Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Renungan Jumat, 09 Oktober 2020
BACAAN :
Galatia 3:7-14
Lukas 11:15-26

Dalam kehidupan menggereja, kedudukan para gembala (imam) sangatlah sentral. Mereka adalah ‘Wakil Kristus’ untuk menyalurkan segala berkat-Nya bagi seluruh umat. Mereka ‘menghadirkan Kristus’ untuk menyatu menjadi ‘Santapan’ bagi seluruh kaum beriman.  Mereka mengulurkan tangan untuk menyalurkan berkat Kristus dan daya Roh Kudus sebagai bekal perjalanan kaum beriman dalam kehidupan sehari-hari. Inilah yang terjadi dalam setiap Perayaan Sakramen Ekaristi dan perayaan Gereja lainnya yang dipimpin oleh imam. Mengapa Tuhan Yesus mengadakan Sakramen Ekaristi (dan juga sakramen-sakramen lain) dan memilih dari para murid-Nya menjadi imam guna menjaga kelangsungannya?

Melalui bacaan Injil hari ini, alasan itu dapat ditemukan jawabannya. Tuhan Yesus mengingatkan bahwa begitu kuat dan dahsyat kuasa kejahatan si setan, yang dengan berbagai cara dan tiada henti-hentinya berusaha memisahkan manusia dari naungan kuasa Tuhan. Menarik manusia menjadi tercerai-berai, hancur, menderita  dan mengalami kematian kekal. Dengan kekuatannya sendiri, manusia tidak akan mampu menghadapinya. Hanya jika manusia menanggapi panggilan Allah untuk selalu bersatu dengan-Nya, akan mampu menghadapi si jahat. Kesatuan dengan Allah melalui Tuhan Yesus, diungkapkan secara sakramental dalam kesetiaan menerima sakramen-sakramen Gereja, teristimewa sakramen Ekaristi. Umat semakin beriman jika ia semakin bersatu dengan Yesus dan Gereja-Nya. Ia akan menjadi “seorang yang kuat dan yang lengkap bersenjata menjaga rumahnya sendiri, maka amanlah segala miliknya” (Luk.11:21). Milik yang utama adalah jiwanya. Agar karya ini terus berlangsung , maka Tuhan Yesus memilih di antara para murid-Nya, untuk menjadi “Personifikasi”  bagi diri-Nya.

Dalam persatuan yang erat dengan Yesus dan Gereja-Nya, umat beriman sekaligus  menerima perutusan Yesus dari Bapa guna mengalahkan kejahatan di dunia. Melalui Roh yang diutus Bapa dalam nama-Nya,  Yesus sendiri bekerja dalam persatuan umat (Gereja) dan dalam setiap pribadi umat-Nya, untuk menyelamatkan dunia dari kuasa si jahat. “Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku dan siapa tidak mengumpulkan bersama Aku, ia mencerai-beraikan” (Luk.11:23). Dalam kesadaran ini, maka semakin beriman berarti semakin kuat memiliki komitmen terhadap tugas perutusannya, sehingga apa yang dilakukan dalam hidupnya sehari-hari merupakan per-nyata-an dari imannya.

Realitas kehidupan dewasa ini, menunjukkan terjadinya kemajuan yang luar biasa dalam kehidupan manusia, teristimewa yang berkaitan dengan teknologi informasi, namun kemajuan-kemajuan itu juga dipergunakan oleh si jahat untuk  tetap menarik, menggoda dan akhirnya merasuki hidup manusia untuk semakin menjauhkan manusia dari Tuhan dan sesamanya. Akibatnya terjadi pendangkalan hidup rohani,  pengikisan semangat persaudaraan dan kepedulian terhadap keselamatan sesama, hilangnya kepedulian terhadap pelestarian lingkungan hidup, hilangnya semangat berbagi, semangat pengampunan, dsb. Dalam realitas hidup inilah Tuhan Yesus menyertai umat beriman dan mencurahkan aneka berkat-Nya untuk mengalahkan segala kuasa si jahat. Semoga.(*)

Oleh :
Ignatius Sumardi


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •