Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Renungan Harian, Kamis (03 September 2020)
Bacaan :

  • 1Kor 3:18-23
  • Luk.5:1-11
  • St. Gregorius Agung

Ketika sudah mendalami suatu pengetahuan termasuk dalam hidup keagamaan, sering terjadi orang lupa akan nilai rohani yang menjadi makna terdalamnya. Ia sudah merasa hebat karena ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Ia sudah merasa suci dengan aktifitas-aktifitas keagamaan yang dijalani lebih dari sesamanya. Apalagi ketika nasehat-nasehatnya diikuti oleh banyak orang dan banyak orang pula yang memberikan pujian-pujian kepadanya.  Ia seperti  lupa bahwa segala kemampuan yang telah berhasil ia kembangkan adalah anugerah Allah. Ia lupa bahwa perkembangan dan kedalaman pengetahuannya terjadi karena bimbingan Allah juga. Ia lupa bahwa dibalik segala keberhasilannya, orang masih memiliki berbagai kelemahan dan kekurangan.

Terhadap mereka yang hidupnya demikian, Santo Paulus mengingatkan untuk menyadari  jati diri kemanusiaannya sebagai ciptaan milik Allah. Bahwa hal seperti itu merupakan kesombongan rohani yang akan  menjauhkan manusia dari Allah. Ia mengingatkan bahwa semua ciptaan adalah milik Allah yang dipanggil untuk hidup dalam persaudaraan menuju kepada-Nya

Setelah memberikan pengajaran kepada orang banyak yang merindukannya, Yesus meminta Simon untuk “bertolak ke tempat yang lebih dalam”, menebarkan jala menangkap ikan. (Luk.5:4). Pada awalnya Simon keberatan. Pengalaman menjala semalaman tanpa hasil, membuatnya yakin bahwa saat itu di tempat itu tidak ada ikan. Bisa jadi karena suku air atau kecepatan arusnya tidak sesuai dengan sifat alami ikan. Itulah pengetahuan mendalam yang telah diperoleh Simon dan kawan-kawannya dari hidupnya sebagai nelayan.

Beruntung Simon melaksanakan juga permintaan  Yesus itu. Dan hasilnya sunggguh luar biasa. Bukan hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk banyak orang. Dua perahu hampir karam karena penuh ikan. Pengalaman ini  membuat Simon takjub dan menyadarkan akan kesombongannya. Kesadaran yang mengubah jalan hidupnya untuk mengikuti Yesus menjadi “penjala manusia”.

Berbagai hal dalam hidup memang harus terus dikembangkan dan diperdalam, lebih-lebih hidup beriman. Diawali dengan membangun kerinduan untuk mendengarkan pengajaran Yesus, sebagaimana orang banyak yang mencari Yesus. Kesediaan untuk melaksanakan perintah-Nya, seperti dilakukan Simon. Dan selanjutnya dengan rendah hati terus berguru kepada-Nya, sampai Ia sendiri menjemput di akhir hayat.(*)

Renungan Oleh:
Ignatius Sumardi


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •