Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

RENUNGAN EKARISTI, 17 AGUSTUS 2020

Sir 10:1-8; 1Pet 2:13-17; Mat 22:15-21

Bacaan suci hari ini, Kitab Putra Sirak menghimbau para pemerintah untuk memerintah dengan bijaksana: “Seorang penguasa yang bijaksana menjamin ketertiban dalam masyarakat dan raja yang budiman memerintah dengan aman sentosa. Jangan membenci sesama, jangan terpengaruh oleh nafsu kuasa”. Penulis Putra Sirak melihat sebab kehancuran suatu negara adalah pada ketidakadilan, kesewenang-wenangan dan nafsu uang. Putra Sirak memiliki visi yang begitu jauh dan hingga saat ini masih aktual.

Hal yang diharapkan adalah kesejahteraan atau kebahagiaan warga. Harapan penulis Kitab Putra Sirak dilengkapi oleh St. Petrus dalam Bacaan Kedua. Demi Yesus, Anak Allah yang menjadi manusia, Petrus meminta supaya setiap orang menyadari dirinya sebagai orang merdeka, “Berlakulah sebagai orang yang merdeka. Jangan menggunakan kemerdekaan sebagai kedok kejahatan tetapi berlakulah sebagai abdi Allah. Perkataan Petrus bahwa setiap warga hendaknya taqwa kepada Allah dan taat kepada atasan dipahami Matius sebagai usaha setiap pribadi untuk menjadi warga negara yang baik dan manusia yang diciptakan segambar dengan Allah.

Injil mengisahkan bahwa kaum Farisi dan Herodian yang datang untuk menjebak Yesus dengan pertanyaan tentang membayar pajak kepada kaisar atau tidak. Kedua kelompok ini sebetulnya bertolak belakang. Tetapi demi menjebak Yesus mereka seolah-olah bersatu untuk bertanya kepada Yesus: “Bolehkah membayar pajak kepada kaisar atau tidak?” Yesus tidak menjawab pertanyaan mereka. Dia justru mengetahui kejahatan hati mereka sehingga meminta mereka untuk menunjukkan coin dinar dimana ada gambar dan tulisan kaisar. Yesus berkata kepada mereka. “Berikanlah kepada kaisar apa yang menjadi hak kaisar dan kepada Allah yang menjadi hak Allah.”

Apa makna yang terkandung dalam pernyataan Yesus ini? Pertama, “Berilah kepada kaisar yang menjadi hak kaisar”. sebagai warga negara, mereka patut untuk taat dan setia kepada pemerintah dunia. Maka relasi sebagai warga masyarakat dengan pemerintah harus harmonis. Kedua, “Berilah kepada Allah yang menjadi hak Allah”. Ini berarti Yesus menuntut mereka untuk memberi diri secara total kepada Allah. Memberi diri secara total berarti patuh pada kehendak Allah dan menjadi serupa dengan Kristus. Ini adalah nilai yang tertinggi.

Maka bertolak dari bacaan -bacaan suci ini hari ini, hal yang harus kita lakukan dalam menghayati hidup kita sebagai anak-anak Allah, yang hidup dalam sebuah bangsa yang merdeka adalah kita harus saling membebaskan dan menyadari sungguh bahwa kita adalah saudara-saudari yang saling membutuhkan.

Tidak seorang pun bebas tanpa bantuan dan kerjasama dengan orang lain. Kita belajar satu dengan yang lain, dan saling membebaskan sama lain seperti kita saling menyembuhkan. Kadang kita dapat menghentikan individu-individu yang menindas dalam komunitas-keluarga-tempat kerja. Namun kadang tanpa kita sadari kita mendominasi. Mungkin juga posesif. Kita tidak mendekati kebebasan batin sebelum kita membebaskan orang lain dari beban-beban yang kita tanggungkan kepada pundak mereka atau membebaskan mereka dari rantai yang kita gunakan untuk mengikat mereka.

Kita bisa membebaskan orang lain dari rasa bersalah dengan mengatakan bahwa kita memaafkan mereka atau Allah mengampuni mereka. Maka untuk bisa saling membebaskan kita dan membangun kesadaran bahwa kita saling membutuhkan, kita harus: Pertama: Bebas untuk melakukan kehendak Allah sebagai bagian dari cara kita untuk mengabdi Allah (bdk 1Ptr 2:15-16):

Kebebasan adalah sarana untuk mencapai sesuatu yang lebih besar; yakni melakukan kehendak Allah. Saya tidak dipanggil untuk menjadi bebas sepenuh-penuhnya. Saya dipanggil untuk melakukan kehendak Allah, tetapi saya dapat melakukannya secara efektif hanya dengan mencoba menjadi sebebas mungkin.

Mungkin kita bertanya, mentaati kehendak Allah terdengar seperi penindasan dan dominasi. Itu terdengar seolah-olah Allah memaksakan kehendak-Nya atas setiap orang dan tidak membiarkan kita menjadi bebas dan membuat keputusan sendiri. Ini bukanlah yang dipikirkan oleh Yesus. Untuk mengerti maksud Yesus dengan kehendak Allah adalah sebagai kebaikan bersama.

Kebaikan bersama adalah apapun yang terbaik bagi keseluruhan umat manusia atau bagi keseluruhan komunitas ciptaan dan bagi semesta dalam perkembangan yang terus menerus. Kita bukanlah individu yang terisolir. Kita merupakan bagian dari kesatuan Indonesia, dan kesatuan itu menentukan keberadaan dari setiap bagian-kepulauan Indonesia ini.

Kedua: bebas untuk melakukan karya Allah: artinya kita ikut berpartisipasi dalam karya Allah – untuk saling menyembuhkan, membutuhkan, saling menyatukan, mendamaikan dan mengasihi serta menghormati sebagai saudara dan saudari, satu dengan yang lain, serta tidak menaruh benci kepada sesama (bdk. Sir 10:6, 1Ptr 2:17).

Kita semua adalah karya ciptaan Allah yang bermartabat dan istimewa, karena secitra dengan-Nya. Kita adalah karya seni Allah, kecil tetapi bagian unik dari karya seni Allah yang besar dan terus berkembang. Tetapi kita juga diundang untuk ambil bagian dalam proses itu menjadi rekan kerja Allah di dunia ini.

Kita melakukannya dengan membiarkan Allah bekerja di dalam dan melalui kita. Ketika kita sungguh-sungguh bebas, energi ilahi dapat mengalir melalui kita tanpa terhalangi. Energi ilahi yang kita sebut Roh kudus ini kuat tanpa batas, kreatif dan menyembuhkan.

Oleh karena itu, jalan Yesus adalah sebuah tapak yang membimbing kita kepada kebebasan yang memampukan kita untuk berpartisipasi dalam karya seni Allah yang bebas,  spontan, kreatif dan bersama-sama. Inilah jalan-jalan bagi kita untuk menghayati dan mengisi kemerdekaan kita.

Selamat Ulang Tahun kemerdekaan ke-75 Negeriku Tercinta Republik Indonesia. Tuhan memberkati.

Renungan Oleh: Rm Yustin

 


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •