Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Renungan Harian, Jumat (31 Juli 2020).

Salah satu ketakutan dasar manusia kita adalah ketakutan akan penolakan. Kita memiliki kebutuhan dasar yang kuat untuk “menjadi bagian dari”. Kita juga mungkin takut dicemooh  jika kita berbeda dengan orang lain. Untuk itu kita berusaha menyesuaikan diri dengan orang lain, dengan apa kata orang. Seringkali kita rela mengorbankan apa yang kita yakini atau kita imani, agar bisa diterima oleh yang lain.

Injil hari ini menceritakan tentang kunjungan Yesus ke Nazareth. Meski Kapernaum pusat pelayanan-Nya, Yesus tetap menganggap Nazaret kota asal-Nya; kepada orang-orang yang paling dikenalnya – orang-orang yang Dia kasihi. Mereka pikir mereka mengenal-Nya tetapi mereka tidak bisa menerima pengajaran-Nya. Bahkan, mereka begitu tersinggung oleh-Nya sehingga mereka mengusir-Nya ke luar kota dan siap untuk melemparkan-Nya ke sisi bukit. Awalnya Ia disambut hangat, bahkan diundang berkhotbah di sinagoge di tempat asal-Nya. Jemaat yang mendengar khotbah Yesus bahkan sangat takjub oleh perkataan-Nya. Khotbah Yesus disebut sebagai sangat berhikmat (ayat 54).

Apa yang dikotbahkan Yesus di Sinagoga itu? Injil Lukas 4, 16-20 mencatat ini: «Ia datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Alkitab. Kepada-Nya diberikan kitab nabi Yesaya dan setelah dibuka-Nya, Ia menemukan nas, di mana ada tertulis: “Roh Tuhan ada pada-Ku  oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.” Kemudian Ia menutup kitab itu, memberikannya kembali kepada pejabat, lalu duduk; dan mata semua orang dalam rumah ibadat itu tertuju kepada-Nya»

Tetapi apa yang terjadi. « Ketika mereka mendengar hal ini, semua orang di rumah ibadat dipenuhi amarah. Mereka bangkit, mengusirnya ke luar kota, dan menuntunnya ke bukit tempat kota mereka dibangun, dengan maksud melemparkanNya dari tebing». Tragis. Ia ditolak. Itu adalah sebagian dari kenyataan dari hidup Yesus : Hidup-Nya ditandai dengan penolakan sampai saat Ia disalibkan. Namun, Allah menggunakan peristiwa ini untuk menghasilkan kebaikan..

Penduduk Nazaret mengenal keluarga Yesus. Mereka mengenal Yusuf, ayah-Nya seorang tukang kayu (ayat 54-56). Ibu Yesus mereka kenal, bahkan adik-adik Yesus semuanya mereka kenal. Keluarga Yesus mereka kenal secara baik dan intim. Karena latar belakang keluarga Yesus yang bersahaja dan bukan dari keturunan rohaniwan zaman itu, sulit bagi mereka memahami asal usul ajaran Yesus. Mereka berpendapat bahwa orang biasa tidak mungkin mampu berkhotbah dengan hikmat sedemikian. Ajaran yang demikian berhikmat pastilah berasal dari Allah. Mengakui Yesus sebagai nabi saja sulit apalagi menerima-Nya sebagai Anak Allah. Sikap penolakan penduduk Nazaret terhadap Yesus terutama bukan dalam bentuk menolak Yesus secara fisik, tetapi menolak untuk percaya pada Yesus dan tawaran hidup baru yang dibawa-Nya.

Yesus berkata: “Tetapi kenyataannya adalah, ada banyak janda di Israel pada zaman Elia, ketika surga ditutup tiga tahun dan enam bulan, dan ada kelaparan hebat di seluruh negeri; namun Elia tidak dikirim kepada mereka kecuali kepada seorang janda di Sarfat di Sidon. Ada juga banyak penderita kusta di Israel pada zaman nabi Elisa, dan tidak ada dari mereka yang disucikan kecuali Naaman, orang Siria. “Ketika mereka mendengar hal ini, semua orang di rumah ibadat dipenuhi amarah. Mereka bangkit, mengusirnya ke luar kota, dan menuntunnya ke alis bukit tempat kota mereka dibangun sehingga mereka dapat melemparkannya dari tebing. Tetapi dia melewati tengah-tengah mereka dan melanjutkan perjalanannya.”

Kita tahu, bahwa Ajaran Yesus tentang Kerajaan Allah, tentang Dunia Baru sesuai dengan Rencana Pencipta telah ditolak oleh ahli Taurat dan orang Farisi. Penolakan itu rupanya berlanjut. Kali ini penolakan datang dari orang-orang dari kota asalnya sendiri.

Mereka tersinggung, dan bisa saja iri kepadaNya. Sikap seperti ini menunjukkkan adanya kecemburuan dan permusuhan yang menyebabkan hilangnya kepercayaan. Maka Yesus berkata kepada mereka: “Seorang nabi dihormati di mana-mana, kecuali di tempat asalnya sendiri dan di rumahnya.” Dan karena ketidakpercayaan mereka, tidak banyak mujizat diadakan-Nya di situ (Mt. 13, 57-58).

Ya, di mana tidak ada penerimaan atau kepercayaan, orang tidak bisa melakukan apa pun. Prasangka mencegahnya. Yesus sendiri, meskipun bersedia, tidak dapat melakukan apa pun. Yesus dihormati di tempat lain, menunjukan bahwa rasa hormat dapat diberikan kepada siapapun jika tidak ada prasangka atau penilaian mengenai kedudukan, status sosial, pendidikan, dll.

Saudara-saudari terkasih: inilah syarat penting dalam membangun komunio, khususnya menghidupi semangat “ketetanggaan”: memandang setiap pribadi sebagai ciptaan Allah yang bermartabat; dan karena itu pantas diterima dan dihargai.
Pengalaman Yesus ini mengingatkan kita bahwa:
a)      Allah mengundang kita untuk berpandangan dan berelasi secara positif dengan siapa pun;  membawa kabar baik kepada orang-orang miskin; pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang;
b)      Pengalaman Yesus ini mengungkapkan rahmat-Nya. Kita semua telah berdosa. Itu berarti bahwa kita menolak Tuhan. Namun, Dia tidak pernah meninggalkan kita. Sebaliknya, Dia terus menawarkan kita pengampunan. Sebanyak kita menolak Dia, sebanyak itu pula Dia menyambut kita kembali. Sebanyak kita melarikan diri dari Dia, berkali-kali Dia mencari kita. (*)

Renungan Oleh:
RD Benny Balun.

 


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •