Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Renungan Harian, Rabu 16 September 2020
Minggu Biasa XXIV
Peringatan Wajib St. Kornelius, Paus dan St. Siprianus, Uskup dan Martir
Bacaan: 1Kor. 12:31-13:13; dan Luk. 7:31-35

Dalam Luk 7:31-35 dikisahkan Yesus berhadapan dengan orang-orang Farisi dan Ahli Taurat yang diumpamakan seperti anak-anak yang duduk di pinggir jalan dan yang menyerukan “Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak menangis” (Luk 7:2).

Melalui perumpamaan ini Yesus mau melukiskan betapa sulitnya orang Farisi dan ahli Taurat untuk bersikap rendah hati dan terbuka menghargai dan menerima kebaikan Allah yang ditawarkan oleh Yohanes Pembaptis dan Yesus. Mereka tidak mau memahami warta (kata dan perbuatan) Yesus dan Yohanes Pembaptis. Di mata mereka Yesus dan Yohanes tidak benar, maka mereka menolak dibaptis oleh Yohanes Pembaptis (Luk 7:30) dan menolak ikut Yesus. Mereka mengecam perbuatan Yohanes yang tidak makan roti dan minum anggur sebagai perbuatan orang yang kerasukan setan. Sebaliknya ketika Yesus tampil dan melakukan hal yang sebaliknya atau terbalik dari apa yang menjadi kebiasaan Yohanes, malah Yesus dicap sebagai seorang pelahap dan peminum, (Bdk. Mrk 2:18; Mat 9:14).

Hal itu terjadi karena di dalam kepala dan hati mereka ada perasaan benci dan iri hati. Mereka benci karena baik Yohanes maupun Yesus dilihat sebagai pesaing yang membahayakan posisi mereka. Mereka iri karena Yohanes dan Yesus lebih diterima dan dipercayai oleh masyarakat. Mereka juga iri karena mereka tidak bias melakukan hal yang Yohanes dan Yesus bias lakukan. Bahkan akhirnya Yesus dan Yohanes dibunuh karena rasa dengki mereka (bkd. Mat 27.18 dan Mrk 6:19).

Iri hati dan benci sesungguhnya menandakan ketidakmampuan seseorang untuk mengenal dan menerima keadaan diri apa adanya dan kegagalan untuk mengakui kelebihan orang lain. “Mengapa mukamu merah dan hatimu panas dan mukamu muram. Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya.” Demikian teguran Allah kepada Kain yang merasa iri karena persembahannya ditolak (Kej 4:6-7).

Bagi orang yang dipenuhi rasa benci dan iri, kelebihan orang lain dipandang menjadi beban, menjadi saingan dan bahkan menjadi ancaman, sehingga perbuatan apa saja yang dilakukan orang lain dianggap tidak baik. Orang seperti ini akan berusaha sekuat tenaga untuk membuat orang lain gagal. Baginya kegagalan orang lain merupakan kesuksesan dan kebahagiaan baginya. Namun pada sisi lain, hidupnya tak pernah nyaman karena selalu melihat dan membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain. Ketika orang lain lebih sukses darinya, dia pun merasa marah dan berusaha untuk menyebarkan hal-hal yang negatif tentang orang tersebut. Ketika orang lain gagal, dia akan menyombongkan diri sebagai orang yang hebat. Tidak jarang orang seperti ini berlaku munafik seperti orang farisi dan ahli taurat; mereka berusaha tampil seolah-olah hebat tetapi sebetulnya tidak mampu. Mereka ibarat tong kosong, nyaring bunyinya (1Kor 13:1)

Bagaimana dengan kita? St, Paulus dalam 1Kor 12:31-13:13 mengajak kita untuk memperoleh karunia-karunia yang paling utama dengan menunjukkan kasih dalam sikap, kata dan perbuatan nyata: sabar; murah hati; tidak cemburu, tidak memegahkan diri,tidak sombong, tidak melakukan yang tidak sopan,tidak mencari keuntungan diri-sendiri, tidak pemarah, tidak menyimpan kesalahan orang lain, tidak bersuka cita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran, menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.” (1Kor13:1-13).

Mari kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran. (1Yoh 3:18). Mari kita berusaha untuk menjadi pribadi yang terbuka dan rendah hati sehingga kita bias berguna dan bernilai bagi sesama.
Tuhan memberkati. (*)

Renungan Oleh:
Andi Kris


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •