Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Inspirasi Sabda
Renungan Harian, Minggu (04 Oktober 2020)
MINGGU BIASA XXVII, THN A
YES 5:1-7; FLP 4:6-9; MAT 21:33-43

Bapak Ibu Sdr/i yang dicintai Tuhan. Hari ini kita memasuki pekan masa biasa ke-27. Lewat bacaan-bacaan yang kita dengarkan, Tuhan mengundang kita untuk merenungkan sejauh mana kita telah bertanggung jawab dalam menata dan mengelola hidup kita. Kitab Suci kaya akan Bahasa simbolik. Salah satunya adalah symbol “kebun anggur” untuk menyebut Israel atau gereja saat ini.

Sebagaimana lazimnya dalam dunia usaha, khususnya pengolahan kebun, tentu sang pemilik menginginkan kebun miliknya menghasilkan buah yang banyak dan dengan cita rasa yang terbaik. Untuk menghasilkan buah yang baik pemilik tentu saja akan menyediakan lahan subur dan bibit yang unggul serta mempercayakan penggarapannya pada orang-orang yang menurut-Nya terbaik. Dan dalam dunia biblis, orang-orang pilihan untuk menggarap kebun anggur Allah adalah bangsa Israel. Suatu kepercayaan yang tidak diterima oleh bangsa-bangsa yang lain. Ada masanya kebun anggur Allah ini digarap dengan sangat baik.

Kita ingat masa kejayaan Daud dan puteranya Salomo. Dan Allah sangat menyukai keduanya, namun ada juga masa di mana kebun anggur ini tidak diolah dengan baik dan karena itu tidak menghasilkan buah yang baik pula, yakni penolakan imam-imam kepala dan tua-tua Israel. Tentu saja, situasi ini membuat Allah murka. Namun, kemurkaan Allah hendaknya tidak dipandang sebagai hukuman semata. Sebab hukuman Allah lebih ditujukan sebagai peringatan agar Israel menyadari kesalahannya, sehingga dapat membaharui diri dan bertobat serta berbalik kepada Allah, tuannya.

Dalam bacaan hari ini, cara Allah menghukum Israel adalah dengan membiarkan Israel dikuasai atau dijajah bangsa lain. Israel mengalami hukuman pembuangan atau keterasingan. Dalam sejarah, pembuangan yang paling tragis terjadi ketika Israel diasingkan ke Mesir atau ke Babilonia. Namun, kendati Allah menghukum Israel, pada saat yang sama Ia selalu juga membuka ruang bagi pengampunan. Sebab, Allah tidak bisa tidak akan selalu setia kepada janjinya untuk memelihara Israel sekalipun Israel berkali-kali tidak setia kepada Allah.

Lewat injil hari ini (Mat 21:33-43) Israel baru, yakni gereja diingatkan akan kepercayaan Allah untuk mengolah kebun anggur-Nya. Ada catatan menarik dari injil Matius, bahwa jika orang-orang yang dipercayakan untuk mengurus gereja, yakni kita semua tidak setia dan bekerja dengan baik, maka kebun anggur ini akan disewakan kepada penggarap-penggarap lain.

Kepada siapa kebun itu dialihkan barangkali tidak begitu penting, namun pesan yang mau disampaikan adalah kiranya kita sebagai umat atau biarawan/wati bahkan imam dan gembala hendaklah setia dalam proses penggarapan atau mengurus gereja. Tuhan bukannya lepas tangan tanpa menyediakan sarana yang kita butuhkan. Ada Kitab Suci, sakramen, tradisi dan ajaran bapa-baba gereja serta magisterium yang senantiasa menjadi kekuatan dan pedoman kita, dan bahkan Allah sendiri hadir menyertai kita lewat bimbingan Roh Kudus (bdk. Mat 28:20; Kis 1:8).

Dalam bingkai kehidupan pastoral di keuskupan ini, selaras dengan visi misi dan spiritualitas yang kita hayati bersama, penggarapan lading kebun anggur Tuhan itu sudah dimulai dalam komunitas basis. Secara khusus di masa pandemic ini penggarapan itu dilakukan dalam keluarga kita masing-masing. Namun tentu saja, segala niat baik untuk mengolah kebun anggur ini harus dimulai dari kesadaran akan perutusan diri kita secara pribadi. Kita tahu kemampuan atau talenta yang Tuhan rahmati pada diri kita masing-masing.

Gunakanlah dan kembangkanlah semaksimal mungkin agar berbuah banyak dan manis. Mudah-mudahan anggur terbaik kelak kita nikmati dan rasakan, baik secara pribadi, dalam keluarga, komunitas basis, gereja maupun dirasakan manfaatnya oleh masyarakat dan bangsa. Partisipasi aktif setiap pekerja sangat menentukan hasil akhir dari buah ladang keluarga atau komunitas, atau parokial bahkan keuskupan kita. Gereja adalah rumah kita. Mari kita pelihara dan kembangkan bersama.

Mungkin kita pernah gagal atau salah arah, namun janganlah takut. Bagaikan “Buluh yang patah tidak akan diputuskan-Nya dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya” (Mat 12:20), kita hendaknya tetap setia dan berpengharapan dalam kasih dan kerahiman Allah.
Akhirnya apapun peran dan bentuk dari penggarapan ladang kebun anggur gereja, semuanya kita wujudkan untuk kemuliaan nama Allah, kini hingga sepanjang segala masa. Amin. (*)

Oleh:
RD Berto NAP Ngita.


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •