Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Renungan Harian, Selasa (01 September 2020)
 Pekan Biasa XXII
Bacaan:  1Kor 2: 10b-16; Luk 4:31-37

Santo Paulus membedakan dua jenis manusia, yakni manusia duniawi dan manusia rohani.  Manusia dunaiwi adalah golongan orang-orang yang masih diperbudak oleh kedagingan dan hawa nafsu duniawi. Gaya hidup  mereka mengikuti pola hidup dunaiwi sepenuhnya, sehingga mereka tidak akan menerima apa yang berasal dari Roh Allah. Hal-hal yang bersifat rohani tidak penting bahkan bagi mereka adalah sebuah kebodohan. “Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu  baginya adalah suatu kebodohan, dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dinilai secara rohani”.

Manusia Rohani adalah orang-orang yang selalu mengandalkan kekuatan dan hikmat dari  Allah.  Santo Paulus menegaskan bahwa manusia rohani adalah golongan orang-orang yang mampu melihat, menilai dan berbicara berdasarkan hikmat dan Roh Allah. Manusia rohani mampu mengapresiasikan hikmat dan penyertaan Roh Allah itu melalui karya hidupnya. Manusia rohani adalah orang-orang yang mampu melihat makna rohani di balik semua kejadian manusiawi biasa sehari-hari. “Dan karena kami menafsirkan hal-hal rohani kepada mereka yang mempunyai Roh, kami berkata-kata tentang karunia-karunia Allah dengan perkatan yang bukan diajarkan kepada kami oleh hikmat manusia, tetapi oleh Roh”.

Injil menampilkan dua reaksi yang berbeda ketika Yesus mengajar di Kapernaum. Pertama: orang banyak takjub akan pengajaran dan tindakan Yesus. “Alangkah hebatnya perkataan ini! Dengan penuh wibawa dan kuasa Ia memberi perintah kepada roh-roh jahat, dan mereka pun keluar”. Orang banyak ini takjub, tetapi tidak sampai mengenal Yesus berasal dari Allah.  Mereka hanya takjub, tetapi tidak sampai beriman kepada Yesus.Kedua: roh-roh jahat. Roh jahat yang merasuki orang saki itu rupanya mengenal Yesus dengan baik dan memberikan pengakuan, “Aku tahu siapa Engkau: Engkaulah yang kudus dari Allah”.

Kedua bacaan ini mengajarkan kepada kita untuk terus menerus memperbaharui diri menjadi manusia rohani. Menjadi manusia rohani berarti kita harus mampu melihat, menilai, berkata dan berkarya melalui sudut pandang Allah.  Manusia rohani mampu mengaplikasikan dua sikap, yakni mengekspresikan ketakjuban akan karya Yesus serta mengenal dan mengakui Yesus sebagai Putera Allah. (*)

Renungan Oleh:
RD Yos Anting


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •