Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Renungan Harian Rabu, 19 Agustus 2020
Minggu Biasa XX
Bacaan :
Yehezkiel 34:1-11
Matius 20:1-16a

Saudara-saudari……
Ketika saya masih bertugas di paroki, ada satu pengalaman yang menarik sekaligus menantang dalam berpastoral saat kunjungan ke stasi-stasi, yakni kesulitan mendapatkan petugas untuk bacaan (Lektor) dan mazmur. Kalau pun ada, orangnya harus “dirayu-rayu”. Melihat kesulitan itu, maka saya memutuskan untuk datang ke stasi lebih awal. Saya juga meminta supaya petugas yang telah ditentukan datang lebih cepat agar bisa berlatih bersama sebelum bertugas.

Adalah seorang ibu yang menurut pengurus stasi suaranya bagus, tetapi ketika diberi tugas sebagai pemazmur oleh pengurus stasi selalu menolak dengan alasan TIDAK BISA. Ketika saya mendengar cerita dari pengurus tentang hal itu, saya mencoba membuat pendekatan kepada sang ibu tersebut. Jawaban TIDAK BISA dikatakannya juga kepada saya.

Saya mencoba mengajak dengan mengatakan: “Ibu, bagaimana kalau kita latihan terlebih dahulu baru Ibu bertugas?” Setelah beberapa saat berpikir, ibu itu mengatakan, “Boleh Romo, tapi kita harus latihan terlebih dahulu”. Saya mengikuti kemauannya dengan berlatih terlebih dahulu sampai dia lancar baru kami mulai Ekaristi dan ibu itu bertugas sebagai pemazmur. Ibu itu menyanyi dengan sangat bagus, lancar dan merdu suaranya. Ternyata sang Ibu itu BISA.

Setelah Ekaristi saya memberi salam kepadanya karena sudah menyanyi dengan baik dan mencoba bertanya kepadanya kenapa selama ini dia tidak bersedia kalau diminta bertugas. Alasan utamanya adalah karena rasa TAKUT. Takut salah, takut diejek, takut ditertawakan, takut dilihat orang banyak dan macam-macam bentuk rasa ketakutan lainnya yang membuat orang tidak mau bahkan tidak bisa.

Saudara-saudari……
Injil Matius yang kita baca hari ini memperlihatkan adanya peluang pekerjaan dan ada pekerja atau orang upahan. Walaupun ada lowongan pekerjaan yang tersedia, namun tak satu pun orang-orang upahan atau pekerja itu mau datang dan meminta bekerja kepada tuan  atau pemilik kebun anggur. Mereka tenang-tenang saja melihat peluang itu kendati mereka memiliki kemampuan untuk bekerja. Inisiatif untuk bekerja bukannya datang dari para pekerja melainkan Tuan kebun yang mendatangi mereka.

Mereka, yakni orang-orang upahan itu malah duduk-duduk saja di pinggir jalan. Sikap diamnya mereka secara implisit memperlihatkan wajah orang yang TIDAK BISA. Mereka tidak menyadari bahwa di hadapan mereka ada peluang dan kesempatan untuk mendapatkan rejeki. Mereka kurang percaya diri bahwa di dalam diri mereka ada potensi dan talenta yang bisa dikembangkan. Bahkan mereka seolah tidak percaya bahwa mereka dibutuhkan oleh Tuan Kebun.

Walaupun mereka bersikap demikian, Tuhan tetap mencari dan menemukan mereka. Tuhan rela turun ke jalan dan berjumpa serta berdialog dengan mereka. Tuhan bermurah hati dengan mereka dan menawarkan rahmat, yakni peluang bekerja di kebun anggur-Nya. Tuhan mengajak mereka untuk bekerjasama mengembangkan dan membangun dunia baru yang membahagiakan. Mereka akhirnya dilibatkan dalam karya keselamatan dengan mengangkat dan menghidupkan semangat mereka dari orang yang TIDAK BISA menjadi BISA.

Saudara-saudari………
Bercermin dari pengalaman pastoral yang saya alami bersama umat dan memetik intisari Sabda Tuhan pada hari ini, ada beberapa point penting yang dapat meyakinkan kita: Pertama, bahwa dunia tempat kita berdiam dengan segala kemungkinannya diperuntukan bagi kita. Seperti matahari diciptakan untuk semua dan hujan dicurahkan bagi siapa saja, demikian dunia bagaikan kebun anggur yang disiapkan seluas-luasnya bagi kita.

Kedua, bahwa semua kita, entah tua maupun muda, besar maupun kecil, kaya mapun miskin, berpangkat atau tidak, atau dalam bahasa Matius hari ini, entah masuk pagi-pagi, atau jam sembilan, atau jam duabelas, atau jam tiga sore, bahkan jam lima sore, diundang dan diajak untuk memperkembangkan dunia ini. Semua akan mendapat upah yang sama bagi yang mau terlibat dalam karya Tuhan, yakni keselamatan dan kebahagiaan bersama Bapa di Surga. Semua Kita BISA dan tidak ada yang TIDAK BISA.

Ketiga, bahwa semua kita akan dicari dan ditemui oleh Tuhan. Dia akan mendatangi kita dalam keseharian hidup kita, Dia akan menemui kita pada lorong-lorong dan jalan-jalan hidup kita. Kuncinya adalah apakah kita mau ditemui atau tidak oleh Tuhan. Apabila kita mau menyediakan diri, membuka hati dan pikiran untuk dijumpai dan didiami oleh Tuhan, maka segala ketakutan, kecemasan, kegelisahan dan keresahan akan dihalau dari hidup kita. Kita yang kadang merasa tidak bisa, tidak mampu dan tidak mungkin berhadapan dengan peluang dan kesempatan yang ada. Yesus telah memberikan kepada kita tiga (3) jalan yang terindah, teruji dan terpasti untuk menggapai keselamatan, pasti menjadi bisa.

Keempat, bahwa setiap usaha, pekerjaan dan amal kasih kita berharga dan bernilai di mata Tuhan. Apapun yang kita lakukan akan dihargai oleh Tuhan dengan melimpahkan rahmat dan berkat dari-Nya. Hasil yang kita peroleh, entah besar atau kecil, itu adalah “bayaran” dari Tuhan. Rahmat yang dianugerahkan oleh Tuhan kepada kita sesuai dengan bakat dan talenta yang kita miliki dan kita kembangkan.

Saudara-saudari………
Apa yang kau tanam, itulah yang kau petik hasilnya nanti. Apa yang kau tabur, itulah yang akan kau tuai dikemudian hari. Tuhan pasti melihat dan tahu apa yang kita lakukan. Tuhan juga menyelami kemampuan kita. Maka, mari kita berdoa kepada-Nya agar diberikan kekuatan dan keberanian untuk bersama-Nya membangun dunia ini. Teristimewah agar kita dianugerahkan kemampuan untuk berani mengatakan kepada diri kita bahwa DI DALAM DAN BERSAMA TUHAN, KITA BISA. Dengan demikian, segala bentuk rasa ketakutan yang sering menyelimuti hidup kita dapat terhalau. Amin. (*)

Renungan Oleh:
Andre Lemoro


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •