Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Renungan Harian, Selasa (22 September 2020)
Pekan Biasa XXV
Bacaan : Ams 21:1-6.10-13:  Mzm 119:1.27.30.34.35.44: Luk 8:19-21

Bacaan Injil hari ini membantu kita untuk merenung lebih dalam lagi relasi kita dengan Tuhan Yesus sebagai Sabda kehidupan kita. Penginjil Lukas mengisahkan bahwa pada suatu hari Bunda Maria dan saudara-saudara. Yesus datang untuk bertemu dengan-Nya. Ibu dan saudara-saudara-Nya tidak bisa langsung menjumpai Yesus karena pada saat yang sama banyak orang sedang mendengar pengajaran-Nya. Orang-orang itu menyampaikan Yesus bahwa ibu dan saudara-saudara-Nya hendak menjumpai-Nya, namun Ia berkata: “Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka yang mendengarkan Sabda Allah dan melaksanakannya” (Luk 8:21).

Jawaban Yesus ini mungkin membuat banyak orang merasa heran dan bingung dengan Yesus. Pertama-tama tentang saudara-saudara Yesus. Ada yang berpikir secara harafiah bahwa ada kemungkinan Yesus memiliki saudara-saudara kandung. Dalam budaya Yahudi, saudara-saudara itu dapat bermakna luas, dalam hal ini saudara-saudara sepupuh dari Yesus. Penginjil Markus misalnya, menulis nama-nama mereka yakni Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon (Mrk 6:3).

Dan dengan jawaban itu Yesus pertama-tama ingin menegaskan bahwa Maria, ibu-Nya sudah mendengar dan melakukan Sabda dengan mengandung, dan melahirkan-Nya.
Maria adalah orang pertama yang mendengar dan melakukan Sabda Tuhan sehingga ia layak mendapat penghormatan istimewa di dalam Gereja dan menjadi model bagi kehidupan kita pengikut Yesus. Menjadi keluarga dan saudara tidak harus ada ikatan darah, tetapi bisa nampak dalam kebersamaan. Maka, kedua : perkataan Yesus itu (Luk 8:21) mau menegaskan kepada kita bahwa kekeluargaan yang mau dibangun oleh Yesus adalah sebuah relasi yang baru, tidak oleh hubungan darah atau keturunan. Keluarga Yesus adalah orang-orang yang datang kepada-Nya mendengarkan pewartaan dan melaksanakan Sabda-Nya, dan mereka itulah adalah saudara-saudari-Nya. Akan tetapi kita tidak cukup menjadi keluarga, tetapi keluarga yang akrab dengan Yesus.

Keakraban dan kekeluargaan kita dengan Yesus, bukan sekedar karena kita pengikut dan murid Yesus, juga keakraban bukanlah sikap “formal” atau “sopan”, apalagi sikap “diplomatis”, tapi sesunggguhnya berarti masuk ke dalam rumah Yesus, hidup dalam rumah Yesus dan tinggal bersama dengan Yesus, akrab dengan kata-kata dan perintah-perintah-Nya,  dan hidup dengan dan dalam atmosfer yang ada di rumah Yesus, mengenal dan meniru sikap dan perbuatan Yesus. Hidup di sana, merenungkan dan merasa dibebaskan/menjadi bebas dan dengan demikian menjadi bebas juga untuk melaksanakan Sabda-Nya dengan sukacita. Inilah wajah keluarga Allah, wajah-wajah sukacita karena hidup dalam keakraban dengan Yesus dan juga dengan sesama. Maka sungguh berbahagialah orang yang mendengarkan Sabda Tuhan dan melakukannya.

Pertanyaan refleksi untuk kita adalah apakah kita merasa bahagia saat mendengar Sabda Tuhan? Apakah kita bahagia untuk merenungkan dan melakukan Sabda Tuhan dalam hidup kita? Apakah Anda dan saya merasa akrab dengan Yesus?

Untuk itu, Penulis Kitab Amsal memberikan pencerahan tentang kebijaksanaan yang indah untuk kita hayati dalam hidup setiap hari. Sebagaimana dikatakan di dalam Kitab Amsal bahwa Tuhan senantiasa menguji hati manusia. Sebab itu, melakukan kebenaran dan keadilan lebih berkenan di hati Tuhan daripada kurban (Ams 21: 3).

Penting bagi kita untuk mendengar dan mengikuti kehendak Tuhan dengan sempurna sehingga kebenaran dan keadilan dapat terlaksana dengan baik di dunia ini. Orang-orang yang rajin diberikan kelimpahan oleh Tuhan, namun mata yang congkak hati dan sombong menjadi pelita bagi orang jahat. Semoga kita adalah  orang yang setia mendengar dan melakukan Sabda sehingga keadilan dan kasih menjadi subur dalam hidupnya. Dan dengan demikian kita juga menjadi berkat kasih bagi sesama.

Saudara-saudara terkasih di Bulan Kitab Suci Nasional ini, mari kita beri ruang yang lebih banyak dalam hidup kita untuk Sabda Tuhan. Setiap hari, mari kita membaca satu atau dua ayat Kitab Suci. Mari kita tetap membiarkan Sabda itu menginspirasi kita setiap hari.

Paus Fransiskus dalam Ekaristi Minggu, 26 Januari 2020 yang lalu, berpesan kepada kita semua: “Tuhan memberi Anda firman-Nya, sehingga Anda dapat menerimanya seperti surat cinta yang telah ia tulis kepada Anda, untuk membantu Anda menyadari bahwa ia ada di pihak Anda.  Firman-Nya menghibur dan mendorong kita. Pada saat yang sama itu menantang kita, membebaskan kita dari ikatan keegoisan kita dan memanggil kita untuk bertobat, karena firman-Nya memiliki kekuatan untuk mengubah hidup kita dan untuk menuntun kita keluar dari kegelapan menuju terang, Kita membutuhkan kata-kata-Nya, tegas Paus Fransiskus, agar kita dapat mendengar, di tengah ribuan kata-kata lain dalam kehidupan kita sehari-hari, bahwa satu kata yang berbicara kepada kita bukan tentang hal materi, tetapi tentang kehidupan.” (*)

Oleh:
RD Yustin


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •