Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Renungan Harian, Sabtu (05 September 2020)
Minggu Biasa XXIII
Bacaan: 1Kor. 4:6b-15Mzm. 145:17-18,19-20,21Luk. 6:1-5.

Injil hari ini, Lukas 6, 1-5, menceritakan konflik antara Yesus dan Orang Fasisi berkaitan dengan peraturan yang harus ditaati pada hari Sabat. Secara khusus, Injil hari ini menampilakn diskusi mengenai boleh atau tidak bekerja memetik gandum pada hari Sabat? “Kuduskanlah Hari Sabat”, demikian bunyi salah satu dari Sepuluh Perintah.

Latar Belakang Peraturan Hari Sabat
Shabbat dalam bahasa Ibrani berasal dari kata kerja shabat, yang berarti “berhenti”. Meskipun shabbat hampir secara universal diterjemahkan “istirahat” atau suatu “masa istirahat”, terjemahan yang lebih harafiah adalah “berhenti”, dengan implikasi “berhenti dari melakukan pekerjaan”. Jadi Sabat adalah hari untuk orang berhenti bekerja, dengan implikasinya beristirahat. Kebiasaan ini mengacu pada kisah penciptaan alam semesta: Allah “beristirahat” pada hari yang ketujuh seperti yang dikisahkan dalam (Kitab Kejadian, 1).

Selain alasan di atas, kewajiban menguduskan hari Sabat itu mengingatkan bangsa Israel akan pengalaman mereka di Pembuangan: orang harus bekerja tujuh hari dalam seminggu, dari pagi hingga sore. Diperlukan satu hari, pada hari Sabat, untuk berkumpul dan merenungkan Firman Tuhan, berdoa bersama dan berbagi iman, masalah dan harapan mereka. Dengan itu mereka dapat saling menguatkan dalam masa pembuangan itu. Jika tidak, mereka akan kehilangan iman. Karena itulah “Hari Sabat perlu pakai sebagai hari “berhenti bekerja”.

Pemicu Konflik Antara Yesus dan Orang Farisi
Tetapi murid-murid Yesus tidak mengindahkan aturan itu. Mereka memetik gandum dan memakannya karena kelaparan (Bdk. Mateus 12,1). Orang Fasiri mempersoalkan perilaku para murid Yesus itu: “Mengapa kamu melakukan apa yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?” (lih Kel 20: 8-11). Yesus menjawab dengan mengingat bahwa Daud sendiri melakukan hal-hal yang dilarang, karena ia mengambil roti suci dari Bait Suci dan memberikannya kepada para prajurit yang lapar (1 Sam 21: 2-7 ). Dalam Matius, jawaban Yesus lebih lengkap. Dia tidak hanya mengutip kisah Daud, tetapi juga mengutip Peraturan yang memungkinkan para imam untuk bekerja pada hari Sabat: “Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya lapar, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan bagaimana mereka makan roti sajian yang tidak boleh dimakan, baik olehnya maupun oleh mereka yang mengikutinya, kecuali oleh imam-imam?  Atau tidakkah kamu baca dalam kitab Taurat, bahwa pada hari-hari Sabat, imam-imam melanggar hukum Sabat  di dalam Bait Allah, namun tidak bersalah? Aku berkata kepadamu: Di sini ada yang melebihi Bait Allah”.

Pesan Untuk Kita?
Peraturan tentang mengindahkan hari Sabat sebagai “hari istirahat” bertujuan: memberi diri untuk pelayanan kepada Tuhan. Ini bukan masalah ketaatan ritual eksternal. Tuhan meminta kita untuk istirahat dari pekerjaan, agar kita, selain dapat berpartisipasi dalam Liturgi Suci, di mana kita beraneka ragam ini telah dibentuk menjadi satu keluarga Allah; kita pun dapat saling menolong satu sama lain, terutama miskin, yang kecil dan yang sakit. Pada hari Tuhan, kita diberi kesempatan untuk berada bersama Tuhan dan bersama saudara-saudara seiman; saling berbagi, tolong menolong. Itulah sukacita hidup bersama sebagai satu keluarga, satu komunitas. Itulah saatnya merayakan Kasih Allah yang hidup. (*)

Renungan Oleh:
RD Benny Balun.


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •