Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Salam!

Hai, Umat Beriman Katolik Paroki Katedral Pangkalpinang apa kabar? Semoga kita selalu diberikan kesehatan dan keselamatan. 

Kali ini kami ingin mengajak umat Paroki Katedral Pangkalpinang berkenalan dengan sosok Romo Berto Nur Arifin Putra Ngita, Pr  atau biasa disapa Romo Berto.

Informasi singkat tentang Romo Berto pasti sudah umat sekalian ketahui melalui group WhatsApp di pengurus wilayah dan KBG Paroki Katedral Pangkalpinang.

“Berdasarkan Surat Bapak Uskup No. 092/A.9b/IX/2020, maka Bapak Uskup memberikan PENUGASAN SEMENTARA kepada Romo Berto Nur Arifin Putra Ngita, Pr (Rm. Berto) menjadi Pastor Rekan di Paroki Katedral Sampai Bulan Maret 2021 di Paroki katedral”.

Biar kita lebih akrab, yuk simak Question and Answer (QnA) pertanyaan dan jawaban dengan Romo Berto berikut ini

Romo Berto Nur Arifin Putra Ngita, Pr

Biodata

Nama                 : Bertolomeus N.A.P. Ngita

Tempat/Tgl Lahir: Ruteng, 24 Agustus 1979

Riwayat Pendidikan:

1986-1992: SD Inpres Dongang, Ruteng, Flores, NTT.

1992-1995: SMP Seminari Pius XII Kisol, Flores, NTT.

1995- Desember 1997: SMA Seminari Pius XII Kisol, Flores, NTT.

Januari- Juni 1998: SMA Negeri 2 Ruteng, Flores, NTT

Juli 1999-Februari 2001: Kelas Persiapan Atas (KPA) Seminari Sintang Mataloko, Bajawa, Flores, NTT.

Maret 2001- Maret 2004: St Camillus College, Marikina City, Manila, Filipina.

2006-2007: Tahun Orientasi Rohani St. Markus, Pematangsiantar, Sumatera Utara.

2007-2011: Studi Filsafat dan Teologi di Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFT) St. Yohanes, Pematangsiantar, Sumut.

2012-2014: Post S1, STFT St. Yohanes Pematangsiantar Sumut.

2017-2020: S2 Teologi Dogmatik Universitas Kepausan Urbaniana Roma, Italia.

Q 1. Halo Romo Berto, Apakah sebelumnya Romo sudah pernah ke Bangka?

Setelah menjalani persiapan diakonat di Paroki Hati Santa Perawan Maria Tanjung Pinang, saya akhirnya diperkenankan untuk menerima tahbisan Diakonat di Paroki Bernadet pada pesta pertobatan St Paulus, 25 Januari 2015.

Selanjutnya saya menjalani masa diakonat di Paroki yang sama. Lalu, Alm Mgr Hilarius juga memperkenankan saya untuk menerima urapan atau Tahbisan Imamat pada 02 Agustus 2015 di Paroki St. Fransiskus Koba.

Secara pribadi saya bersyukur ditahbiskan pada tanggal tersebut, karena bersamaan dengan peringatan tahbisan imam dan uskup alm Mgr Hilairus. Setiap kali merayakan ultah imamat, saya akan selalu merayakannya bersama alm Mgr Hilarius yang saya yakin sudah berada di surga untuk menjadi pendoa bagi kita semua.

Saya ingat pertama kali ke Bangka pada 29 Juli 2005. Itu terjadi setelah lamaran saya untuk menjadi calon Imam di Keuskupan Pangkalpinang diterima oleh Yang Mulia Mgr Hilarius. Begitu tiba, saya disambut dengan hangat oleh Mgr Hilarius dan imam-imam yang ada saat itu.

Saya diminta terlebih dahulu menjalani Tahun Orientasi atau pengenalan keuskupan dengan melayani sebagai staf atau pendamping retret di rumah retret Puri Sadhana sampai Juni 2006. Setelah itu, saya melanjutkan tahun pembinaan di Pematangsiantar hingga tamat tahun 2014 yang lalu. Tahun Orientasi Pastoral saya jalani di Kepulauan Riau, tepatnya di Stasi Moro, Paroki St. Yoseph Tanjung Balai Karimun.

Saya baru kembali ke Pulau Bangka setelah tahbisan karena ditugaskan sebagai staf Pembina di Seminari Mario John Boen dari Oktober 2015 – Februari 2017. Selanjutnya saya berangkat untuk melanjutkan studi di Roma.

Q 2. Bagaimana reaksi Romo setelah mendapat penugasan sementara di Paroki Katedral Pangkalpinang?

Setelah tiga tahun menjalani studi di Roma dan sebelumnya bertugas sebagai staf Seminari Menengah Mario John Boen,  mendapat penugasan di paroki adalah sesuatu yang menyenangkan.

Kendati bersifat sementara, penugasan di Paroki Katedral adalah penugasan pertama saya sebagai Imam untuk mengalami pelayanan umat secara lebih dekat. Sebagai imam diosesan, berada dekat dan bersama umat di paroki adalah kesempatan berahmat untuk mengenal lebih jauh pergumulan umat dan bagaimana sebagai Imam saya bisa ambil bagian dalam pergumulan tersebut. Tentu pergumulan itu secara khusus untuk mengembangkan visi misi dan spiritualitas Gereja Keuskupan Pangkalpinang.

Q3. Sebelum ke Paroki Katedral Pangkalpinang, perjalanan Romo sudah ke daerah mana saja?

Selain menghabiskan waktu 8 tahun dalam dunia formatio di Seminari Tinggi St. Petrus Pematang siantar, saya sudah pernah bertugas di Paroki Tg. Balai Karimun (TOP), persiapan Diakonat dan Diakon di Paroki HSMTB Tg, Pinang. Khusus untuk wilayah pelayanan paroki HSMTB, saya sudah pernah mengunjungi sampai wilayah Anambas yang saat ini sudah berdiri sebagai paroki. Di wilayah Kevikepan Bangka Belitung, saya sudah pernah membantu semua paroki untuk pelayanan misa saja tatkala diundang untuk membantu.

Q4. Punya kenangan khusus atau hal berkesan dengan Paroki Katedral Pangkalpinang?

Saya baru saja memulai penugasan di Paroki Katedral Pangkalpinang. Sesungguhnya belum ada kesan yang khusus. Yang pasti banyak umat yang belum mengenal saya sebagai Imam. Apalagi sepulang dari Roma, saya sering disapa “Pak” atau “Bapak” oleh beberapa umat. Bahkan di salah satu stasi ketika membantu beberapa waktu yang lalu, saya dikira Romo baru dari Sungailiat. Tetapi sejauh yang saya alami ketika membantu pelayanan misa di wilayah katedral sebelumnya, umatnya ramah dan senang untuk berbagi cerita atau diskusi tentang hal-hal yang bersifat pastoral.

Q5. Bagaimana pendapat Romo menjadi pastor rekan di Paroki Katedral Pangkalpinang di masa pandemi Covid-19?

Saya senang sekali karena punya rekan senior dan berpengalaman. Tentu banyak kiat-kiat hidup pastoral yang bisa dipelajari dan memperkaya kazanah pengetahuan dan terutama kedalaman iman saya.

Q6. Sesampainya di Paroki Katedral Pangkalpinang, bagaimana hubungan dengan rekan imam lain yang bertugas di Paroki Katedral Pangkalpinang?

Hubungan kami baik terlebih karena kami sudah saling kenal sebelumnya. Dan tentu komunikasi dan kerja sama yang baik akan sangat menolong kami dalam melayani umat secara maksimal sebaik yang bisa kami berikan.

Q7. Ada pesan kepada umat Paroki Katedral Pangkalpinang menyikapi pandemi Covid 19?

Tentu saja bersama-sama kita mematuhi protokol kesehatan yang sudah ditetapkan oleh pemerintah. Sebagai umat beriman, tentu sangat baik dalam semangat komunio kita tak henti-hentinya berdoa agar wabah ini segera berlalu. Kita berdoa bagi siapa saja yang terlibat dalam upaya menemukan vaksin atau merawat pasien yang terjangkit agar dapat bekerja dan melayani secara maksimal demi kabaikan kita semua.

Q8. Apa ayat yang menyentuh bagi Romo Berto dalam semangat pelayanan?

Tentu saja ayat yang berkesan bagi saya adalah Mat 12:20 yang menjadi motto panggilan saya. Bunyinya demikian: “Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan di padamkan-Nya”. Ayat ini seakan merangkum perjalanan panggilan saya yang tidak saya lalui dengan mudah. Namun toh saya bisa melaluinya dan saya yakin itu bukan karena kehebatan saya tetapi karena Allah selalu hadir dan siap mengangkat dan membantu saya untuk melangkah maju walau saya sudah jatuh berkali kali. Kiranya pengharapan dan keyakinan yang sama kita miliki semua. Allah itu sungguh baik dan Dia tidak akan membiarkan kita terpuruk jatuh sendirian.

 

Penulis; Dhina


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •