Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Renungan Harian, Jumat (16 Okt. 2020)
Pekan Biasa XXVIII
Ef 1:11-14: Mzm 34:2-3.4-5.6-7.8-9: Luk 12:1-7

Penginjil Lukas pada hari ini, melanjutkan kisah Yesus yang sedang dalam perjalanan menuju Yerusalem. Dalam perjalanan-Nya bersama para murid-Nya, Ia menemukan berbagai perilaku manusia, terutama yang selalu berseberangan dengan-Nya. Mereka adalah kaum Farisi dan para ahli Taurat. Ia mengambil pengalaman-pengalaman tertentu untuk mendidik kita semua yang membaca dan mendengar Injil zaman ini. Salah satunya adalah bagaimana menjadi pengikut-Nya yang sejati.

Menjadi Murid Sejati Berarti:
Pertama: Hidup Dalam Kejujuran dan Kebenaran: Tidak munafik (bdk Luk 12:1).Yesus mula-mula, mengingatkan para murid-Nya untuk berhati-hati terhadap ragi. Yesus mengatakan bahwa ragi adalah sebuah kelemahan kaum Farisi terutama sikap mereka yang penuh kemunafikan. Tentu saja Yesus tidak sedang berbicara tentang ragi roti melainkan tentang ajaran-ajaran dan sikap legalistis kaum Farisi yang sebenarnya menunjukkan kemunafikan mereka. Artinya apa yang mereka ajarkan, yang mereka ungkapkan tidak sesuai dengan kehidupan mereka yang nyata. Murid Kristus sejati tidak akan jatuh dalam kemunafikan semata.

Kemunafikan adalah ketidakjujuran dan ketidaktulusan. Betapa mudah bagi kita menjadi kuburan yang dilabur putih (bdk Mat 23:27), dan betapa mudah kata-kata mulut kita berlawanan dengan apa yang ada dalam hati kita. Berapa banyak tingkah laku kita dipertontonkan hanya untuk sebuah reputasi? Yesus sangat tegas dan menyebutnya kemunafikan. Ini adalah virus yang dapat mematikan hidup seseorang. Maka, sebagai seorang murid sejati, haruslah hidup seperti Yesus. Yesus penuh kebenaran, jujur, iklas dan tulus serta sungguh-sungguh transparan. Itulah sebabnya mata-Nya jernih dan dapat melihat kebohongan dan kepalsuan di dunia sekelilingnya.

Kedua: “Mewartakan Injil Dalam Kebenaran”:  Tuhan Yesus mengajak para murid-Nya untuk berani berkata benar dalam mewartakan Injil. Mereka mewartakan Injil dalam kebenaran menjadi salah satu ciri dari murid sejati, sebab apa yang mereka wartakan akan mengubah seluruh hidup orang lain. Ia tegas mengatakan: “Tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui. Karena itu apa yang kamu katakan dalam gelap akan kedengaran dalam terang, dan apa yang kamu bisikkan ke telinga di dalam kamar akan diberitakan dari atas atap rumah.” (Luk 12:2-3).Tugas seorang murid adalah mewartakan kasih dan kebaikan Tuhan dalam Injil. Tentu bukanlah hal yang mudah, namun para murid harus berani mewartakannya tanpa henti. Hanya dengan demikian Injil akan mengubah hidup banyak orang.

Ketiga: “Jangan Takut” (bdk. 12:4): kepada para murid, Yesus juga dengan tegas mengatakan, ”Janganlah takut. Seorang Kristen sejati tidak akan dikuasai oleh roh ketakutan. Ia tidak akan takut dalam mewartakan Injil, menyebarkan kasih dan kebaikan Tuhan. Injil harus diwartakan dengan suka cita. Ketakutan adalah ekspresi manusiawi yang kerap muncul saat seseorang menyadari bahwa kekuatan di dalam dirinya tidak lagi sanggup mengendalikan hal-hal yang muncul dari luar dirinya. Yesus ingin agar para murid menyadari bahwa ketakutan justru akan mengaburkan iman.

Untuk itu, Yesus meyakinan para murid bahwa kekuatan Ilahi senantiasa sanggup untuk melengkapi kekuatan manusiawi sehingga para murid tidak perlu takut dengan hal-hal duniawi yang hanya “dapat membunuh tubuh dan kemudian tidak dapat berbuat apa-apalagi”. “Takutilah Dia yang mempunyai kuasa untuk melemparkan orang kedalam neraka”(Luk 12:5). Yesus berkata demikian sebab Tuhanlah yang memberi, memelihara dan yang akan menyelamatkan hidup kita. Dialah satu-satunya alasan mengapa kita ada dan ke mana tujuan hidup ini diarahkan.

Keempat: Bertumbuhlah… Karena Kita Berharga di Mata Tuhan (bdk. 12:7). Murid  Yesus yang sejati, adalah seorang yang terus bertumbuh dalam kebaikan dan kebenaran karena kita berharga di hadapan-Nya. Yesus menghendaki agar para murid yang telah dibekali dengan aneka keutamaan, kendati harus berhadapan dengan desakan dunia, tetap memiliki keyakinan di dalam dirinya bahwa dia tidak sendirian, dia tetap berharga, dilindungi dan dicintai Allah, karena Roh Kudus-Nya akan menaungi seluruh hidup manusia yang diciptakan sewajah dengan-Nya.

Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Rasul Paulus dalam bacaan pertama bahwa: “Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya.” (Ef 1:14). Roh Kudus adalah jaminan bahwa kita akan berbahagia selamanya karena melayani Tuhan dan sesama. Roh Kudus yang memampukan kita untuk mengasihi dengan hati tak terbagi kepada Tuhan dan sesama.

Mari kita belajar untuk bertumbuh sebagai murid Kristus sejati. (*)

Renungan Oleh:
RD Yustin

 

 


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •