Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

ROMA, KATEDRALPANGKALPINANG.COM — Sementara itu Isola memetik bunga, yang akan ia bawakan ke rumah untuk ibu. Bruno putus asa dan kembali ke tempat di mana si kecil berada. Anak itu tidak berada di sana. Hal itu menjengkelkan Bruno yang cepat naik darah. Ia memandang sekeliling dan melihat anaknya. Gianfranco berlutut di depan sebuah gua, mukanya pucat dan dengan pandangan terpaku. Matanya memandang kegelapan gua dan bibirnya bergerak dan dengan bahagia membisikkan: ’’Ibu cantik, Ibu cantik!” .

Dengan sangat hati-hati Bruno mendekati anaknya. Ingin rasanya ia mengguncang anak itu, tapi sesuatu dalam sikap badannya mencegahnya berbuat demikian. Ia bertanya kepada Gianfranco apa yang dikatakannya dan apa yang dilihatnya. Ia tak mendapat jawaban dan anak itu terus memandang ke dalam gua, tangannya dalam sikap berdoa sambil membisikkan: ’’Ibu cantik”.

Bruno tercengang dan sedikit bingung memanggil Isola. Isola meninggalkan bunga-bunga yang telah dipetiknya dan menghampiri gua itu. Kemudian ia pun berlutut. Matanya terbelalak dalam kegembiraan dan ia pun seperti halnya Gianfranco berseru: ’’Ibu cantik, Ibu cantik!”

Bruno sekarang agak panik. Ia memanggil Carlo. Sifat-sifat jahat Bruno sudah diturunkan pada anak ini. Ketika Bruno menanyakan apakah ia juga akan berlutut, ia menjawab dengan sinis. Tapi, ketika disuruh ayahnya untuk melihat ke dalam gua, seketika itu juga Carlo berlutut dan berbisik, ’’Ibu cantik, Ibu cantik!”

Bruno yakin bahwa roh jahat telah menguasai anak-anaknya. Di depannya mereka terpaku pada lutut mereka. Ia berusaha memaksa mereka berdiri, tapi mereka semua tak dapat digerakkan. Bruno menduga bahwa di dalam gua itu bersembunyi seorang pastor yang telah menghipnotis anak-anaknya dan dengan marah ia menerobos ke da­lam. Ternyata tempat itu kosong.

Tuhan Selamatkan Kami

Bruno sekarang benar-benar panik. Ia lari keluar dengan ketakutan dan putus asa. Kemudian sebagai seorang yang murtad, ia melakukan sesuatu yang aneh. Ia mengangkat tangannya ke Surga, kali ini memohon dan berseru: ’’Tuhanku, selamatkanlah kami!”

Begitu selesai berseru, ia melihat dua buah tangan putih sekali dan tembus pandang mendatanginya. Tangan-tangan itu menyentuh wajahnya untuk sedetik dan kemudian ia merasa ada urat yang direnggut dari matanya. Sejenak ia merasakan sakit dan seperti St. Paulus dalam perjalanan ke Damaskus, ia menjadi buta. Ia tak bisa melihat gua itu lagi, juga tak bisa melihat anak-anaknya maupun sekelilingnya.

Salah satu lukisan di rumah Carlo yang mengilustrasikan mata Bruno sempat mendapat sentuhan jari Bunda Maria. (KATEDRALPKP/DOK. RD BENNY BALUN)

Dalam kegelap-gulitaannya, ia hanya bisa melihat setitik sinar yang secara mantap menjadi bertambah besar dan bertambah terang. Jiwa Bruno dipenuhi dengan rasa damai dan kegembiraan yang luar biasa. Sinar itu sekarang menerangi gua dan pusat sinar itu dikelilingi kilauan warna emas. Dalam keadaan seperti itu ia melihat seorang Ibu cantik yang begitu syahdu dan mulia, tak dapat digambarkan dengan kata-kata.

Wanita itu mengenakan mantel hijau yang menutupi kepalanya dan berjurai sampai kakinya yang berdiri di atas bongkahan tanah. Rambutnya hitam. Pakaiannya putih berkilauan dengan ikat pinggang warna merah jambu terikat di sisinya dan dibiarkan terjurai. Di tangannya ia memegang sebuah buku berwarna gelap dan mendekap dadanya. Di sebelahnya, di lantai ada sebuah jubah hitam  dan di dekatnya sebuah salib yang patah. Bunda menunjukkan kepada Bruno, jubah imam, yang selama ini ia aniaya; dan sebuah salib yang pernah ia patahkan (bersama dengan gambar-gambar kudus lainnya, rosario) di rumahnya.

Sekarang Bruno dapat melihat, tetapi suaranya hilang. Ia mencoba untuk menjerit dan mengatakan sesuatu, namun suaranya sama sekali tak keluar dari kerongkongannya. Yang ia dapat lakukan hanyalah memandangi dengan terpesona pada wajah cantik tamu Surgawinya itu. Ia memandang pada Bruno dengan sangat sedih bercampur kekhawatiran seorang ibu. (katedralpkp/bersambung)

Diceritakan kembali oleh:
RD Benny Balun (pribadi yang pernah tinggal bersama anak Bruno, Carlo, selama empat bulan di Roma)


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •