Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Renungan Harian, Senin (28 September 2020)
Minggu Biasa XXVI
Bacaan:
Ayb. 1:6-22; dan Luk. 9:46-50
 
Para murid bertengkar tentang siapa yang terbesar di antara mereka (bdk. Mat 20:21-24), yaitu siapa yang akan duduk di samping Yesus bila Yesus nanti menjadi raja (bdk, Mat 20:21), karena mereka sudah melihat tanda-tanda Yesus adalah mesias yang dijanjikan dan dinantikan selama ini (Bdk. 11:2-3; Yoh 4:29; Luk 4:21-22a). Konsep para murid, dan orang Yahudi pada umumnya, tentang “mesias”, yaitu seorang tokoh Yahudi, dari keturunan raja Daud yang mempunyai kuasa untuk membebaskan bangsa Yahudi dari penjajahan (Romawi) dan yang mampu menegakkan kembali kejayaan bangsa Yahudi (Bdk. Yoh 6:14-15, Yer 23:5; 33:15).

Menanggapi pertengkaran itu, Yesus “mengambil seorang anak dan menempatkannya di samping-Nya” dan berkata “Barangsiapa menyambut anak ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku; dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia, yang mengutus Aku. Karena yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar”. (Luk 9:47-48). Yang menarik untuk kita dalami di perikop Luk 9:47-48 ini adalah Yesus mengambil seorang anak dan menempatkan anak itu di samping-Nya.

Anak Sebagai Simbol
Yesus beberapa kali menjadikan anak sebagai simbol dalam pengajaran-Nya, yaitu simbol manusia yang miskin (bdk. Mat 5:3), lemah dan tidak berdaya (bdk. Mat 18:6), tidak diperhitungkan dan selalu diabaikan (bdk. Mrk 14:21). Kita ketahui misi Yesus datang ke dunia adalah menyelamatkan  mereka yang miskin, lemah dan tersingkir (Bdk. Mat 9:13; 15:24), dan mereka adalah  pemilik  Kerajaan  Surga artinya yang berkuasa, orang penting atau besar (Mat 5:3; 19:14). Di perikop lain bahkan Yesus mengingatkan agar jangan memandang rendah anak kecil (Mat 18:10). Maka kalau mau menjadi yang terbesar dalam Keajaan Yesus nanti syaratnya “menyambut anak dalam nama-Ku” (Luk 9:48).

Menarik juga untuk memahami mengapa Yesus menempatkan seorang anak di samping-Nya, padahal posisi itulah yang dipertengkarkan para murid. Ketika ibu anak-anak Zebedeus meminta agar Yesus kelak member tempat duduk di samping-Nya (Mat 20:21), Yesus menjawab “hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa Bapa-Ku telah menyediakannya” (Mat 20:23). Tetapi di perikop Luk 9:46-48 Yesus justru memastikan bahwa yang duduk di samping-Nya adalah orang yang “menjadi seperti anak kecil” (Bdk. Mat 18:4).

“Menjadi seperti anak” merupakan pola atau cara Allah menyelamatkan manusia, yaitu “mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia” (Flp 2; bdk. Yoh 1:9 dan  Mat bab 1 dan 2 serta Luk 1:26-38).  Maka syarat untuk duduk di kiri dan kanan Yesus adalah “kosongkan diri = menyangkal diri”, dan “menjadi seperti anak”  = memikul salib dan berjalan mengikut Yesus (Mat 16:24). Intinya perlu ketulusan, kejujuran, kepasrahan seperti anak kecil.

Bukan Pengikut Yesus Mengusir Setan Demi Nama Yesus
Yohanes mencegah seorang yang bukan pengikut Yesus mengusir setan demi nama Yesus. Kita juga cenderung berpikir dan bertindak bahwa nama Yesus adalah “merek/cap” yang hanya boleh dipakai oleh pengikut Yesus, sempitnya lagi beragama Katolik. Tetapi bagi Yesus, namanya bukan “merek” milik orang Kristen/Katolik, tetapi milik semua orang yang melakukan kehendak Bapa (berkehendak baik) (Bdk. Mat. 7:21). “Barang siapa tidak melawan kamu, ia ada di pihak kamu, ” (Luk 9:50). Intinya pengikut Yesus harus menghargai dan menghormati segala perbuatan baik yang dilakukan oleh orang yang bukan orang Kristen.

Contoh Konkrit dari Ayub
Menjadi seperti anak, dituntut mengosongkan diri, menyangkal diri dan berjalan mengikuti Yesus sambil memikul salib dengan sikap tulus, jujur dan pasrah (Bdk Sabda Bahagia di Mat 5:3-12),  seringkali tidak mudah, karena harus rela menderita. Bacaan hari ini menyajikan kisah Ayub yang walaupun mengalami kegagalan dan penderitaan bertubi-tubi, ia dengan tulus, jujur dan pasrah menerima semua. “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali kedalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama  TUHAN!” (Ayub 1:21). “Apakah  kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?” (Ayub 2:10). Bagaimana dengan kita?

Paulus berpesan “penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.”
Tuhan memberkati. (*)

Oleh :
Andi Kris


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •