Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

PANGKALPINANG, KATEDRALPANGKALPINANG.COM – Adalah Simpanan Khusus Berjangka disingkat “Sikhujang”, produk dari Koperasi Cipta Sejahtera (KCS) yang kini menghidupi beberapa Komunitas Basis Gerejawi (KBG) di wilayah Paroki Katedral St. Yosef, Pangkalpinang.

“Ini bukan cuma menghidupi KBG secara ekonomi, tetapi juga menghidupi umat. Melalui ini partisipasi umat bertumbuh, berkembang. Hati umat secara perlahan juga ada untuk orang lain. Itulah beriman. Apalagi fokus pastoral keuskupan kita tahun ini, ‘Membangun Komunio yang Murah Hati dan Maha Rahim’. Murah hati tidak harus memberi, dengan ikut arisan kita tidak berkurang, orang tertolong. Kita cuma mengambil dari yang lebihnya,” ujar pengelola KCS, Ignatius Sumardi di kantornya Jalan Sungaiselan Km.4, Pangkalpinang, Rabu (16/09/2020).

Ignatius Sumardi bersama para penggerak koperasi Bangka Belitung. (KATEDRALPGK/ SULIST)

Katekis yang sekaligus pegiat koperasi ini bertutur, simpanan berjangka yang koperasinya tawarkan ada beberapa pilihan.
”Untuk 12 bulan, bonusnya satu kali setoran bulanan. Untuk 24 bulan simpanan bonusnya tiga kali setoran bulanan dan seterusnya, dengan pilihan nominal simpanan bervariasi yakni Rp 50.000, Rp 100.000, Rp 250.000 dan Rp 500.000. Khusus KBG St. Thomas 1, 2, 3 dan 4 di wilayah III Paroki Katedral Pangkalpinang, kami mengikuti simpanan per 24 bulan untuk satu periode dengan nominal simpanan sesuai kemampuan umat. Dan saat ini kami memasuki periode kelima,” ujar pribadi yang sudah malang melintang di dunia koperasi sejak tahun 1980-an ini.

Ia melanjutkan, intinya ini arisan karena setornya setiap bulan, tetap dan tanpa bunga karena bonusnya masuk ke kas KBG. Uang kas tersebut kemudian dimanfaatkan untuk membantu umat yang sakit dan berduka serta keperluan lainnya.
“Kalau mengandalkan kolekte mingguan di KBG berapa sih? Tidak cukup. Sekarang kita tidak pernah lagi minta duit ke paroki. Tempo hari ada umat pendatang yang meninggal di wilayah kita, dengan uang itu juga kita memakamkan jenazah tersebut. Termasuk membagi beras ke warga yang membutuhkan saat pandemi Covid-19 ini,” imbuhnya.

Menurut Sumardi, sekarang KBG St. Yohanes XXIII di wilayah 9 juga mulai mengikuti produk “Sikhujang”.
“Di Paroki St. Bernadeth juga ada satu KBG yang sudah memulai. Mayoritas umat di KBG yang ikut 95 persen terlibat. Dalam satu keluarga ada satu atau dua orang yang ikut. Inikan partisipatifnya masuk, pemberdayaan intern,” terang mantan pengurus Dewan Pastoral Paroki (DPP) era Amung Tjandra, tahun 1970-an ini.

Terpisah, Ketua wilayah III Yohanes Alung kepada katedralpangkalpinang.com mengakui dengan menjadi anggota “Sikhujang” umat secara tidak langsung ikut berpartisipasi membantu keuangan KBG dan wilayah, dan secara tidak langsung juga ikut berkomunio.
“Karena bonus dari ‘Sikhujang’ digunakan untuk membiayai semua kegiatan/program KBG/wilayah. Kalau soal merasa terbantu, ya sangat terbantu karena bisa dibilang ‘Sikhujang’-lah sumber utama kas wilayah III untuk menjalankan program-program KBG/ wilayah,” tegasnya.

Mengadopsi Ide Arisan Lestari
Sumardi memberi kesaksian, ide produk “Sikhujang” milik KCS hadir sejak “Arisan Lestari” berhenti. Produk “Sikhujang” mengadopsi “Arisan Lestari” yang dulu pernah dirintis oleh Uskup Keuskupan Pangkalpinang kedua, Mgr Hilarius Moa Nurak SVD.

Formulir kepesertaan. (KATEDRALPGK/ FENNIE)

Saat “Arisan Lestari” digerakkan di Paroki Katedral St. Yosef Pangkalpinang tahun 1995, RD FX Hendrawinata adalah Parokus saat itu. Ia menceritakan, ide awal Uskup adalah menghadirkan Dana Abadi untuk mendukung keuangan keuskupan dan paroki.
“Tapi waktu itu Mgr Hila mengusulkan penggalangan dana yang bersumber dari kalangan terbatas, tokoh umat. Lalu Pak Mardi (Ignatius Sumardi-red) yang saat itu duduk di Komisi Kateketik Keuskupan mengusulkan gerakan yang melibatkan seluruh umat. Lalu ‘Arisan Lestari’ yang melibatkan semua umat dipilih sebagai cara penggalangan Dana Abadi, menggantikan ide membentuk Dana Abadi yang hanya melibatkan umat terbatas,” kenang Pastor Hendra.

Sempat berjalan sekitar tiga periode dengan masing-masing periode berlangsung selama setahun, bunga bank yang terkumpul dari “Arisan Lestari” seingat Pastor Hendra saat itu sekitar Rp 1,5 milyar.
“Lalu dari uang tersebut Keuskupan Pangkalpinang salah satunya menghadirkan Toko Buku Widya Lestari yang kemudian berkembang menjadi Toko Buku Gramedia Bangka, di mana ada saham keuskupan di sana. Semua suku usaha keuskupan yang ada nama Lestari-nya berasal dari sumber dana ‘Arisan Lestari’ tersebut,” terang mantan Vikjend Keuskupan Pangkalpinang ini.

Terpisah, menurut Sumardi “Arisan Lestari” berhenti seiring bunga bank yang kian menurun.
“Awal Arisan Lestari berjalan, bunga bank di atas 20 hingga 30 persen. Bahkan sempat beberapa bulan mencapai 50 persen, tetapi ketika bunga bank menurun, arisan itu pun bubar. Diberhentikan,” kenangnya.

Ia mengimbuhkan, idenya sebetulnya uang yang dikumpulkan umat berguna untuk banyak orang.
“Uang ini kita putar untuk yang memerlukan. Yang memerlukan bermanfaat, yang memberi tidak kekurangan. Komunitas terbangun. Saling mendukung, saling membantu, saling mengangkat dengan pola tabungan ini. Ini bukan untuk orang berduit. Orientasinya ke masyarakat kecil,” tandas Sumardi.

Tatkala katedralpangkalpinang.com menyinggung semangat rasuli-nya, Sumardi berpendapat koperasi adalah sarana baginya untuk memperkenalkan Gereja di tengah masyarakat.
“Sebagai katekis ini cara saya merasul. Yang tidak khotbah melalui mimbar, tetapi lewat pasar. Tidak dengan umat, tetapi ke masyarakat banyak. Mewartakan Kerajaan Allah itu dengan membantu orang, memberi penyuluhan bagaimana cara mendapatkan duit, mengatur duit, dan membuat hidup menjadi lebih baik. Itu katekese yang hidup, pewartaan yang sungguh hidup. Berkatekese itu tentang Injil, itu penting untuk umat. Untuk masyarakat? Gereja kita di mana tempatnya? Di mana kita mau tampil supaya diakui dan diterima? Koperasi adalah sarana untuk Gereja merasul,” tandas mantan Ketua Pusat Koperasi Kredit (Puskopdit) yang anggotanya tersebar di Pulau Bangka, Belitung, Batam dan Tanjunguban-Kepulauan Riau ini.

Semoga menjadi inspirasi bagi banyak orang. Siapa menyusul? (katedralpgk)

Penulis : caroline_fy
Editor : caroline_fy


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •