Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Zona nyaman adalah ungkapan paling sederhana tentang orang yang tidak mau berubah atau ungkapan yang menyatakan bahwa orang sudah terbiasa nyaman karena mampu mengontrol lingkungan sehingga dia jarang mengalami tekanan yang mengakibatkan stres. Jadi sesungguhnya semua hal yang membuat kita seolah tidak beranjak meninggalkannya disebut zona nyaman. Akibat negative dari “terjebak pada zona nyaman” adalah orang tidak mau bergerak maju bahkan untuk memulai sesuatu yang baru pun dia tidak sanggup karena baginya pilihan itulah yang membuat dia merasa nyaman.

Hari ini kita merayakan pesta Yesus menampakan kemuliaan-Nya. Perayaan besar dalam Gereja ini mengungkapkan tentang sejatinya Yesus di hadapan Bapa-Nya. Peristiwa ini juga menyatakan kepada para Rasul bahwa mengimani Yesus sebagai Tuhan dan jurus selama membawa mereka kepada kehidupan yang sempurna. Peristiwa itu sungguh mengungkapkan tentang kemuliaan-Nya : Yesus bersama-sama para murid yang dikasihiNya : Petrus, Yakobus dan Yohanes naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di atas gunung itulah Yesus berubah rupa, wajahNya bercahaya seperti matahari dan pakainnya menjadi putih seperti terang ( Mat 17: 3).

Namun yang  membuat para murid itu terkagum-kagum adalah manakala mereka melihat Yesus berbicara dengan dua orang nabi besar dalam Perjanjian Lama yakni Musa dan Elia. Tidak sampai di situ, kekaguman mereka bertambah kuat ketika mereka mendengar suara dari dalam awan mengatakan “Inilah Anak yang kukasihi, kepada-Nya-lah Aku berkenan, dengarkanlah Dia”.

Para murid itu tersungkur karena takut, mereka tidak menyangka bahwa peristiwa itu terjadi di depan mata mereka. Tetapi ada Yesus yang menyadarkan mereka untuk kembali kepada realitas harus keluar dari “penjara zona nyaman”. Para murid itu bahkan mengusulkan kepada Yesus untuk mendirikan tiga kemah, satu untuk Musa, satu untuk Elia dan satu untuk Yesus.

Usulan spontan para murid ini tentu saja mau mengukapkan tentang “rasa nyaman” rasa tak perlu lagi harus bergerak, semua sudah baik , tak perlu harus berubah. Yesus tidak mau para murid-Nya masih tetap tinggal pada ”zona nyaman”, kagum pada hal-hal yang memanjakan mata, kagum pada keindahan yang akan sirna ditelan mentari. Karena itu, Yesus mengajak mereka untuk “turun dari gunung” itu, mengajak mereka untuk pergi ke Yerusalem untuk menghadapi realita hidup yang lain, realitas hidup yang jauh lebih menantang.

Kemulian yang Yesus tunjukan di atas gunung adalah realitas yang akan dicapai, tetapi untuk mencapainya kita harus mengikuti “Jalan Yesus”. Turun dan pergi ke Yerusalem adalah Jalan Salib, karena di sana ada sengsara tetapi sekaligus ada sukacita berlimpah. Di sana ada Salib tetapi sekaligus kemenangan.

Mengapa sering kali kita tidak sanggup untuk mengikuti “Jalanya Yesus”? karena kita terlalu nyaman dengan pilihan kita, kita “terpenjara dalam zona nyaman kita”. Kesibukan kita bekerja bisa menjadi zona nyaman kita untuk menjauhkan kita dengan Yesus, hoby yang menyita banyak waktu bisa juga menjadi zona nyaman bagi kita untuk tidak menemukan “jalan Yesus”.

Mari kita keluar dari zona nyaman kita, agar kita tidak terjebak hanya pada diri dan kepentingan kita tetapi kita dapat juga merasakan apa yang Yesus inginkan dari kita untuk orang lain. (*)

Oleh:
RD Stanis

 

 


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •