Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Renungan Harian, Minggu (27 September 2020)
BACAAN :

  • Yeh.18: 25-28
  • Flp.2: 1-5
  • Mat.21: 28-32

Perjalanan hidup semua orang sesungguhnya merupakan suatu perjalanan “keterlibatan”.  Ketika kanak-kanak, orang tua melatih anaknya untuk terlibat melakukan apapun bagi kepentingan keluarga. Ketika remaja, keterlibatan itu diperluas  untuk kepentingan  teman-temannya dan ketika dewasa diperluas lagi untuk  masyarakat, lingkungan, bangsa, bahkan masyarakat dunia.  Apapun yang dilakukan dan dihasilkan  seseorang, selalu memiliki keterkaitan dengan kesejahteraan dan keselamatan orang lain. Keterlibatan itu bukan melulu untuk kepentingan dirinya sendiri, tetapi demi kepentingan dan keselamatan hidup bersama; baik dalam keluarga, komunitas maupun lingkungan yang lebih besar dan luas.

Bacaan Injil hari ini dapat dimaknai betapa mendasarnya keterlibatan kaum beriman kristiani dalam menata, menjaga dan mengembangkan kebun anggur Kerajaan Allah. Keterlibatan untuk mengupayakan kehidupan yang berlimpah dengan damai sejahtera. Jawaban anak sulung : “Baik, bapa” namun ia tidak pergi diperbandingkan dengan pemungut cukai dan perempuan sundal, yang meskipun tidak banyak bicara tetapi mereka percaya dan terlibat dalam karya Yesus. Penyesalan anak kedua yang awalnya menjawab: “Tidak mau” tetapi kemudian pergi juga ke kebun, oleh Yesus dikonfrontasikan dengan sikap kaum Farisi yang meskipun telah melihat dan mendengar seruan Yohanes, tetapi mereka tidak percaya dan tidak melaksanakannya.

Penyesalan si anak yang mendorong ia berangkat ke kebun, tentu karena ia menyadari betapa dalam kebersamaanya dengan bapa,  ia telah mengalami, merasakan dan menerima banyak hal yang baik dari bapanya; meskipun dalam kebersamaannya itu pastilah mengalami suka dan duka. Pertobatan yang menjadi awal dan dasar keterlibatannya.

Santo Paulus, dalam suratnya kepada jemaat Filipi secara lebih ekstrim menasehati agar umat mengenakan pikiran dan perasaan Kristus – yang demi keselamatan umat manusia beserta seluruh ciptaan – telah meninggalkan kemuliaan IllahiNya dan dengan rela melibatkan diri dalam seluruh karya Bapa. Lewat suratnya, Santo Paulus mensharingkan kedalaman imannyayang tumbuh dari pertobatannya, sebagaimana kisah si anak yang semula menolak namun kemudian pergi dan bekerja di kebun anggur bapanya. Sementara dalam bacaan pertama, secara khusus berbicara tentang pertobatan dalam kaitannya dengan mengupayakan keadilan dan kebenaran.

Dalam kehidupan Gereja, sinergi keterlibatan semua warga nampak jelas pada pelaksanaan peribadatan Gereja, khususnya perayaan Ekaristi. Sinergi keterlibatan imam, biarawan/wati dan awam yang berbuah berkat dan keselamatan bagi semuanya. Semua terlibat sesuai dengan status kewargaan, karunia dan talenta masing-masing. Sinergi keterlibatan dalam Ekaristi semestinya juga dikembangkan dalam aspek-aspek kehidupan lainnya. Melalui sinergi keterlibatan itu, Gereja hadir dan ambil bagian dalam karya Kristus menyelamatkan umat manusia dan seluruh ciptaan. (*)

Oleh :
Ignatius Sumardi


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •