Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Renungan Harian, Minggu (11 Oktober 2020)
 Hari Minggu Biasa ke XXVIII

Kepada para para imam kepala dan para penatua umat Yesus berbicara dengan Perumpamaan…. Mengapa? Tidak bisakah dia berbicara dengan jelas seperti yang biasa dilakukan? Jika mereka mau berdialog, ya, tetapi mengetahui penolakan untuk menerima hal-hal baru tentang Tuhan dan kehidupan, Tuhan mencoba mencapai hati melalui jalan lain. Saudara-saudari terkasih: ada banyak kemungkinan yang Tuhan pakai untuk sampai ke hati kita. Undangan dan tawaran Tuhan untuk kita sungguh luar biasa. Kali ini Tuhan pakai perumpamaan tentang “Perjamuan Nikah”. Sabda Tuhan, InjilNya itu seperti “surat undangan” Tuhan kepada kita untuk ambil bagian dalam pernikahan, untuk bersukacita merayakan, untuk menghayati sukacita dan kasih Allah agar pada saatnya, sukacita itu “berbuah” dalam hidup kita.

Ilustrasi. (WWW.UCG.ORG)

Perjamuan Kerajaan
Para nabi beberapa kali mewartakan harta keselamatan kekal dengan perumpamaan “perjamuan”. Bacaan pertama hari Minggu ini (Yesaya 25, 6-10a) adalah contohnya: Kita baca: «Di Gunung Sion Tuhan semesta alam akan menghidangkan bagi segala bangsa suatu jamuan ……….. Dan di atas gunung ini Tuhan akan mengoyakkan kain kabung yang diselubungkan kepada segala suku dan tudung yang ditudungkan kepada segala bangsa. Tuhan Allah akan meniadakan maut untuk seterusnya; dan Ia akan menghapuskan air mata dari wajah semua orang. Aib umat-Nya akan Ia jauhkan dari seluruh bumi, sebab Tuhan telah mengatakannya».

Seperti Yesaya, Yesus pun berbicara tentang perjamuan yang disiapkan oleh Tuhan untuk semua orang, tetapi orang-orang Israel dan lebih khusus lagi kota terpilih, Yerusalem, tetap menjadi pusat dari rencana Tuhan, sebagai perantara keselamatan yang ditawarkan Tuhan kepada semua. Namun dalam Perjanjian Baru, meskipun mengakui bahwa “keselamatan datang dari orang Yahudi” (Yoh 4:22), satu-satunya perantara keselamatan adalah Yesus, yang terus melakukan peran keperantaraanNya melalui komunitas murid-muridNya, Gereja, kita.

Mengenakan Gaun Pengantin
Pergi ke pesta dengan pakaian kerja, menunjukkan bahwa kita tidak menghargai tuan pesta;  Itu juga bisa menjadi tanda bahwa kita menganggap remeh undangan itu. Gambaran ini berarti bahwa kita perlu mempersiapkan diri jika hendak masuk ke Kerajaan; satu-satunya cara untuk mempersiapkannya adalah pertobatan. Kita tahu dalam dalam kitab suci, “mengganti pakaian” berarti pembaharuan cara hidup atau pertobatan (lihat misalnya, Rom 13, 14; Gal 3, 27; Ef 4, 20-24).

“Banyak yang dipanggil, sedikit yang dipilih”
Ungkapan ini tidak mengatakan apa-apa tentang hubungan numerik (angka-angka) antara mereka yang dipanggil ke dalam Gereja dan mereka yang terpilih untuk hidup kekal. Ungkapan itu hendak menegaskan bahwa: Kendati Kemurahan hati, Kemaharahiman Allah tak pernah pudar – Ia terus-menerus menawarkan undangan bagi siapapun untuk ambil bagian dalam ‘sukacita’ ilahi – dari pihak kita perlu ada “kesediaan” untuk “mengenakan pakaian pesat”. Keselamatan tidak bisa diterima begitu saja, perlu ada “tanggapan serius” dari kita yang diundang.

Berapa Pertanyaan Penuntun untuk renungan pribadi:
– Apakah aku seperti tamu yang menolak undangan?
– Apakah aku seperti para tamu baru yang ditemukan di jalan?
– Apakah aku seperti pria tanpa pakaian pernikahan?
– “Masalah mendesak” apakah dalam hidupku yang menghalangiku untuk menerima undangan Tuhan? (*)

Oleh :
RD Benny Balun


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •