orang itu pun tidak akan bertobat.

Penginjil Matius dalam injil hari ini kembali mengisahkan perihal Kerajaan Allah, yang dilukiskan seperti pukat yang dilabuhkan di laut. Pukat itu menjaring semua jenis ikan (Mat 13:47). Dan kemudian dilakukan pemisahan ikan baik dan yang buruk: yang baik dimasukan dalam pasu dan yang tidak baik dibuang, yang merupakan bahasa simbolis untuk mengatakan tentang pengadilan terakhir. Di mana orang jahat akan dicampakkan ke dalam dapur api yang menyala dan kekal, sedangkan orang-orang benar akan menikmati kedamaian sejati.

Pada saat itu segala kejahatan akan dihapus selamanya. Kebaikan akan muncul dan bersinar serta menguasai segalanya. Semoga hidup, dan seluruh karya serta rencana kita, kita percayakan kepada Tuhan. Kita percaya Dia akan menjadikan segala-galanya baik dan indah demi kebahagiaan kita. (*)

Renungan oleh:
RD Yustin.


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •