Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Renungan Harian, Sabtu (29 Agustus 2020)
Pekan Biasa XXI
Peringatan Kematian Yohanes Pembaptis

Kita berada di batas akhir ziarah dalam etape ke XXI, setelah sepekan menenun jejak ziarah dalam terang injil, penuntun dalam perjalanan dan cahaya dalam ziarah kita menuju Bapa. Menenun ziarah dalam terang injil harus menjadi keutamaan seorang kristiani, karena tiga alasan fundamental.

Pertamaziarah hidup kita di dunia tak jauh berbeda dengan ziarah Yesus bersama para murid di awal ziarah, hari minggu yang silam. Ketika injil tidak menjadi pedoman dalam ziarah hidup kristiani, sehingga kita hanya berziarah dengan kadar pengenalan akan Yesus hanya berdasarkan apa yang kita dengar dari orang, minim pengalaman personal dengan-Nya karena tak sanggup menjawab pertanyaan menurut kamu siapakah Aku, di tengah dunia yang begitu plural, maka hanya satu kemungkinan yang bias ditebak yakni kita mengimani Allah yang tidak kita kenal. Inilah makna yang terliar dari istilah iman KTP, dengan segala resiko buruk yang dihasilkannya.

Itulah sebabnya berziarah bersama Injil harus menjadi keutamaan, agar pengenalan kita terhadap Yesus juga bertumbuh secara personal, tidak sekedar berdasarkan kata orang, sebagaimana yang diperbuat Filipus kepada Bartolomeus Rasul, yang dipestakan hari Senin: “Mari dan lihatlah.”

Kedua, berziarah bersama Injil harus menjadi keutamaan kristiani agar kita ditolong untuk mengikuti Yesus dalam karakter sebagai murid dan bukan sebagai kaum farisi dan ahli taurat. Injil harus menjadi pedoman dalam membangun hidup yang lurus dan jujur; pedoman dalam membentuk spiritualitas kristiani, karena kemunafikan hanya menciptakan kecelakaan, dan hal-hal lahiriah hanyalah aksesoris; sekedar trik tipuan ala para pesulap, bagai kubur yang di luar dilabur putih tetapi di dalam penuh kebusukan dan kotoran, sebagaimana kecaman Yesus pada hari Selasa dan Rabu.

Ketiga, berziarah bersama Injil harus menjadi keutamaan kristiani, karena hidup ini hanyalah sebuah ziarah  untuk menyongsong kedatangan Tuhan. Dan oleh karena itu berziarah bersama injil menolong siapa saja untuk tidak tertutup dalam keangkuhan sebagaimana kaum farisi dan ahli taurat, sebaliknya justru membentuk seseorang untuk selalu memaknai hidup sebagai saat berjaga-jaga menyambut kedatangan Tuhan yang tak disangka-sangka, seperti seorang hamba; seperti gadis-gadis bijaksana yang dikumandangkan hari Kamis dan Jumat kemarin.

Salah satu sosok yang menenun hidup dalam terang injil adalah St. Yohanes Pembaptis. Wafatnya dipestakan hari ini.  Ia dipenggal kepalanya, sebagai konsekuensi dari kelurusan, kejujuran dan ketidakmunafikannya. Ia dipenggal kepalanya, karena kesetiaannya pada Kristus yang ia kenal secara personal di tengah arogansi kekuasan yang menghalalkan perselingkuhan. Ia memang dipenggal kepalanya, namun  kematiannya sebagai martir memperlihatkan kesiapannya dalam memaknai hidup sebagai seorang hamba. Kepalanya mungkin telah memuaskan Herodias dalam pesta ulang tahun Salome anaknya, namun totalitas hidupnya telah mengantarnya masuk dalam perjamuan Kerajaan, karena pelita imannya tak pernah padam, sebagaimana lima gadis bijaksana.

Selamat berakhir pekan. Selamat memasuki pekan ziarah ke XXII.
Selamat pesta wafatnya St. Yohanes Pembaptis.

Renungan Oleh :
RD.
Lucius Poya Hobamatan


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •