Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Renungan Harian Minggu Biasa XIX
Minggu, 09 Agustus 2020.
1Raja. 19:9a, 11-13
Mazmur: 85:9ab-10,13-14,
Rm. 9: 1-15
Mat. 14: 22-33.

Pandemi Covid-19 bagai angin ribut/sakal. Situasi angin sakal ini dialami para murid di danau Galilea. Covid-19 tidak kelihatan, namun menakutkan banyak orang bahkan meluluhlantahkan seluruh aspek kehidupan. Covid-19 mampu membuat Gereja tutup dan semua pelayanan pastoral ditiadakan. Pandemi ini sebenarnya tidak hanya soal bagaimana kita bertahan di rumah saja, menjaga jarak atau memakai masker dan membawa hand sanitizer. Masalah ini menjadi lebih rumit karena manusia juga bisa mati (kelaparan) jika di rumah saja akibat resesi ekonomi. Sangatlah manusiawi jika Covid-19 menakutkan bagi kita semua.

Rasa takut yang luar biasa pun dialami para murid. Yesus menanggapi ketakutan para murid sebagai tanda kurang percaya. Badai besar di Galilea sebenarnya tidak asing bagi para murid. Mereka biasa mengalami angin sakal seperti itu. Ketika angin sakal membuat mereka takut Yesus mendekati mereka. Malahan para murid justru ketakutan menganggap Yesus adalah hantu. Namun Yesus menegaskan: “Ini Aku, jangan takut!”. Bukankah Yesus sendiri yang memerintahkan perjalanan ke seberang ini? Bagi Yesus, para murid adalah pengecut. Padahal selama ini mereka mengikuti Dia bahkan makan bersama dengan dia kapan dan di mana saja.

Sekalipun demikian, sikap Petrus yang menghampiri Yesus di tengah bahaya besar menunjukkan keyakinan pada Yesus namun belum berakar. Ia goyah karena dipengaruhi hal-hal yang ada di sekitarnya. Petrus tidak fokus pada Yesus yang ada di hadapannya dan mulai tenggelam. Petrus bimbang dan Yesus mengulurkan tangan-Nya menolong Petrus dan meredakan angin ribut itu.

Situasi angin ribut di Galilea mirip dengan situasi pandemi Covid-19 saat ini. Ketika para murid kurang percaya kehadiran Yesus di hadapan mereka, kita pun kita pun kurang bertahan dalam iman ketika wabah covid ini menakutkan. Ketakutan akan Covid-19 tidak relevan jika kita tidak saling menjaga satu sama lain. Maka Slogan: I Protec you.You Protec Me sebenarnya merupakan cara Allah meredakan virus ini, yaitu melalui upaya kita bersama sesama yang ada di sekitar kita. Ketakutan harus bersinergi dengan upaya-upaya yang meminimalisir penyebaran virus, bukan ketakutan yang konyol.

Fenomena alam seperti gempa, angin ribut, api yang berkobar dan juga makhluk yang tak terlihat seperti Covid-19, bukanlah sesuatu yang harus ditakuti. Melalui fenomena tersebut membangkitkan kesadaran kita bahwa Allah pastilah menolong.…. ASAL KITA PERCAYA MAKA KITA SELAMAT.

Keuskupan, 08 Agustus 2020.
ShiMul…..


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •