Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

PANGKALPINANG, KATEDRALPANGKALPINANG.COM –  “Teng, Teng, Teng,’!!!

Begitulah bunyi lonceng Gereja Katedral Pangkalpinang terdengar setiap akan memulai Perayaan Ekaristi.

Tali lonceng gereja ini biasanya ditarik oleh sosok pria paruh baya yang wajahnya pasti tak asing lagi bagi umat Katedral Pangkalpinang.

Sosok tersebut akrab disapa Pak Trimo, dirinya mudah kita temui di pintu gerbang gereja ketika hendak mengikuti Ekaristi.

Wajahnya rajin menebar senyum pada umat yang hadir di gereja untuk berdoa.

Pak Trimo mulai menjadi pelayan Gereja Katedral sejak 1987, terhitung pengabdian Pak Trimo untuk gereja sudah selama 33 tahun.

Ia bertanggung jawab terhadap kebersihan gereja sekaligus merangkap menjadi koster yang menyiapkan peralatan perayaan Ekaristi, namun terhitung 01 September 2020, sosok Pak Trimo mungkin tak bisa kita temui seperti biasa.

Tugasnya sebagai koster berakhir kemarin, ditutup dengan silaturahmi sederhana bersama Pastor Paroki Katedral Santo Yosef Pangkalpinang dan tim pastores.

Pria berusia 64 tahun ini secara istimewa di hari pertama purnatugas menceritakan awal mula menjadi pelayan Gereja Katedral.

Makan bersama Pak Trimo di akhir tugasnya selama 33 tahun

Merantau

Bermula ketika kondisi paceklik tanam padi di Sumatera Selatan, Pak Trimo kemudian memutuskan ikut merantau bersama tetangga ke Pulau Bangka untuk menggarap kebun lada, tapi persaingan sebagai buruh lepas saat itu cukup ketat karena banyak pendatang dari Pulau Sumatera dan Jawa yang mau dibayar dengan upah lebih murah sehingga Pak Trimo bersama rekannya tersisih.

Bermaksud ingin mencari pekerjaan lain, di perjalanan Pak Trimo turun di sebuah terminal. Kini terminal tersebut sudah berubah menjadi pusat perbelanjaan Ramayana.

“Dari terminal itu saya lihat ada tulisan Katedral. Wah, ini Gereja Katolik. Kemudian saya memberanikan diri permisi ketemu sama Pastor Parokinya Romo Endro Karyanto, SCJ yang asalnya sama dari Palembang,”ujar Pak Trimo, Selasa (01/09/2020) saat ditemui katedralpangkalpinang.com di rumahnya.

Pak Trimo mendapat sambutan dari satu-satunya Pastor di Gereja Katedral  Pangkalpinang kala itu.

Ia dipersilahkan menginap di bangunan sekitar gereja yang kini sudah berubah menjadi pastoran.

Dingatnya tempat menginap Pak Trimo dulu berdekatan dengan ruangan untuk belajar katekumen.

Dua minggu beristirahat di komplek Gereja Katedral dan bantu-bantu. Pak Trimo kemudian memutuskan kembali ke Sumatera Selatan tempat istri dan ketiga anaknya berada, namun tak lama ada surat dari Pangkalpinang yang memintanya kembali ke Gereja Katedral karena dibutuhkan dan meminta pindah ke Pulau Bangka.

“Saya mikir-mikir, akhirnya saya boyongan ajak istri dan anak yang masih bayi pindah,”kenangnya.

Menjadi abdi selama 33 tahun, maka tak berlebihan jika menyebut Pak Trimo menjadi saksi mata perkembangan Gereja Katedral Pangkalpinang.

Pak Trimo membeberkan dulu jumlah umat yang datang berdoa ke gereja masih sedikit. Selain itu hanya ada satu pastor yang melayani, termasuk untuk wilayah Koba dan Gereja Bernadeth yang dulunya bergabung dengan Paroki Katedral Pangkalpinang.

“Beda dulu dan sekarang, (dulu) Pangkalpinang mahal panggilan Imamat, Jarang sekali, buktinya Pastornya orang Palembang. Aktivitasnya padat,” ujarnya.

Kekurangan jumlah Pastor dan pengalamannya mendampingi Pastor dari masa ke masa, membuat Pak Trimo terinspirasi untuk mendukung putera bungsunya Martinus Handoko menjadi seorang Pastor.

“Saya melihat jadi Pastor itu bahagia, tapi bukan bahagia karena harta duniawi. Saya beri masukan (Martinus Handoko) melanjutkan ke Seminari. Walaupun mahal tapi ada subsidi dan akhirnya bisa bayar juga tiap bulan,” terangnya.

Terakhir dalam percakapan bersama katedralpangkalpinang.com, Pak Trimo mengutarakan suka-dukanya selama 33 tahun menjadi pelayan gereja.

Kelelahan tak jarang dirasakan Pak Trimo karena mengambil banyak peran saat perayaan Ekaristi dan acara gereja, namun ia pun membagikan perasaan sukanya selama puluhan tahun melayani.

“Menurut pribadi saya, walau bukan darah daging tapi secara iman maka itu keluarga. (Umat Katolik) itu keluarga saya, tidak ada perbedaan,” tutupnya.

Profil Koster Katedral Pangkalpinang

Nama                                      : Matius Trimo

Tempat/Tanggal Lahir             : Sragen, 10 Februari 1957

Istri                                         : Maria Sutarmi

Anak                                       : Elizabet Triwahyuni, Angel Trimarcelina, Pastor Martinus Handoko, Pr

(katedralpkp)

 

Penulis: Dhina


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •