Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Renungan Harian, Sabtu (22 Agustus 2020)
BACAAN :

    • Yeh.43:1-7a
    • Mat.23:1-12
    • SP.Maria Ratu

Kehidupan ini bagaikan sebuah sekolah, di mana setiap orang  terus menerus belajar menjadi guru untuk sesamanya sekaligus menjadi murid dari mereka. Setiap interaksi yang terjadi selalu membawa pengaruh terhadap diri mereka yang berinteraksi. Tidak jarang anak-anak lebih patuh kepada apa yang dikatakan oleh guru daripada orangtuanya. Tidak jarang pula orang tua menasehati anak-anaknya dengan mengambil contoh anak sahabatnya. Ketika seorang teman sukses bertanam sawit, yang lain datang untuk mencermati apa saja yang ia lakukan, agar dapat menirunya. Ketika melihat orang lain sukses berjualan secara online, yang lain segera mencoba dan menirunya pula. Tak jarang pula kelompok-kelompok  UKM, anggota DPRD melakukan study banding ke tempat lain yang dianggapnya lebih berhasil. Mereka belajar dari apapun pada diri sesamanya yang telah mengantarkan kepada keberhasilan.

Menjadi “guru & murid kehidupan” merupakan salah satu aspek yang dapat dipetik dari bacaan-bacaan hari ini. Dengan menampilkan kehadiran Allah dalam Bait Suci (yang menyertai dan berbicara kepada umat Israel) dan dengan mengambil potret kehidupan orang-orang Farisi, Tuhan Yesus menyampaikan pesan agar para murid-Nya dapat berjuang untuk menjadi :

      • “Guru” bagi diri dan sesamanya; dengan cara mau dan berani saling berbagi baik melalui perkataan maupun perbuatan (sharing kata dan tindakan), dengan tujuan agar semua bertumbuh dalam menjalani kehidupan. Berbeda dengan cara hidup kaum Farisi, yang puas menikmati kemapanan hidup dengan benteng aturan-aturan keagamaan yang mereka buat sendiri. Mereka memberikan nasehat dan khotbah untuk umat, sementara yang dilakukan berbeda. Menurut Yesus, mereka pantas dituruti, tetapi tidak pantas diikuti (patut digugu ora patut ditiru, Jawa)
      • “Murid” bagi diri dan sesamanya : melalui sharing bersama, masing-masing digerakkan untuk mau dan berani merenungkan dan berusaha mengupayakan  kesesuaian apa yang dilakukan dan dikatakan. Inilah proses pertobatan menuju keutuhan hidup, sehingga tidak terbelah antara perkataan dan perbuatan. Suatu proses hidup kemuridan menuju kesempurnaan hidup pribadi dalam kesatuan komunitas.
      • “Murid dari Sang Guru Sejati”. “Janganlah kamu disebut Rabi,….dst”. Di hadapan Tuhan semua orang adalah saudara dan murid. Dalam persaudaraan inilah, tanpa terkecuali semua belajar dari Sang Guru Kehidupan Sejati; yang melalui Sabda-Nya dan teristimewa melalui pribadi-Nya, Yesus memberi pengajaran hidup sepanjang masa. Keadaan hidup seseorang (umur, kedudukan, pengetahuan, dsb) diperlukan untuk membangun hidup persaudaraan, demi menjamin keberlanjutan kehidupan.

Sharing Injil 7 langkah yang dipilih Keuskupan Pangkalpinang sebagai pola pastoral umat untuk dilaksanakan di KBG-KBG (pada masa pandemi covid-19 di keluarga / keluarga yang berdekatan) dapat dimaknai sebagai pelaksanaan dari pesan Yesus untuk saling menjadi guru dan murid dan bersama-sama menghayati spiritualitas kemuridan. Berbekal dari keguruan dan kemuridan di keluarga dan komunitas, para murid Yesus akan mampu menjadi guru dan murid dalam kehidupan komunitas yang lebih besar dan luas.
Semoga.(*)

Renungan Oleh:
Ignatius Sumardi


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •