Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Renungan Harian, Selasa (15 September 2020)
Bacaan :

  • Ibr.5:7-9
  • Yoh. 19:25-27
  • Santa Perawan Maria Maria Berdukacita
  • Seorang ibu mengalami depresi yang sangat berat, ketika dalam setahun kehilangan orang-orang yang dicintainya. Betapa tidak! Baru beberapa bulan berduka karena kematian suami yang sangat mengasihinya, kedua puteranya meninggal dalam kecelakaan, ketika bus yang ditumpangi bersama teman-temannya untuk melaksanakan study tour mengalami kecelakaan. “Tuhan, apakah dosa saya, sehingga orang-orang yang saya sayangi Kau ambil secepat ini? Mengapa Engkau memberi aku beban seberat ini?” Sambil menangis, begitulah kata-kata yang selalu diucapkan saat setiap orang mengunjunginya. Tak henti-hentinya saudara dan para sahabat menghibur dan menguatkan hatinya, namun tetap saja tak terjadi perubahan, hingga suatu peristiwa itu terjadi…….

    Beberapa ibu anggota Legioner mengunjunginya dengan membawa gambar Bunda Maria yang sedang memangku jenazah Yesus yang terluka. Mereka memasang gambar itu di sebuah meja, di dekatnya dipasang juga Salib dan lilin menyala. Mereka mengajak si ibu, berlutut dan berdoa “Salam Maria”. Sebelum doa itu berakhir, si ibu itu mengambil gambar itu, menciumi wajah Bunda Maria dan Yesus bergantian sambil berkali-kali berkata: ”Bunda maafkan aku, Yesus ampunilah aku”; disertai mengalirnya air mata tiada henti. Sejak saat itu ia menjadi seorang aktifis Legio Maria di parokinya. (Dikisahkan kembali secara singkat dari sharing seorang ibu Legioner di Yogya, tahun 1975).

    Hari ini Gereja merayakan Peringatan Santa Maria Berdukacita. Tak terbayangkan betapa berat penderitaan dan jeritan hati Bunda Maria, ketika ia dengan setia mengikuti Jalan Salib Yesus sampai di Golgota. Tak terbayangkan betapa hancur hatinya, menyaksikan satu-satunya Putera yang disayanginya dihujat, didera diperlakukan dengan tidak adil, bahkan jenasah-Nya pun masih ditikam lambung-Nya.  Mengapa Bunda Maria sanggup dan mampu  menghadapinya?

    Satu hal yang pasti, Bunda Maria telah sangat memahami dan menghayati kesetiaan akan panggilannya sebagai Bunda Penebus. Sebelum Yesus lahir, ia harus berjalan jauh untuk cacah jiwa. Setelah Yesus lahir, ia harus mengungsi karena ancaman Herodes, ketika Yesus berumur 12 tahun ia harus kembali ke Yerusalem untuk mencari Yesus yang tertinggal di sana. Ketika pesta perkawinan di Kana, saat Bunda Maria mengadu kepada Yesus tentang habisnya anggur, Iapun menerima jawaban: “ Mau apakah engkau dari pada-Ku, ibu? Saat Ku belum tiba.” Pengalaman-pengalaman sakit hatinya itu, telah mempersatukan hidup Bunda Maria dengan hidup Yesus sendiri, mempersatukan panggilan Bunda Maria dengan panggilan Yesus sendiri. Kesatuan dukacita yang membawa kesatuan keselamatan dan kebahagiaan.

    Umat Katolik dapat belajar dari Bunda Maria dalam  menjalani hidup secara “new normal” dengan mentaati protokol kesehatan. Tidak bisa bebas berjumpa dan berkumpul dengan sanak saudara, terganggu karena wajib memakai masker, harus isolasi bagi yang terpapar, kesulitan ekonomi berkepanjangan yang timbul sebagai dampak dan sebagainya, belum seberapa berat dibandingkan dukacita Maria.  Mampukah umat menjalaninya? (*)

    Renungan Oleh:
    Ignatius Sumardi


    Share
    •  
    •  
    •  
    •  
    •  
    •  
    •  
    •