Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

ROMA, KATEDRALPANGKALPINANG.COM — Perang Saudara Spanyol tahun 1935 adalah sejarah yang dalam cerita ini ikut disebut, karena Bruno dinas di dalamnya sebagai suka relawan. Keterlibatannya dalam perang itu bukanlah untuk cita-cita yang mulia. Ia ikut berperang di Spanyol. Di sinilah ia berkenalan dengan seorang Jerman penganut agama lain yang ekstrim, yang sangat membenci gereja Katolik. Orang ini segera menanamkan benih-benih kebencian dan pertentangan agama di dalam hati Bruno yang lagi dilanda kekecewaan.

Ia berhasil meyakinkan Bruno bahwa Paus bukan saja musuhnya buruh-buruh yang melarat, tapi ia juga binatang (Ular Naga) yang disebut dalam Kitab Wahyu. Pengaruh orang tersebut menghilangkan iman Bruno akan Ekaristi Suci dan menumbuhkan benih kebencian yang hebat pada Ibu Maria. Kalau sebelumnya adalah anak yang jahat, sejak saat itu, Bruno menjadi lebih jahat lagi; Ia menjadi musuh Gereja yang fanatik. Ia berencana membunuh Paus; dan karena itu Ia membeli Belati, dan pada gagang belati itu ia menulis: “untuk kematian Sri Paus”.

Belati yang disiapkan Bruno untuk membunuh Paus. (KATEDRALPKP/DOK. RD BENNY BALUN)

Rencana jahat dibawanya pulang. Ia tak bermaksud untuk membicarakannya dengan keluarganya. Ia hanya memutuskan untuk menakut-nakuti dan menggertak mereka supaya meninggalkan kepercayaan Katolik. Ia memaksa Istri dan anak-anaknya mengikuti jejaknya.

Istrinya mengalami siksaan Api Penyucian. Ia orang Ka­tolik yang baik dan karena itu ia menolak tawaran Bruno. Bibirnya pecah karena tinju Bruno. Semua gambar-gambar suci di dalam rumah, dihancurkan Bruno. Ia mematahkan salib yang digantung di rumah dengan lututnya. Ia menyuruh anak-anaknya meludahi pastor-pastor. Ia mencemoohkan kehadiran Yesus dalam Sakramen Maha Kudus. Ia melarang segala doa yang ditujukan pada Bunda Maria dan me­nyuruh mereka menghina Paus dan mengabaikan ajaran Gereja.

Istrinya yang tidak bahagia, Iolanda, akhirnya membuat suatu janji dengan putus asa. la sangat berbakti kepada Hati Kudus Yesus. Ia berjanji pada Bruno; bila Bruno mau menemaninya pergi ke Gereja pada sembilan kali Jumat Pertama, maka ia akan mempertimbangkan untuk keluar dari Gereja Katolik. Bruno setuju.

Jalan Tuhan memang penuh rahasia. Waktunya belum tiba. Bruno tetap tak berubah setelah selesai melaksanakan sem­bilan kali Jumat Pertama. Dan Bruno berhasil membawa isteri dan keluarganya keluar dari Gereja Katolik.

Saatnya Tiba : Hari Penampakan

Salah satu lukisan di rumah Carlo yang mengilustrasikan penampakan Bunda Maria di dalam goa kepada Bruno dan anak-anak. (KATEDRALPKP/DOK. RD BENNY BALUN)

Tanggal 12 April 1947 adalah hari Sabtu dalam oktaf Paskah. Ketika itu Bruno Cornacchiola sudah menjadi pendosa hebat, yang fanatik membenci Gereja, terutama Bunda Maria. Pada hari itu ia memutuskan menyelesaikan pidato kecamannya terhadap Ratu Surgawi. Kegelisahan untuk menyusun pidato penghinaan dan kecaman ini mendorong ia mencari tempat terbuka. Di situ ia tak terganggu oleh pekerjaan rutin di rumah, ia merencanakan untuk mencurahkan segala kebencian dan kejengkelan hatinya yang tersesat itu di atas kertas. la hendak pergi ke pantai di Ostia dengan ketiga anaknya. Isola puteri sulung berumur 10 tahun, Carlo berumur 7 tahun, dan Gianfranco si bungsu baru berusia 4 tahun. Tapi Bruno ketinggalan kereta api dan memutuskan pergi ke Tre Fontane saja, suatu lingkungan yang cukup berarti.

Rupa-rupanya ia tidak menyadari bahwa Tre Fontane adalah tanah keramat dan suci. Bruno hanya mengenal Tre Fontane sebagai tempat maksiat; pria dan wanita menggunakan tempat terpencil ini un­tuk memuaskan nafsu. Namun di sinilah tempat Rasul Paulus dipenggal dan para martir dibunuh di sini. Ke tempat suci inilah Bruno datang dalam keadaan murtadnya dengan klenik jahatnya dan tulisan penghinaannya untuk mencemarkan Ciptaan Tuhan yang paling indah. Ia menyuruh anak-anaknya bermain dengan bola karet kecil dan memulai tugas jahatnya.

Salah satu lukisan di rumah Carlo yang mengilustrasikan Bruno dan anak-anak sedang menikmati liburan. (KATEDRALPKP/DOK. RD BENNY BALUN)

Bolanya hilang. Karena tak mau diganggu, ia memutuskan untuk mencari bola yang hilang itu untuk anak-anaknya dan kalau sudah ketemu, akan kembali ke pekerjaannya. Gian­franco kecil duduk di atas sebuah akar poho dengan sebuah majalah di tangan, Isola disuruh menjaganya, kemudian Bruno dan Carlo mulai mencari bola. Bolanya tak ditemukan. (katedralpkp/bersambung)

Diceritakan kembali oleh:
RD Benny Balun (pribadi yang pernah tinggal bersama anak Bruno, Carlo, selama empat bulan di Roma)


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •