Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

ROMA, KATEDRALPANGKALPINANG.COM — Bunda Maria menampakkan diri pada tahun 1830 kepada Suster Catherine Laboure. Di Lourdes pada tahun 1858, Bunda Maria datang kepada St Bernadette, seorang anak yang sederhana dan saleh. Di Fatima pada tahun 1917, Ia memperlihatkan diri kepada tiga anak. Penampakan-penampakan itu memberi kesan bahwa bahwa Bunda Maria hanya menampakkan dirinya ke­pada orang-orang yang hidup suci, namun pengalaman Penampakan Santa Perawan Wahyu kepada Bruno Cornacchiola punya cerita unik.

Bruno Cornacchiola lahir tanggal 09 Mei 1913 di Roma, di kampung yang amat miskin dan kotor dalam sebuah keluarga yang sangat miskin, seolah-olah tidak ada rahmat Tuhan untuk mereka. Keluarga, dengan lima orang bersaudara ini tidak mengenal Tuhan. Bruno Cornacchiola tumbuh menjadi anak sangat nakal.

Salah satu lukisan di rumah Carlo yang mengilustrasikan alkohol seolah-olah telah menjadi “tuhan” bagi Bruno. (KATEDRALPKP/DOK. RD BENNY BALUN)

Alkohol seolah-olah telah menjadi “tuhan” untuk laki-laki bernama Carnacchiola ini. Istri dan anak-anaknya tak saja terlantar, tapi juga diperlakukan dengan sangat kejam. Ibunya Bruno harus bekerja untuk menghidupi keluarganya. Ibunya sama sekali tak beriman dan ini disayangkan. Tanpa ada cinta kepada Tuhan, tak mungkin ada cinta untuk sesama. Yang ada hanyalah kebencian. Itulah pengalaman Bruno. Di dalam keluarga yang penuh dengan cekcok, kekerasan dan kebencian inilah Bruno Cornacchiola dilahirkan.

Ketika ia besar, ia menjadi anak jalanan yang paling jahat. Bruno adalah produk murni dari keluarga yang tak mengenal Tuhan, tak mengenal cinta dan sangat egois. Boleh dikatakan neraka adalah tempatnya. Akan tetapi kasih Allah Maha Rahim mampu menjadikan apa yang tak mungkin menjadi mungkin.

Uluran Belas Kasih

Uluran belas kasih Tuhan secara jelas menyentuh Bruno yang waktu itu berumur 14 tahun. Bruno adalah jiwa yang masih muda dalam perjalanan yang sesat dan Gembala yang baik menyelamatkan domba kawanan-Nya ini. Pada suatu pagi Bruno tertidur di tangga sebuah gedung. Pada saat itu seorang wanita yang saleh bernama Maria Farsetti mau menghadiri Ekaristi pagi dan lewat di tempat itu. Melihat gelandangan muda usia yang terlantar ini, hatinya tersentuh dan membangunkannya.

Salah satu lukisan di rumah Carlo yang mengilustrasikan wanita bernama Maria Farsetti menyentuh hati Bruno. (KATEDRALPKP/DOK. RD BENNY BALUN)

Anak melarat itu curiga. Ia bahkan bersikap kasar terhadap wanita itu. Tapi sifat lemah lembut wanita itu, yang seperti semua kebaikan adalah berasal dari rahmat Allah menembus perisai agresif yang meliliti anak itu. Rahmat ini menyentuh hati Bruno dan mungkin untuk pertama kali dalam hidupnya, ia per- caya. Brunopun diikutsertakan untuk mengikuti pelajaran persiapan Sakramen. Sebagai hasilnya, Bruno boleh menerima Komuni pertama dan Sakramen Penguatan.

Setan tentunya tak semudah itu melepaskan pegangannya pada jiwa anak muda ini. Dengan hati gembira Bruno pulang un­tuk menyampaikan kabar baik ini kepada ibunya. Ia menceritakan tentang Komuni Suci dan Sakramen Penguatannya. Menyedihkan bahwa kabar ini ti­dak membuat ibunya senang. Wanita itu membalas ungkapan sesalnya dengan bentakan, malahan menendang anaknya. Setan memang cepat bertindak untuk membangkitkan amarah anak muda ini. Bruno melemparkan buku doanya dan rosario dibuangnya ke tong sampah, meninggalkan rumah menuju Kota Rietti. (katedralpkp/bersambung)

Diceritakan kembali oleh:
RD Benny Balun (pribadi yang pernah tinggal bersama anak Bruno, Carlo, selama empat bulan di Roma).


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •