Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

ROMA, KATEDRALPANGKALPINANG.COM — ’’AKULAH YANG ADA DALAM TRI-TUNGGAL MAHA KUDUS”, ”AKULAH PERAWAN WAHYU”. Engkau menyiksa aku. Sudah cukup. Kembalilah pada Umat Kudus, Keluarga Surgawi di dunia. Sembilan Jumat Pertama yang kau lakukan untuk pemulihan Hati Kudus Puteraku sebelum engkau meneruskan jalan sesatmu, telah menyelamatkan engkau!”

Kata-kata ’’Engkau menyiksa aku. Sudah cukup”; tempat yang disucikan oleh kemartiran St Paulus, mengembalikan seorang ke Damaskus dan kata-kata itulah yang diucapkan Tuhan Yesus kepada St. Paulus.
Bruno berlutut di sana tidak bergerak, tak sadar akan keadaan di sekitarnya kecuali penampakan di depannya dan kata- kata Ibu Maria. Kebisuan melanda dirinya dan ia tak mampu mengeluarkan suara apa-apa. Yang dapat ia lakukan hanya mendengarkan, sementara jiwanya yang dikosongkan dari kebencian dan dosa dan suatu perasaan damai yang dalam tak henti-hentinya mengalir masuk.

Tanah tempat Bunda Maria berdiri (di samping box) dan mainan yang saat itu dipakai anak-anak Bruno bermain (dalam box) sebelum menyaksikan penampakan. (KATEDRALPKP/DOK. RD BENNY BALUN)

Ibu Maria berbicara kepadanya selama 01 jam 20 menit. Dan sepanjang waktu itu ia dan anak-anaknya tetap berlutut dengan terpesona sepenuhnya. Anak-anak itu tidak mendengar apa yang dikatakan Ibu Maria, tetapi mereka melihat bibirnya bergerak ketika berbicara kepada ayah mereka. Tetapi demikian luar biasanya kecantikan yang lembut dari mahluk ciptaan Allah yang paling indah ini, sehingga mereka tidak merasa letih, melainkan hanya kegembiraan besar dalam berlutut dan menatap tanpa berkedip pada karya agung Allah ini, Ibu Surgawi mereka dan Ibu-Nya.

Penyembuhan

Rombongan mengunjungi tempat di mana kejadian penampakan Santa Perawan Wahyu terjadi. (KATEDRALPKP/DOK. RD BENNY BALUN)

Bunda Maria menjanjikan kepada Bruno bahwa ia akan memberikan pada tanah di Tre Fontane suatu daya kekuatan yang sama seperti yang telah diberikan kepada air di Lourdes, untuk mukjizat-mukjizat penyembuhan.
A. Sebuah buku karangan Dr. Alberto Alliney berisi bukt-bukti dari pemenuhan janji ini. Nama bukunya ”Gua di Tre Fontane”, dengan prakata oleh Prof. Nicole Pende. Pengarang itu dalam bukunya mengungkapkan bahwa setelah 4 tahun melalui penelitian yang seksama dan ketat, ia dapat memastikan bahwa mukjizat-mukjizat penyem¬buhan benar-benar telah terjadi. Penyembuhan-penyembuhan ini tak dapat diterangkan oleh dokter atau ilmuwan lainnya.

Patung Bunda Maria di dalam goa tersebut (KATEDRALPKP/DOK. RD BENNY BALUN)

B. Seorang prajurit Neopolitan diopname di rumah sakit di Celio. Ia menderita tumor otak yang sudah tak bisa dilakukan pembedahan dan para dokter sudah angkat tangan. Orang itu sedang sekarat. Dalam kecemasan, Ibu Superior berpaling kepada Sang Perawan Wahyu. Malamnya ia mengunjungi pasien itu untuk menghiburnya. Kemudian ia menaburkan tanah dari gua Tre Fontane di kepalanya dan kemudian pergi pasien itu tertidur dan bermimpi. Dalam mimpinya ia melihat Sang Perawan Wahyu yang mengenakan mantel hijau dan ia berkata padanya bahwa ia telah sembuh. Ia bangun dan menjerit: ”Aku sembuh!” Pemeriksaan medis menguatkan fakta bahwa ia benar-benar sembuh, tapi ilmu kedokteran tak dapat menerangkan bagimana hal itu dapat terjadi! Prajurit yang penuh terima kasih itu bersama teman-teman resimennya membeli sebuah patung Sang Perawan Wahyu. Kemudian mereka mengatur suatu prosesi tanda terima kasih ke gua dan menempatkan patung itu di dalam gua. Patung itu sekarang telah digantikan oleh patung yang sekarang dihormati di gua itu. (katedralpkp/bersambung)

Diceritakan kembali oleh:
RD Benny Balun (pribadi yang pernah tinggal bersama anak Bruno, Carlo, selama empat bulan di Roma)


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •