Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Renungan Harian
Selasa, 04 Agustus 2020

Pesta St. Yohanes Maria Vianney

Bacaan1 : Yer 30 : 1-2.12-15.18-22
Injil : Mat 15 : 1-2.10-14
 

Saudara – saudari yang terkasih dalam Kristus,

Hari ini kita memperingati Pesta St. Yohanes Maria Vianney. Yohanes Maria dilahirkan dalam keluarga petani di Lyon, Perancis pada 8 Mei 1786. Pada usia 18 tahun ia meminta ijin kepada ayahnya untuk menjadi imam. Keinginan yang baru dikabulkan ayahnya dua tahun kemudian, saat ia berusia 20 tahun. Sebagai seorang seminaris, calon imam, Yohanes Maria tidak tergolong siswa yang cerdas. Boleh dikatakan ia menyelesaikan pendidikannya sebagai calon imam dengan susah payah dan hasil yang pas-pasan. Kendati tidak cemerlang secara intelektual, namun Yohanes Maria sangat menonjol dalam kesalehan hidup. Ia kemudian ditahbiskan sebagai imam dan ditempatkan di sebuah desa bernama Ars di Perancis Selatan. Sampai akhir hayatnya ia hanya berkarya di tempat itu dalam kurun waktu yang panjang : 40 tahun.

Ia kemudian dikenal sebagai Pastor dari Ars. Selama empat puluh tahun berkarya di paroki desa, Yohanes Maria dikenal sebagai seorang pengkotbah yang baik. Kotbah-kotbahnya sederhana namun mengena. Ia juga dikenal sebagai Bapa Pengakuan yang saleh. Hal mana membuatnya dikenal bahkan sampai di luar Ars. Orang dating dari mana-mana untuk mengaku dosa padanya dan menerima bimbingan rohani. Ia meninggal 04 Agustus 1859, dalam usia 73 tahun. Tanggal 08 Januari 1905 ia dibeatifikasi oleh Paus Pius X dan dikanonisasi pada 31 Mei 1925 oleh Paus Pius XI.

Saudara – saudari terkasih dalam Kristus,

Riwayat hidup St. Yohanes Maria Vianney mengajarkan kita banyak hal. Pertama, panggilan Tuhan itu suatu misteri. Yohanes Maria ingin menjadi imam, tetapi ayahnya tidak setuju. Walaupun demikian toh akhirnya terjadi juga. Bukan rencana manusia, tapi kehendak Allah. Di mata manusia, para pengajar seminari, Yohanes Maria Vianney bukan seorang yang cemerlang secara intelektual. Bahkan dianggap bodoh. Bahkan mungkin karena catatan itu pula ia ditugaskan menjadi imam di desa, di antara orang-orang sederhana dengan pemikiran sederhana pula. Namun sekali lagi, apa yang dilihat manusia bukan itu yang dilihat Allah. Ternyata imam bodoh dan sederhana ini menjelma menjadi seorang pengkotbah yang mengagumkan dan pembimbing rohani yang saleh.

Kedua, dalam panggilan, Allah tidak memanggil orang-orang yang mampu, baik secara intelektual maupun kategori-kategori yang lain. Sebaliknya Allah memampukan orang-orang yang Dia panggil. Allah memanggil Yohanes Maria Vianney dan Dia memampukan Yohanes Maria Vianney menjadi imam yang saleh dan setia.

Ketiga, panggilan sebagai imam bukanlah soal prestasi manusiawi dengan sederet prestasi dan monumen-monumen yang bias dikenang. Yohanes Maria Vianney seumur hidupnya sebagai imam hanya berkarya di satu paroki, di satu kampung. Ia – karena kesederhanaannya juga – tentulah tidak melakukan hal-hal spektakuler atau mencatat prestasi-prestasi gemilang luar biasa. Dalam diri Yohanes Maria Vianney, ungkapan Bunda Teressa dari Kalkuta kita temukan secara cemerlang: kita dipanggil bukan untuk melakukan hal-hal lua rbiasa, kita dipanggil untuk melakukan hal-hal biasa dengan cara luar biasa. St. Yohanes Maria Vianney melakukan hal-hal biasa : misa, menerima pengakuan dosa, berkotbah, menjadi pembimbing rohani. Yang membuatnya kudus : ia melakukan hal-hal biasa tersebut dengan cara luar biasa!

Yesus mengecam orang-orang Farisi. Dia menyebutnya, “… mereka itu orang buta yang menuntun orang buta. Jika orang buta menuntun orang buta, pasti keduanya jatuh ke dalam lubang.” (Mat 15 : 14). St. Yohanes Maria Vianney dianggap “batu sandungan” – skandal – karena ‘kebodohannya secara intelektual’, namun ia ternyata dipanggil Tuhan dan dipakai untuk mencelikkan kebutaan rohani orang-orang yang dating kepadanya.

Ia membuka kebutaan rohani umat yang tidak bisa melihat rencana keselamatan Allah, menuntun mereka untuk menemukan Allah lewat kotbah-kotbah dan bimbingan rohaninya. St. Yohanes Maria Vianney adalah Santo Pelindung Para Imam. Marilah kita berdoa juga untuk para imam kita, agar tetap setia dan menjadi gembala yang baik. (*)

Oleh:
@hansjeharutpr


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •