Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

(Pojok Red@ksi)

Aku mendamba Romo yang penuh kasih, bukan yang pilih kasih.
Aku mendamba Romo yang bajunya kadang kekecilan, kadang kegedean.
Itu berarti pemberian umat sebagai tanda cinta, tanda hormat.

Aku mendamba Romo yang galak tapi sumanak.
KAKU PADA DOGMA, TAPI LUCU KALA CANDA.
Yang lebih sering memegang rosario dibandingkan blackberry.

Aku mendamba Romo yang lebih banyak mendengar, dibandingkan berujar.
Aku mendamba Romo yang menampung air mataku, tanpa ikut menangisi.
Yang mengubah putus asa menjadi harapan,
yang MENGAJARKAN RITUAL SEKALIGUS SPIRITUAL. 

Duuuuh…. damba dan inginku banyak, banyak sekali,
tapi aku percaya tetap terpenuhi.
Karena Romoku mau dan mampu selalu memberi.
Inilah damba dan doaku, Romoku.

Ehhh… masih ada satu lagi,
SEKALI MENGENAKAN JUBAH, JANGAN BERUBAH.
Jangan pernah mengubah, walau godaan mewabah.
Bahkan sampai ada laut terbelah, kenakan terus jubahmu.
Itulah khotbah yang hidup.
Agar aku bisa menjamah seperti perempuan Samaria pada Yesus Allah Tuhanku.

Aku mendamba Romo yang menatapku kalem.
Bersuara adem.
“Berkah Dalem….”

Bait-bait puisi di atas ditulis oleh Arswendo Atmowiloto dan dibacakan saat dialog interaktif di Kompleks Gereja St. Fransiskus Asisi, Tebet, Jakarta, 20 Juni 2010. Hari ini, Minggu/ 06 September 2020, doa dan harapan yang sama dipanjatkan umat Paroki Katedral St Yosef Pangkalpinang untuk Parokus terkasih, RD Laurensius Yustinianus Ta’Laleng yang genap memasuki usia 48 tahun.

Hampir setengah abad yang lalu, di sebuah Desa Leuburi, Wairiang Kedang, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, lahirlah anak kelima dari delapan bersaudara pasangan Flavianus Reo Lelang Wayan dengan Dominika Dau. Tiga puluh dua tahun setelahnya ia memantapkan hati menjalani panggilan hidup sebagai imam di Keuskupan Pangkalpinang.

Ia ditahbiskan sebagai imam oleh Uskup Keuskupan Pangkalpinang yang kedua, Mgr. Hilarius Moa Nurak SVD di GOR Tumenggung Abdul Jamal, Muka Kuning, Batam, 20 Mei 2004 dengan motto tahbisan, “Di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada” (Kis 17:28). Rm Yustin mengawali karyanya sebagai imam dengan menjadi pastor rekan di Paroki Tanjungpinang.

Kolase RD Yustin. KATEDRALPKP/FENNIE

Hingga perjalanan waktu membawanya menjalani peziarahan hidup sebagai Pastor Kepala Paroki Katedral St. Yosef Pangkalpinang atas penunjukan Uskup Keuskupan Pangkalpinang yang ketiga, Mgr Adrianus Sunarko OFM, terhitung 13 Mei 2018. Kini dua tahun sudah perjalanan menggembalakan umat di Paroki Katedral St. Yosef Pangkalpinang. Di tengah perjalanan itu, web ini pun lahir. Pastilah tak ada perjalanan yang mulus. Quote anonim berkata, “Pelaut ulung tidak dilahirkan dari laut yang tenang.”

Selamat ulang tahun Parokus kami, semoga sehat selalu dan full happy. Doa terbaik kami untukmu. “Ad multos Annos”.
YB Mangunwijaya dalam novel ‘Ikan-ikan Hiu, Ido, Homa’ bertutur, “Uang tidak kucari dan emas membuatku menggeleng kepala. Hidup damai yang tahu bahasa bintang adalah pamrihku.” Semoga. (*)

Oleh:
Red@ksi katedralpangkalpinang.com


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •