Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Renungan Harian, Jumat (28 Agustus 2020)
Pekan ke-21 Tahun A
1Kor. 1:17-25:  Mzm. 33:1-2,4-5,10ab,11: Mat. 25:1-13

Dalam kehidupan-Nya di depan umum, seringkali Yesus merefleksikan kebenaran dari Akhir Kedatangan-Nya, dengan mengulangi berkali-kali warta Tentang Penghakiman Terakhir melalui perumpamaan-perumpamaan tentang Kerajaan Allah. Injil hari ini, mengajak kita untuk mengingat pertama-tama dari semua, bahwa dalam peristiwa Kenaikan ke Surga Allah Putra membawa kepada Bapa kemanusiaan kita yang mana telah dikenakan-Nya, dan bahwa Ia ingin menarik semua umat manusia kepada-Nya, memanggil seluruh dunia untuk disambut dalam pelukan Allah sehingga pada akhir dari sejarah keseluruhan realitas dapat diserahkan kepada Bapa. Namun ada “waktu segera” antara Kedatangan Kristus yang Pertama dan yang Terakhir ini, dan itu adalah waktu yang benar-benar, yang di dalamnya kita hidup, waktu sekarang, di sini dan saat ini.

Pengajaran Yesus tentang Kerajaan Allah seumpama sepuluh gadis yang mengambil pelitanya dan pergi menyongsong pengantin membawa kita dalam konteks “waktu segera” ini (bdk. Mat 25:1-13). Mereka adalah sepuluh gadis muda yang sedang menunggu kedatangan Mempelai Pria, tapi ia terlambat dan mereka tertidur. Gadis-gadis itu adalah simbol para murid Yesus. Di antara mereka ada yang setia berjaga-jaga, namun ada juga yang tidak setia. Maka, saat mendadak diumumkan bahwa Mempelai Pria datang, mereka segera mempersiapkan diri untuk menyambutnya; sementara lima dari mereka, yang bijaksana, memiliki minyak untuk  menyalakan pelita mereka, sedangkan yang lain, yang bodoh, telah kehabisan minyak hingga pelita mereka padam. Saat sementara mereka pergi untuk mendapatkan minyak lagi, sang Mempelai Pria tiba dan gadis-gadis yang bodoh itu menemukan bahwa pintu ke balai pesta pernikahan telah ditutup. Mereka mengetuk lagi dan lagi, tapi sekarang sudah terlambat, Mempelai Pria menjawab: Aku tidak mengenal kamu.

Sang Mempelai Pria adalah Yesus sendiri sebagai hakim yang datang untuk mengadili orang hidup dan mati dan Dia sendiri mengakui diri-Nya sebagai mempelai (Mat 9:15), dan waktu menunggu kedatangan-Nya adalah waktu yang Dia berikan kepada kita semua, sebelum Kedatangan-Nya yang Terakhir dengan belas kasihan dan kesabaran; itu adalah waktu berjaga-jaga, waktu di mana kita harus menjaga pelita iman, harapan dan kasih tetap menyala; waktu di mana hati kita tetap terbuka untuk kebaikan, keindahan dan kebenaran yang datang dari Allah, waktu bagi kita untuk tidak jemu-jemu melakukan pekerjaan-pekerjaan baik dan karya amal kasih. Ini adalah waktu untuk hidup seturut dengan Allah, karena kita juga tidak tahu hari atau jam kedatangan Kristus. Apa yang Dia minta dari kita adalah siap untuk perjumpaan tersebut- untuk sebuah perjumpaan yang indah, perjumpaan dengan Yesus dengan menjaga iman kita tetap hidup: dengan doa dan sakramen dan berjaga-jaga untuk tidak terlelap tidur sehingga melupakan Tuhan.

Lebih konkret lagi, kesiapsiagaan yang harus dimiliki dan dilakukan untuk sungguh merasa gembira dan bahagia dalam Kerajaan Allah, tidak lain tak bukan ialah berbuat baik terhadap orang lain/sesama.Perbuatan baik apa? Dalam Injil Matius di banyak teks ditegaskan apa yang harus kita lakukan untuk berbuat baik, yaitu: menghindari perbuatan jahat, mengasihi musuh,  saling mengasihi, mengampuni orang-orang yang telah berbuat jahat kepada kita, memiliki iman yang teguh, setia kepada Yesus dan mengasihi Allah sepenuhnya. Inlah kesiapsiagaan sebagai syarat mutlak untuk bertemu dengan Allah dan merasa sungguh bahagia!

Kita kerapkali memiliki lampu/pelita, namun kita tidak punya minyak untuk menyalakannya! St. Teresa dan Kalkuta berkata:“Apakah minyak untuk pelita kita dalam hidup kita?Minyak pelita kita ialah hal-hal kecil sehari-hari: Kesetiaan, tepat waktu, kata-kata lembut, prihatin terhadap orang lain, tahu berdiam diri bila perlu, tahu memilih waktu, tahu kapan berbicara, kapan bertindak. Inilah tetesan-tetesan air kasih, yang mampu membuat hidup kita bersinar terang sebagai orang beriman”. Itulah yang dilakukan Santa Teresa dari Kalkuta. Sumber minyak itu baginya adalah Allah dalam diri Yesus, yang siap siaga terhadap kehendak Allah. Maka, marilah kita berjuang untuk kebaikan dan berjaga-jaga dalam doa dan kasih. Semoga Tuhan, di akhir hidup kita dan pada akhir sejarah, dapat mengenali kita sebagai putera-puterinya yang baik dan setia. (*)

Renungan Oleh:
RD Yustin Ta’Laleng


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •