Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Renungan Harian, Jumad 25 September 2020, Minggu Biasa XXV

(Pengkotbah 3: 1-11; Lukas 9: 19-22)

Kitab Pengkotbah mengatakan segala sesuatu ada waktunya, semua yang ada dibawah kolong langit ada waktunya.  Tuhan telah menciptakan dan merancang  semua hal berjalan sesuai dengan rencana-Nya. “Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir (Pkh 3: 11)”. Segala sesuatu yang ada terus berlalu seiring dengan perputaran waktu, dan tidak akan datang lagi.

 

Pengkotbah melukiskan dua kutub yang berlawanan selalu menemani ciptaan dan terjadi dalam aliran waktu: “Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk mati, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut, ada waktu untuk membunuh, ada waktu untuk menyembuhkan, ada waktu untuk merombak, ada waktu untuk membangun, ada waktu untuk tertawa, waktu untuk menangis, … dan seterusnya (Pkh 3:2-8). Kita tidak dapat menghindari dua realitas yang berlawanan itu atau memilih satu dan mengabaikan yang lain.  Kita menerima kenyataan itu sambil belajar dan memaknainya untuk menata hidup saat ini dan akan datang.

 

Santo Lukas melukiskan bahwa dua kutub yang bertentangan itu terjadi juga dalam hidup dan karya Yesus.  Ada waktu Yesus diterima, ada waktu Yesus ditolak. Ada waktu Yesus dielu-elukan, ada waktu Yesus diolok-olok. Ada waktu Yesus dimuliakan, ada waktu Yesus menanggung penderitaan. Ada waktu Yesus wafat dan dimakamkan, ada waktu  Yesus bangkit dengan jaya dan hidup untuk selama-lamanya. Yesus tidak menghindar dari dua kutub itu atau memilih satu dan meniadakan yang lain, Ia tetap menerima dan menjalakan dengan sepenuh hati. Yesus mengajak kita untuk menghadapai realitas ini tanpa takut. “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah (Luk 9:62). Yesus menghendaki agar kita tetap menerima relaitas yang ada dan memaknai semuanya demi kehidupan kita.

 

Tuhan telah membuat segala sesuatu indah pada waktunya. Hal ini mengandaikan bahwa kita turut aktif berbuat sesuatu supaya rancangan hidup kita itu  indah sesuai dengan rencana Tuhan. Pilihan-pilihan yang kita ambil  akan sangat menentukan rancangan hidup kita. “Orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan sorak soraik. Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak sorai sambil membawa berkas-berkasnya… barangsiapa menabur angin akan menuai badai (Mzr 126: 5-6)”. Dengan demikian, akan menjadi seperti apa diri kita kelak, tergatung pada pilihan-pilihan hidup apa yang kita ambil selama ini.

 

Pilihan utama kita adalah Yesus. Pertanyaan Yesus, “Menurut  kamu siapakah Aku ini?”  Jawaban dan perbuatan kita atas pertayaan Yesus  inilah  yang akan menentukan wajah kehidupan kita. Mari kita memaknai kenyataan hidup ini dengan lebih banyak memuji dan memuliakan Allah sumber keselamatan dan kehidupan, seperti Pemazmur, “ Terpujilah Tuhan gunung batuku, Ia menjadi tempat perlindungan dan kubu pertahananku,  kota bentengku dan peyelamatku; Ia menjadi perisai, tempat aku berlindung”

Renungan oleh: RD Yos Anting


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •