Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

PANGKALPINANG, KATEDRALPANGKALPINANG.COM – Adalah sosok Romo Stefanus Hendrianto, S.J. Ph.D yang ditahbiskan sebagai imam di Portland, Oregon, Amerika Serikat, 08 Juni 2019. Merujuk novel karya YB Mangunwijaya ‘Burung-burung Rantau’, Rm Hendri mengibaratkan dirinya saat ini seperti burung rantau yang sedang terbang ribuan mil dan belum tahu kapan pulang.

“Akan tetapi saya tetap tahu jalan pulang,” tulis Romo Hendri, SJ kepada katedralpangkalpinang.com melalui surat elektronik baru-baru ini.

Imam dari Provinsi Serikat Yesus Amerika bagian Barat (Jesuits West) yang meliputi negara-negara pantai Barat Amerika Serikat ditambah Alaska dan Hawai ini boleh dikatakan adalah pengagum Romo YB Mangunwijaya, Pr.

“Sosok Romo Mangun banyak meng-inspirasi saya, dan oleh karena itu saya juga yakin dengan apa yang dikatakan beliau sebagai konsep pasca Indonesia. Pasca artinya masih tetap sama sekaligus menjadi lain. Pascasarjana kan tetap sarjana juga, tetapi meningkat. Singkat cerita pasca-Indonesia berarti bersifat mengglobal tanpa kehilangan sifat lokalnya. Pasca-Indonesia tidak berarti saya bukan orang Indonesia lagi dan menjadi entah apa, tanpa identitas, tanpa kesadaran nasional, akan tetapi saya tidak berhenti menjadi orang Indonesia meski sudah lama tinggal di luar negeri,” tegas kelahiran Sungailiat, Kabupaten Bangka, 13 April 1974 ini.

Rm Hendri, SJ dan Rm Hendra, Pr, dua imam kelahiran Pulau Bangka yang abdikan diri untuk Gereja Katolik. (KATEDRALPGK/ FENNIE)

Rm Hendri melanjutkan, baginya Amerika seperti rumah sendiri.
“Jadi baik tinggal di Indonesia ataupun di Amerika ya sama saja menurut saya, kedua tempat itu tetap akan ada suka-dukanya yang tidak bisa dibandingkan atau diukur yang mana yang lebih baik atau lebih buruk,” tulis Romo Hendri saat diminta tanggapan tentang suka-dukanya berkarya jauh dari tanah air.

Awalnya ia mengaku tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaan itu.
“Dan juga mungkin orang akan sulit mengerti jawaban saya. Tanah air menurut saya tidak terbatas di Indonesia semata, meski demikian bukan berarti saya bukan orang Indonesia lagi. Saya justru merasa lebih menjadi orang Indonesia di luar negeri di banding ketika tinggal di Indonesia. Kalau di sini saya tinggal bilang saya orang Indonesia dan orang tidak bertanya-tanya background saya. Sementara dulu kalau masih di Indonesia, saya selalu dianggap sebagai warga kelas dua karena saya bukan dianggap orang pribumi,” ujar alumnus Fakultas Hukum UGM, Yogyakarta, angkatan 1992 ini.

Soal tanah air, menurut Rm. Hendri Indonesia adalah tempat ia lahir dan dibesarkan.
“Tetapi saya menganut ajaran Almarhum Romo Mangunwijaya, Pr bahwa tanah air itu adalah tempat segala penindasan dan ketidakadilan harus dilawan. Dan itu bisa di mana pun,” imbuh mantan teman seperjuangan politikus PDIP, Budiman Sujatmiko ini.

Rahmat Tuhan
Mengaku tidak pernah tertarik menjadi seorang rohaniawan Katolik karena bukan anak saleh ataupun anak yang rajin bersembahyang, Rm Hendri pun mengaku tidak pernah menjadi putra altar.

“Selama hidup saya, baru sekali saya jadi putra altar waktu Ulang Tahun SMA St. Yosef tahun 1990, itu pun karena putra altar yang seharusnya bertugas berhalangan. Jadilah saya detik-detik terakhir diminta jadi putra altar. Kemudian saya juga tidak pernah ikut Legio Maria atau persekutuan doa, atau kelompok rosario,” kenang Doktor Ilmu Hukum lulusan University of Washington Seattle ini.

Menurut Rm Hendri, panggilan menjadi seorang imam itu karena rahmat Tuhan.
“Saya pikir itu lebih karena rahmat Tuhan yang bekerja dalam hidup saya. Ceritanya cukup panjang dan saya tidak tahu darimana harus memulai,” ujarnya.

Rm Hendri bertutur, pada intinya itu merupakan sebuah misteri yang sulit untuk dijelaskan. “Sama halnya mengapa si A bisa menikah dengan si B. Itu adalah sebuah misteri dan terkadang kita tidak bisa menjelaskannya. Menoleh ke belakang, saya bisa melihat bagaimana Tuhan bekerja dalam hidup saya dan saya tidak melihat alasan lain untuk memuji, menghormati dan mengabdi kepada Yesus dengan menjadi seorang Romo,” ungkap putra sulung dari dua bersaudara pasangan almarhum Yoakim Iswara dengan Anna Fu Mei Na ini.

Rm Hendri, SJ bersama kedua orang tuanya, 14 Juli 2019. (KATEDRALPGK/FENNIE)

Tatkala katedralpangkalpinang.com menyinggung stereotipe tentang Hendri muda yang adalah aktivis pro-reformasi, menurut dirinya itu hanyalah persepsi orang.

“Waktu itu saya hanyalah anak muda yang idealis dan naif, kemudian saya menjadi idealis yang gagal dan bangkrut setelah reformasi karena apa yang dulu kami cita-citakan menjadi berantakan. Saya sendiri sudah melupakan dan meninggalkan masa lalu tersebut. Bahkan bagi saya sosok seorang Hendri Kuok itu sudah lama mati dan dia bukan dari saya lagi,” tandas mantan aktivis Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID) yang berafiliasi dengan Partai Rakyat Demokratik (PRD) ini, salah satu kelompok oposisi utama rezim Soeharto. (katedralpgk/selesai)

Penulis : caroline_fy
Editor : caroline_fy


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •