Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Renungan Harian, Kamis (17 September 2020)
Bacaan: 1Kor. 15:1-11; Mzm. 118:1-2,16ab-17,28; Luk. 7:36-50.

Injil hari ini menyajikan kepada kita kisah tentang wanita dengan parfum yang disambut oleh Yesus pada  suatu pesta di rumah Simon, orang Farisi. Salah satu aspek kebaruan dari Kabar Baik Yesus adalah sikapnya yang mengejutkan kepada para wanita. Pada masa Perjanjian Baru, hidup wanita sangat terpinggirkan. mereka tidak diperbolehkan berpartisipasi dalam kehidupan bersama di Sinagoga dan tidak bisa menjadi saksi. Namun, banyak wanita menolak pengecualian atau pengucilan ini. Pada zaman Ezra, pengucilan para wanita oleh otoritas agama meningkat (Ezr 9.1- 10.44) dan meningkat pula perlawanan wanita terhadap pengucilan itu, seperti yang kita lihat dalam cerita Judith, Esther, Ruth, Naomi , Susanna, della Sulamita, dan lainnya. Perlawanan ini rupayanya cukup bergema dan mendapat sambutan baik dari Yesus, seperti dalam misah Injil hari ini.

Sikap Yesus: Asal Mula Lahirnya Perdebatan. Ada tiga orang berbeda bertemu satu sama lain. Mereka itu adalah: Yesus, Simon orang Farisi, seorang Yahudi yang taat, dan wanita, yang dikatakan sebagai orang berdosa. Yesus ada di rumah Simon yang telah mengundangnya untuk makan siang. Wanita itu masuk, mendekatkan dirinya di kaki Yesus, menangis, ia membasahi kaki Yesus dengan air matanya, kemudia melepaskan ikatan rambutnya untuk mengeringkan kaki Yesus, menciumnya dan mengolesinya dengan parfum. Mengendurkan rambut Anda di depan umum adalah tanda kemandirian. Yesus mundur, dan tidak mendorong wanita itu pergi, tetapi menyambutnya.

Reaksi Orang Farisi dan Tanggapan Yesus Yesus menyambut seseorang yang, menurut kebiasaan zaman itu, tidak dapat diterima, seorang berdosa. Orang Farisi mengkritik Yesus dan mengutuk wanita itu: “Jika ini adalah seorang nabi, dia akan tahu siapa dan wanita macam apa dia yang menyentuhnya: dia adalah orang berdosa.” Yesus menggunakan perumpamaan untuk menanggapi kritikan orang Farisi.

Perumpamaan Tentang Dua Pengutang Yang satu berutang 500 dinar, yang lainnya 50. Tidak ada yang bisa membayar. Keduanya dimaafkan. Manakah dari keduanya yang akan lebih mencintai tuannya? Tanggapan dari orang Farisi: “Saya kira orang yang paling diampuni!” Perumpamaan ini mengandaikan bahwa baik orang Farisi maupun wanita dengan parfum itu, telah menerima kebaikan dari Yesus. Mereka pun menanggapi kebaikan yesus dengan cara masing-masing: Orang Farisi menunjukkan kasihnya, rasa syukurnya dengan mengundang Yesus makan di rumahnya.  Wanita itu pun menunjukkan cintanya, rasa terima kasihnya dengan melakukan empat tindakan berturut-turut:  dia mencium kaki Yesus, membasuh dengan air mata, mengeringkan dengan rambutnya dan mengolesinya dengan parfum.  Mengapa Ia mencium Kaki Yesus? Itu adalah tanda ungkapan kelembutan; kelembutan hanya muncul dari cinta yang tulus dan cuma-cuma;

SUMBER FOTO : https://www.incamm.com/2016/06/padre-raniero-cantalamessa-venne-una.html

Membasahi kaki Yesus dengan Air Mata: Mengapa membasahi kaki Yesus dengan air mata? Karena air mata membasuh dan memurnikan hati orang yang membiarkannya mengalir. Dan wanita itu membutuhkan pemurnian batin. Dengan membasahi kaki Yesus dengan air mata, wanita itu menyampaikan perasaannya yang paling intim kepada Tuhan. Pada saat dia yang membasahi kaki Yesus sesungguhnya ia sendiri sedang membasuh dirinya dari dalam.

Mengeringkan dengan rambut: ada satu gerakan menggugah yang luar biasa. Gambar tersebut membawa kita kembali ke Kidung Agung. Di sini mempelai laki-laki, terpesona oleh rambut kekasihnya, berseru: “Rambutmu adalah sekawanan kambing yang turun dari lereng Gilead” (Ct 4, 1; 6, 5).

Mengurapi dengan Parfum: adalah ungkapan hatinya yang penih kasih kepada Yesus. Minyak wangi adalah cairan berharga yang disimpan untuk acara-acara luar biasa dan istimewa. Itu adalah ungkapan rasa hormat kepada orang yang dikasihi.

Pesan Yesus untuk Orang FarisiSetelah menerima jawaban orang Farisi, Yesus menerapkan perumpamaan itu. Meskipun dia berada di rumah orang Farisi, Yesus tidak kehilangan kebebasan untuk berbicara dan bertindak. Dia membela wanita itu dari kritik terhadap cara hidup dan pandangan orang Yahudi. Pesan Yesus untuk orang-orang Farisi sepanjang masa adalah ini: “Dia yang sedikit diampuni, mencintai sedikit!”; Orang farisi berpikir dan merasa bahwa dia bunak orang berdosa; maka ia mengkritik Yesus yang menerima wanita pendosa. Dia menaati peraturaan keagamaan teteapi tidak memiliki kasih kepada para pendosa. Karena itu Yesus berkata: ” Simon, meskipun kamu menawarkan perjamuan makan padaku, tetapi kamu memiliki sedikit cinta! “. Firman Yesus untuk Wanita ItuKasih yang ditujukkan wanita itu pada Yesus lahir dari sikapnya yang sadar diri bahwa dia seorang berdosa yang membuthkan kasih pengampunan Tuhan. Maka Yesus menganugerahkan pengamounan itu: “Dosamu telah diampun; imanmu telah menyelamatkanmu. Pergilah dengan damai!” Di sini muncul kebaruan dari sikap Yesus, Dia tidak mengutuk, tetapi menyambut. Dan imanlah yang membantu wanita itu untuk menyadaari diri sebagai pendosa dan untuk bertemu dengan Tuhan. Perjumpaan seperti itu menjadi kekuatan besar bagi si pendosa untuk “hidup” kembali.(*)

Renungan Oleh:
RD Benny Balun


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •