Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Renungan Harian, Senin (05 Oktober 2020)
Bacaan: Luk 10:25-37

Sulit kita bayangkan, jika ada seorang “pemulung barang bekas” ikut menyumbang uang untuk membantu sesamanya yang menderita, namun cerita tentang orang yang berkurangan membantu sesamanya yang juga berkekurangan selalu menjadi kisah istimewa. Karena ternyata menjadi sesama bagi orang lain bukan soal seberapa saya punya untuk dibagikan, tetapi terbukalah hati saya untuk berbagi meskipun saya berkekurangan.

Ajaran Yesus tentang sesama bagi orang lain, sejatinya adalah ajakan penyadaran diri bagi para imam kepala dan ahli taurat yang merasa bahwa relasi dengan Tuhan saja cukup untuk masuk surga, karena itu yg dipentingkan adalah Ritus ibadat, penampilan rohani lahiriah, najis-tidak najis, haram-halal. Padahal relasi manusia dengan Tuhan menjadi bernilai kalau hati manusia itu terbuka kepada sesamanya yang sedang menderita.

Terbuka artinya ketika ada sesama yang menderita saya langsung tergerak untuk membantu. Sesama itu tidak mengenal batas, sesama karena kita diciptakan dari Tuhan yang sama. Maka jika ada yang berpikir dan berbuat bahwa sesama hanya seagama atau sesuku, sederajat, maka boleh jadi dia bukan diciptakan oleh Tuhan, tetapi diciptakan oleh Ilah pemecah belah.

Sengaja Yesus menampilkan sosok orang Samaria sebagai “sesama bagi yang lain”, untuk menunjukan bahwa orang yang dianggap sebagai “kafir” ternyata jauh lebih memiliki rasa kemanusiaan dibandingkan dengan para imam, orang Lewi atau mereka yang tergolong kaum ‘beragama”. Status dan penampilan rohani lahiriah tidak menjamin bahwa dia memiliki hati untuk orang lain. Karena itu, hari ini Yesus mendidik kita agar kita menjadi pribadi yang tidak hanya dekat dengan Tuhan dalam ibadat, tetapi harus menjadikan sesama lebih-lebih yang menderita sebagai “Tuhan yang hadir”.
Semoga. (*) 

Oleh:
RD Stanis


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •