Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

PANGKALPINANG, KATEDRALPANGKALPINANG.COM — Menjalani masa kecil di Desa Jiu Hin, Kampung Kayu Besi, Pangkul, putra pasangan Boen Boe Tjhin dengan Liauw Joen Tjin ini dibaptis tanggal 20 Mei 1923 di Sambong oleh RP. F.J. Klerks OFM Cap.
“Catatan mengenai pembaptisan Pastor Boen tertera pada buku baptis awal (Sungai Selan-Sambong) halaman 129 nomor 1055,” terang Pastor Hendra.

“Buku sejarah” yang hidup ini menjelaskan, RD Mario John Boen menjalani pendidikan Holland Chinese School (HCS) Misi di Sambong, kemudian melanjutkan ke Seminari/Seminari Tinggi di Pulau Penang, Malaka, diteruskan di Seminari Tinggi Hongkong.
“Pastor Boen merupakan imam diosesan pribumi pertama di Indonesia. Ia ditahbiskan oleh Mgr. Brans OFM Cap, Vikaris Apostolik Padang di Gereja St. Yosef Pangkalpinang (saat itu belum menjadi Gereja Katedral-red), 25 April 1935,” tutur mantan Vikjend Mgr Hilarius Moa Nurak SVD ini.

Menurut data yang dimiliki Pastor Hendra, usai tahbisan imam Pastor Boen mendapatkan penugasan sebagai pastor rekan di Stasi Belinyu, bulan April 1935 hingga tahun 1939.
“Dari Belinyu, Pastor Boen kemudian menjadi pastor rekan di Stasi Pangkalpinang hingga tahun 1951. Kemudian dari Juli 1951 hingga tahun 1961 menjadi pastor kepala. Lalu pada tahun 1961 hingga 1968 kembali menjadi pastor rekan,” lanjut Pastor Hendra.

Masih menurut Pastor Hendra, antara jedah waktu tahun 1941 hingga 1947 Gereja Katolik Pulau Bangka dipimpin Proprefek karena Prefek Apostolik (Mgr. Vitus Bouma SSCC-red) berhalangan. Selama tiga tahun Jepang menduduki Pulau Bangka.
“Pada saat itu, Pastor Boen adalah satu-satunya imam di Pulau Bangka sewaktu pendudukan Jepang, yakni tahun 1942 hingga 1945. Dia adalah satu-satunya imam yang tidak menjadi tawanan Jepang karena bukan berkewarganegaraan Belanda, sementara imam lainnya termasuk Mgr Vitus Bouma SSCC menjadi tawanan Jepang. Pastor Boen yang saat itu adalah wakil Prefek (Proprefek) menjalani kepemimpinan gereja selama Prefek Apostolik berhalangan,” tutur Pastor Hendra.

Saat pendudukan Jepang itu, Pastor Boen menyelamatkan arsip gereja dari Pastoran Jelutung (kini Kantor Yayasan Tunas Karya-red) dengan menyimpannya di Longinbuk (Panti Jompo-red), yang kini menjadi Bruderan Budi Mulia.
“Pada masa itu, banyak arsip yang dibakar oleh Jepang,” lanjut Pastor yang belakangan menghabiskan banyak waktu di Ruang Perpustakaan Keuskupan Pangkalpinang ini.

Selain melayani tugas pastoral, Pastor Boen kala itu juga harus menangani Kebun Misi (Kebun Sahang) dan Longinbuk.
“Usai perang dunia kedua, Pastor Boen kembali memimpin Gereja St. Yosef Pangkalpinang sebagai sebuah stasi dari 01 Juli 1951 hingga 03 Januari 1961. Tahun 1961 itu adalah saat di mana hierarki berdiri. Terbentuklah Keuskupan Pangkalpinang, dan dari stasi, Gereja St Yosef pun menjadi paroki di mana di dalamnya terdapat Tahta Uskup (Katedra),” lanjut imam kelahiran Pangkalpinang, 71 tahun silam ini.

Lukisan RD Mario John Boen saat memasuki usia senja. (DOK. KATEDRALPKP/REPRO/FENNIE)

Hingga pada tahun 1968 Pastor Boen mengajukan pensiun (istirahat dalam tugas pastoral parokial). Pastor Hendra menjelaskan, “Selama pensiun Pastor Boen tinggal bersama komunitas Bruder Budi Mulia Longinbuk Pangkalpinang, kemudian di komunitas Pastoran Katedral St. Yosef Pangkalpinang hingga wafat pada usia 74 tahun”.

Masih jelas dalam ingatan Pastor Hendra, Pastor Boen wafat di Pastoran Katedral Pangkalpinang tanggal 31 Mei 1982 pk 09.30 WIB setelah beberapa hari sebelumnya cedera karena terjatuh di tangga belakang sakristi Katedral sewaktu hendak menggelar Ekaristi harian privat di pagi hari.
“Beliau dimakamkan di Pekuburan Katolik Jalan Koba, Pangkalpinang, keesokan harinya  tanggal 01 Juni 1982,” lanjut Pastor Hendra.

Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama. Mario John Boen, sebuah nama yang terlalu besar untuk dikecilkan. Nama yang layak dikenang dalam sejarah perjalanan Keuskupan Pangkalpinang. Tertulis dalam Injil Yohanes 12:24, “Aku berkata kepadamu : Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.”

Semoga dari singgasana keabadian, kini RD Mario John Boen menyaksikan banyak buah dari biji gandum yang telah jatuh ke tanah dan mati itu. (katedralpkp/bersambung)

Penulis : caroline_fy
Editor : caroline_fy


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •