Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

RENUNGAN HARIAN

Kamis Minggu Biasa XXV, 24 September 2020

Bacaan : Pengkhotbah 1 : 2 – 11, Lukas 9 : 7 – 9

Saudara-saudari……..

Membaca bacaan hari ini, yang termuat dalam Kalenderium Liturgi pada Kamis biasa  XXV, saya teringat dengan pernyataan yang pernah disampaikan Almarhum Bapak Uskup Hilarius Moa Nurak, SVD. Beliau mengatakan “KITA HARUS BERUBAH. Memang lebih nyaman dan aman berhadapan dengan keadaan yang sama saja. Atau dengan kata lain, kalau tidak berubah itu enak. Sebaliknya beliau mentakan bahwa BERUBAH ITU SAKIT. Tetapi kita akan lebih sakit lagi kalau kita tidak berubah.

Berada pada zona aman atau berada bersama pihak-pihak yang seide, sependapat atau yang disukai itu tidak berisiko. Tidak ada konsekuensi yang harus diterima. Semua berjalan, berputar dan bergerak dari titik yang satu dan akan kembali kepada titik yang sama lagi. Untuk apa berubah, toh semuanya hanya sia2 saja, kata Pengkhotbah. Karena tidak ada yang baru di atas muka bumi ini.

Kadang-kadang situasi, kedaan dan bentuk kehidupan seperti ini disukai sebagian orang. Orang tidak mau repot. Orang tidak mau menanggung resiko. Orang tidak mau menerima konsekuensi.

Saudara-saudari……

Berbeda dengan ide yang yang dikembangkan Pengkhotbah dalam bacaan pertama, Injil Lukas hari ini mengajak kita untuk berpikir dan betindak sebaliknya. Dalam Lukas 9 : 7 – 9 ditampilkan dua (2) sosok pribadi yang berbeda, yakni Herodes dan Yesus. Herodes adalah tipe orang yang tak mau repot. Dia tak ingin “zona amannya” diganggu. Dia ingin tetap tinggal dititik yang sama; dia tidak mau berubah. Dia merasa terusik disaat posisi atau kedudukannya mengalami goncangan dengan kehadiran Tokoh yang menghendaki adanya perubahan.

Yesus adalah Tokoh yang dinantikan kehadiran-Nya untuk menghadirkan perubahan dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat. Disaat Yesus hadir dengan warna dan bentuk  kehidupan yang berbeda, muncul pertanyaan dalam hati Herodes. Pertanyaan itu muncul sebagai ungkapan dari kecemasan, kegelisahan dan ketakutan Herodes. Herodes yang tak menginginkan perubahan yang akan berdampak pada kedudukannya, mulai bertanya-tanya : “Siapa gerangan Dia ini”.

Pertanyaan dan keinginan Herodes untuk berjumpa dengan sosok Tokoh yang baru muncul di atas pentas adalah ungkapan ketakutannya akan perubahan yang dibawa oleh Yesus. Kehadiran Yesus menjadi “ancaman” bagi Herodes. Yesus sendiri juga menyadari bahwa perubahan yang hendak dihadirkan-Nya memiliki konsekuensi yang besar.  Sebagai utusan Bapa-Nya yang membawa misi untuk menghadirkan Kerajaan Allah, Yesus tidak mundur.

Saudara-saudari………

Menjadi Tokoh Perubahan, tidak semuda membalik telapak tangan. Konsekuensi menghadang. Seribu satu macam risiko menanti. Penolakan, tekanan bahkan sampai pada ancaman kematian tak terelakan.

Pertanyaannya adalah Apakah Anda dan Saya sebagai ahli waris penerus karya baik Yesus harus menyerah sebagai Tokoh Perubahan? Jawabannya : TIDAK! KONSEKUENSI pembawa PERUBAHAN adalah SALIB. Salib adalah identitas iman kita. Apapun gerangan yang akan terjadi harus siap diterima selaku duta perubahan.

Agar kita memiliki semangat dan kekuatan untuk hadir sebagai duta perubahan dengan segala macam dan bentuk konsekuensi yang akan terjadi, Kita harus berprinsip seperti Rasul Paulus : “KARENA BAGIKU HIDUP ADALAH KRISTUS DAN MATI ADALAH KEUNTUNGAN” (Filipi 1 : 21). Tuhan memberkati. Amin.

Renungan oleh: RD. Andre Lemoro


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •