Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Renungan Harian, Minggu (13 September 2020)
Minggu Biasa XXIV
(Sir 27: 30 – 28: 9; Rom 14: 7-9, Mat 18:21-35)

Ada seseorang datang kepada saya dan mengatakan, “Mo.., saya ini  Katolik,  aktif di KBG dan Paroki. Saya sakit hati dan sangat marah dengan teman sekomunitasku. Sampai kapan pun saya tidak akan memaafkan dia”.  Di akhir kisahnya yang panjang lebar itu, dia bertanya kepada saya, “Bagaimana tanggapan Romo?” Saya menjawab, “Jika seorang Katolik tidak bisa mengampuni, maka janganlah dia menjadi Katolik”.  Dia menjawab dengan mengkerutkan keningnya, “Perkataan ini sangat keras”, sambil berlalu dari hadapan saya. Mungkin dia pergi dengan kecewa atau pun sukacita, saya tidak tahu,  hanya dia dengan Tuhan yang tahu.

Putera Sirakh mengatakan, “Ampunilah kesalahan sesamamu, niscaya dosa-dosamu akan dihapus juga, jika engkau berdoa”. Ada banyak manfaat apabila kita mengampuni sesama. Kita akan mengalami kebebasan batin. Apabila kita mampu memaafkan sesama kita dengan  sepenuh hati dan budi, maka batin kita terbebas dari rasa dendan, amarah dan sakit hati. Kita akan mengalami sukacita baik secara fisik maupun psikis. Dosa-dosa kita akan dihapus jika kita berdoa. Setelah kita mengalami kekebasan batin, kita juga menerima penghapusan dosa. Dosa kita yang merah laksana kirmisi itu akan dihapus oleh Tuhan dan menjadikan putih seperti  salju. Terjalin kembali relasi yang harmonis. Relasi kita yang putus karena dendam dan amarah akan dipulihkan kembali berkat saling memaafkan. Apabila kita mampu mengampuni maka relasi yang beku akan menjadi cair kembali, persudaraan kita akan kokoh dan tidak ada lagi dusta diantara kita.

Santo Paulus menyampaikan bahwa kita adalah makluk sosial.“Tidak ada seorang pun diantara kita hidup untuk dirinya sendiri, dan mati untuk dirinya sendiri, namun entah hidup entah mati kita adalah milik Tuhan”.  Kita adalah milik Tuhan maka kita tidak boleh hidup hanya untuk kepentingan sendiri saja, tetapi harus bersama yang lain. Konskuensinya adalah kita harus mampu menerima keragaman sebagai harta yang berharga. Kita boleh memberikan kritik dan solusi jika ada persoalan dalam kebersamaan. Kita juga harus mampu mengampuni dengan segenap hati jika ada kesalahan diantara kita.

Yesus memberikan tatanan baru membangun komunitas kristiani. Tatanan baru itu adalah saling mengampuni sebagai jalan menuju kehidupan baru.“Hendaknya kamu saling mengampuni sampai tujuh puluh kali tujuh kali”. Yesus mengharapkan kita untuk memberikan pengampunan tanpa batas.  Seperti kata Pemazmur, “Dialah yang mengampuni segalah kesalahnanmu, dan menyembuhkan segala penyakitmu! Dialah menebus hidupmu dari liang kubur, dan memakotai engkau dengan kasih setia dan rahmat”. Oleh karena itu, bagi seorang Katolik tidak boleh menyimpan dendam dan amarah dengan mengatakan, “sampai  kapan pun tidak akan kumaafkan”. “Barangsiapa membalas dendam akan dibalas oleh Tuhan……Demikilah Bapa-Ku yang di surga akan berbuat terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.(*)

Renungan Oleh:
RD Yos Anting

 


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •