Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

PANGKALPINANG, KATEDRALPANGKALPINANG.COM — Pastor Boen, nama yang begitu dekat dan melekat bagi banyak orang Bangka, khususnya masyarakat Tionghoa, baik Katolik maupun non Katolik. Memiliki nama lengkap Mario Yohanes Bunjanto (Boen Thiam Kiat), belakangan oleh Gereja Katolik Keuskupan Pangkalpinang namanya biasa disingkat Mario John Boen.

Pastor Boen tak hanya dikenal generasi tua, generasi yang lahir tahun 1970-an pun tetap mengenal nama tersebut, meski sebagian di antara mereka tak sempat mengetahui wajahnya. Tidak juga generasi saat ini. Setidaknya nama Mario John Boen yang diabadikan untuk gedung pertemuan di Paroki Katedral St Yosef Pangkalpinang dan Seminari Menengah milik Keuskupan Pangkalpinang ini membuat generasi sekarang mengerti bahwa nama itu pernah ada, meski mungkin mereka tak banyak memahami latar belakang mengapa nama itu sampai ada.

RD Mario John Boen saat masih muda. (DOK. KEUSKUPAN PKP/REPRO/FENNIE)

Yah… Pastor Boen, sebuah nama bak legenda yang tak pernah usai. Dia tercatat sebagai imam diosesan pribumi pertama di Indonesia. Rekam jejaknya pun mencatat pernah ada tiga masa ia memimpin Gereja St Yosef Pangkalpinang.
“Masa pendudukan Jepang, tepatnya saat perang dunia kedua berkecamuk. Masa setelah perang dunia kedua usai, hingga menjadi Pastor Paroki pasca berdirinya hierarki di mana Keuskupan Pangkalpinang terbentuk,” tutur saksi sekaligus pelaku sejarah Keuskupan Pangkalpinang, Pastor FX Hendrawinata, Pr kepada katedralpangkalpinang.com belum lama ini.

Dalam sebuah kesempatan baru–baru ini, Boen Mau San, keponakan dari Pastor Boen secara khusus membagikan kenangan tentang sang paman kepada katedralpangkalpinang.com.
“Kami biasanya bertemu saat beliau mampir ke Jiu Hin (Pangkul-red), apabila Pastor Boen ada tugas ke arah Pangkul. Atau saya yang datang ke pastoran untuk membawa tembakau warning kepadanya. Sesekali saya membawa cerutu kalau ada titipan dari orang,” kenang Boen Mau San yang umurnya terpaut 41 tahun dengan sang paman.

Pulau Bangka yang sejak dulu terkenal dengan pembauran dan masyarakat multietnik itu telah membawa keluarga Pastor Boen juga mengenal kebinekaan. Meski Pastor Boen seorang imam Gereja Katolik, Boen Fa Chon sang adik memiliki profesi yang sekarang diteruskan oleh keponakannya. Pemimpin ritual kematian dengan tata cara Konghucu. Sebuah keadaan yang terasa agak kontradiktif, tetapi itulah warna-warni Negeri Laskar Pelangi yang sejak lama sudah terjadi.

Bagi Boen Mau San, hal yang cukup berkesan tentang sang paman adalah pribadinya dalam menghargai perbedaan yang ada. “Meski beliau seorang pastor, dia tidak pernah memaksakan kami untuk menjadi Katolik. Dia menghargai kami yang tak seiman dengannya, di mana kami ia berikan motivasi untuk hidup sesuai dengan ajaran Konfusius yang kami hayati,” ujar sang keponakan.

Batu nisan ayah Pastor Boen, Boen Boe Tjhin yang terletak di sebelah Selatan makam RD Mario John Boen. (KATEDRALPKP/FENNIE)

Kala katedralpangkalpinang.com bertanya soal silsilah keluarga Pastor Boen, Boen Mau San sendiri tidak mengetahui dengan persis berapa banyak anak dari sang kakek. Lalu berdasarkan petunjuknya, katedralpangkalpinang.com menemukan batu nisan ayah dari Pastor Boen. Pada batu nisan yang bertuliskan huruf Mandarin itu, sang keponakan membantu menerjemahkannya kepada katedralpangkalpinang.com.
“Pastor Boen adalah putra ketiga, anak keempat, dari 15 bersaudara. Papa saya sendiri urutannya persis di bawah Pastor Boen,” ungkap Boen Mau San. (katedralpkp/bersambung)

Penulis : caroline_fy
Editor : caroline_fy


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •