Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

RENUNGAN HARIAN

Sabtu Minggu Biasa XXVIII, 12 September 2020

Bacaan :

1 Korintus 10:14 – 22a

Lukas 6 : 39 – 49

Saudara-saudari……

Seekor burung akan hilang keseimbangan atau bahkan tidak bisa terbang kalau salah satu sayapnya bermasalah. Walaupun sayap yang sebelah masih aman atau utuh tetapi sayap sebelah patah atau sakit, sang burung akan hilang keseimbangan. Apabila dia masih mempunyai tenaga yang cukup untuk terbang tetapi dia tidak akan bertahan lama dan pasti terkapar.

Kalau boleh, saya masuk dalam sebuah kehidupan anak manusia. Semua anak manusia dilengkapi oleh Sang Pencipta dengan dua mata, dua telinga, dua tangan dan seterusnya. Coba kita amati dan renungkan dengan baik, disaat salah satu dari kedua anggota tubuh yang berpasangan tersebut mengalami gangguan, pasti yang lain akan ikut terganggu. Atau salah anggota sakit, tidak saja bagian lain ikut sakit tetapi serasa hidup ini “tak utuh”. Dengan kata lain, keseimbangan hidup menjadi hilang.

Saudara-saudari……

Hari ini, melalui Injil 6 : 43 – 49, Kita disodorkan dua (2) kisah cerita, yakni Pohon dan buah (Luk. 6 : 43 – 45) dan Dua macam dasar (Luk. 6 : 46 – 49). Sekilas Kita membacanya seolah kedua perumpamaan ini berbeda antara perumpamaan yang satu dengan perumpamaan lainnya. Apabila Kita membaca dan merenungkannya dengan baik dan mendalam, kedua perumpamaan tersebut secara implisit berbicara soal KESEIMBANGAN antara IMAN DAN AKTUALITAS.

Beriman berarti percaya, mengakui dan meyakini sesuatu. Beriman kepada Tuhan artinya percaya, mengakui dan meyakini bahwa Tuhan adalah Allah yang menjadikan semuanya dan segalanya. Tuhan menciptakan semuanya dengan baik. Dan Tuhan menghendaki yang baik atas hidup manusia.

Orang yang beragama adalah orang telah beriman kepada Tuhan. Maka orang beriman tidak hanya percaya, mengakui dan meyakini bahwa Tuhan itu ada dan berkarya, tetapi harus terungkap, mewujudnyata atau dalam bahasa Lukas HARUS BERBUAH dalam hidup yang nyata. Sebagaimana Tuhan yang adalah sumber kebaikan yang telah dipercayai, diakui dan diyakini harus teraktualisasi, tampak dan berbuah yang baik dalam hidup keseharian. Pohon yang baik harus menghasilkan buah yang baik. Sebab setiap pohon dikenal pada buahnya. Karena dari semak duri orang tidak memetik buah ara dan dari duri-duri tidak memetik buah anggur (Luk. 6 : 44). Orang yang percaya kepada Tuhan harus seimbang antara iman dan aktualitasnya, yakni buah-buah Roh dan bukan sebaliknya.

Orang beriman yang telah mencapai tahap KESEIMBANGAN antara IMAN DAN AKTUALITAS adalah orang yang berseru : Tuhan, Tuhan tetapi dan melakukan apa yang dikatakan Tuhan kepadanya. Sebaliknya Iman tanpa Aktualitas adalah orang yang hanya berseru : Tuhan,Tuhan tetapi tidak melakukan apa yang dikatakan Tuhan.

Keseimbangan antara iman dan aktualitas merupakan DASAR BATU yang digunakan seseorang untuk membangun rumah kehidupannya. Badai apapun yang datang menghadang, rumah kehidupannya tidak akan goyah apalagi sampai roboh karena diletakkan di atas dasar TUHAN dan HIDUP KOMUNIO. Tuhan menjadi dasar imannya dan Hidup Komunio adalah dasar aktualitasnya.

Saudara-saudari………

Antara Iman dan Aktualitas harus berjalan beriringan. Iman tidak bisa hidup tanpa aktualitas. Dan aktualitas tidak bisa berjalan tanpa iman. Keduanya harus berjalan bersama; keduanya harus seimbang. Sebagaimana seekor burung hanya bisa terbang dengan baik dan sempurna kalau kedua sayapnya bergerak bersama; atau seorang anak manusia hanya bisa merasa aman dan nyaman kalau kedua matanya, kedua tangannya, kedua telinganya dan seterusnya berfungsi dengan baik, demikianlah iman dan aktualitas akan membuat hidup menjadi selaras dan seimbang untuk meraih kebahagiaan yang sejati.

Iman yang berbuah baik dalam hidup akan menghantar orang sampai pada sebuah titik kebahagiaan, sukacita dan kegembiraan yang sejati dalam Tuhan. Orang yang mampu menyeimbangkan antara iman dan perbuatan (aktualitas) adalah orang yang membangun rumah kehidupannya di atas dasar batu. Badai, cobaan, godaan atau kesulitan apapun yang datang menghadang, rumah kehidupannya akan tetap kokoh berdiri karena didirikan di atas batu.

Pertanyaan reflektif untuk Kita, Apakah Kita sudah memiliki KESEIMBANGAN antara IMAN DAN AKTUALITAS dalam hidup keseharian?  Ataukah kita hanya berseru : Tuhan, Tuhan, yakni beriman tanpa menghidupinya? Atau sebaliknya, Kita aktif bekerja, melakukan ini dan itu tanpa melibatkan Tuhan.  Tuhan, melalui sabda-Nya hari ini, mengajak kita untuk menyelaraskan antara iman dan perbuatan (aktualitas). Iman dan aktualitas harus berjalan beriringan. Dengan demikian Kita akan mendapatkan keseimbangan dalam hidup. Tuhan memberkati. Amin.

Renungan Oleh: RD. Andre Lemoro


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •