Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

PANGKALPINANG, KATEDRALPANGKALPINANG.COM – Pastor Boen adalah pastor Katolik Indonesia satu-satunya yang bekerja di Pulau Bangka selama tiga zaman. Ia melewati zaman Belanda, Jepang dan kemerdekaan pada tahun 1935 hingga 1970-an.
“Tanggal 25 April 1935, Pastor Boen ditahbiskan menjadi imam oleh Mgr. Brans OFM, Cap, Vikaris Apostolik Padang. Usai tahbisan, keesokan harinya Pastor Boen membaptis satu adik perempuannya yang juga ingin menjadi Katolik,” tutur Pastor FX Hendrawinata, Pr kepada katedralpangkalpinang.com.

Anak kepala parit (tambang timah-red) itu bekerja untuk seluruh Pulau Bangka bersama para misionaris dari kongregasi SSCC.
“Februari 1942 serdadu Jepang menduduki Pulau Bangka, semua imam dan Bruder Belanda dimasukkan ke dalam camp tahanan. Pastor Boen pun harus sendirian melayani umat Katolik di Pulau Bangka semasa pendudukan Jepang. Selama tiga tahun masa pendudukan Jepang, ini adalah masa-masa paling sulit bagi Pastor Boen muda. Satu persatu imam misionaris wafat di penjara,” lanjut mantan Vikjend Keuskupan Pangkalpinang selama dua dekade ini.

Ia mengimbuhkan, pasca perang dunia kedua situasi di Pulau Bangka belum sepenuhnya normal. Imam misionaris yang meninggal dunia belum bisa segera mendapatkan pengganti imam misionaris baru dari Belanda. Sekali lagi tenaga Pastor Boen sangat dibutuhkan untuk melayani stasi-stasi yang tersebar di Pulau Bangka.

RD Mario John Boen mendampingi Mgr Gabriel van der Westen SSCC dalam sebuah resepsi. (DOK. KEUSKUPAN PKP/REPRO/FENNIE)

Setelah didirikannya Vikariat Apostolik Pangkalpinang tahun 1952, situasi berangsur normal dan Pastor Boen diberi kesempatan beristirahat. Ia memakai kesempatan ini untuk berangkat ke Eropa dan Amerika. Ia sempat mengumpulkan dana untuk keperluan misi di Bangka. Pastor Boen rajin membina relasi di dalam maupun luar negeri dengan menyurati teman-temannya yang tersebar di beberapa negara sambil memberi laporan terkini mengenai misi di Bangka.

Menurut Pastor Hendra, dalam relasi pastoral dengan umat, Pastor Boen terkenal akrab dan hangat.
“Setiap sore ia berkeliling mengunjungi umat Katolik dari rumah ke rumah, biasanya dengan vespa besar. Umat juga sering datang ke pastoran mencari Pastor Boen untuk meminta nasihat dan bimbingan,” ungkapnya.

Cinta Pastor Boen kepada umat juga membuahkan hasil dengan terkumpulnya dana dari para sahabat untuk membeli tanah yang dipakai sebagai pekuburan Katolik di Pangkalpinang. Tersedialah lahan Pekuburan Katolik Jalan Koba, Pangkalpinang yang kini memiliki luas total 33.490 meterpersegi.

Berpihak Pada Kaum Papa

RD Mario John Boen terlibat perbincangan bersama rekan imam lainnya. (DOK. KEUSKUPAN PKP/REPRO/FENNIE)

Prinsip ajaran sosial gereja “option for the poor”, keberpihakan pada kaum papa, nampaknya benar-benar menjadi pedoman hidup seorang Pastor Boen, Projo. Selama hidupnya Pastor Boen sangat dicintai umat karena mempunyai sifat kebapakan dan kepedulian yang tinggi terhadap mereka yang tidak mampu.

“Perhatian Pastor Boen kepada umat juga besar. Ia gampang dihubungi oleh orang susah dan langsung turun tangan membantu persoalan mereka. Di bagian belakang vespanya ada sebuah kotak yang isinya bukan hanya buku doa, stola dan minyak pengurapan orang sakit, melainkan juga bermacam-macam obat untuk umatnya yang sakit. Terkadang beberapa bungkus biskuit yang akan diberi kepada nenek atau kakek miskin yang umumnya tinggal sendiri di kebun-kebun pelosok,” kenang Pastor Hendra.

Menurutnya, Pastor Boen tidak hanya dikenal oleh umat Katolik, tetapi juga oleh masyarakat Bangka yang non Katolik.
“Semua bisa terjadi karena ia mempunyai pergaulan yang terbuka. Pastor Boen juga terkenal dengan sebutan “pastor pengemis”. Ia rajin menghubungi donatur dan para kolega,” ungkap Pastor Hendra.

Ia melanjutkan, dana yang diperoleh langsung disalurkan kepada mereka yang sangat membutuhkan. Banyak anak-anak yang tidak mampu dibantunya untuk bisa meneruskan pendidikan, bahkan beberapa di antaranya hingga ke perguruan tinggi.
“Pastor Boen sendiri pernah berkata, kalau uang derma yang saya terima ditotalkan, mungkin tiga rumah mewah dapat dibuat dari uang itu,” ucap Pastor Hendra menirukan kata-kata  Pastor Boen kala itu.

Imam yang semasa hidup seperti melepaskan keduniawian itu nampaknya berpegang teguh pada apa yang ia imani. “Bahwa jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini di bongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di sorga bagi kita.” (2 Korintus 5:1).  (katedralpkp/selesai)

Penulis : caroline_fy
Editor : caroline_fy


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •