Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Renungan Harian, Senin 19 Oktober 2020
Minggu Biasa  XXIX
Bacaan : Efesus 2: 1-10; Lukas 12:13-21 

Ada seorang sahabat yang kaya raya secara material dan memiliki jadwal hidup harian yang padat dan tertata rapi, boleh dikatakan sejak bangun pagi sampai pergi tidur pada malam hari semua telah terjadwal. Dia termasuk golongan orang super sibuk. Pernah dia bercanda kepada saya, “Romo…, saya ini sangat sibuk sampai tidak ada waktu lagi untuk sakit”. Saya kagum dengan sahabat saya ini, meskipun dia super sibuk, tetapi dia selalu saja mempunyai waktu untuk hal rohani, keluarga, komunitas dan kegiatan-kegiatan sosial.  Beliau disenangi oleh banyak orang karena berkepribadian baik. Pada suatu kesempatan beliau mengatakan, “Harta yang kumilki adalah semata-mata rahmat dan kasih karunia Allah. Aku telah menerima dengan cuma-cuma, maka aku pun harus berikan juga dengan cuma-cuma pula. Hanya tiga hal yang patut saya pertahankan dalam hidupku ini adalah iman, harap dan Kasih. Ketiga hal inilah yang membuataku kaya dihadapan Allah”.

Santo Paulus menyadarkan umat Efesus bahwa semua hal baik yang mereka terima selama ini semata-mata adalah kasih karunia Allah. Allah begitu kaya dengan rahmat-Nya, karena kasih-Nya yang besar melimpahkan kepada mereka. Allah menunjukkan kekayaan dan kasih karunia-Nya yang melimpah-limpah dalam diri Yesus Kristus. Rahmat dan Kasih Karunia Allah yang paling agung diberikan kepada mereka adalah Yesus Kristus. Dalam diri Kristus, mereka yang dahulu terjerat dalam hokum dosa, kini diselamatkan dan diangkat menjadi putra-putri Allah.

Yesus mengajarkan perumpamaan tentang orang kaya yang bodoh. Orang kaya ini disebut bodoh karena ia hanya mencurahkan seluruh hidupnya untuk mengumpulkan harta kekayaan bagi dirinya sendiri, namun ia tetap miskin dihadapan Allah. Dia hanya kaya secara material, namun miskin dalam banyak aspek, yakni rohani, mental, moral, sosial, dll. Yesus menyadarkan kita bahwa yang paling berharga dalam kehidupan ini adalah menjadi jiwa yang baik. Tujuan utama hidup kita adalah membangun dan merawat jiwa. Sedangkan harta duniawi yang kita peroleh itu hendaknya sebagai penunjang untuk menata jiwa yang baik.
“Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil daripadamu, untuk siapakah itu nanti? Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jika ia tidak kaya dihadapan Allah”.

Harta memang penting untuk hidup di dunia ini, tetapi bukan segalanya. Sabda Tuhan hari ini mengingatkan kita bahwa jangan sampai kita terbelenggu oleh harta, apalagi harta yang kita miliki menjadi sumber keretakan dan dosa. Kita harus memahami bahwa kekayaan duniawi hanya sebagai sarana dan berkat bagi kita untuk menaburkan suka cita Injili bagi semesta. Pengalaman hidup seorang sahabat pada kisah di atas kiranya menjadi inpirasi bagi kehidupan iman kita. Bersama Pemazmur marilah kita memuji Dia Sang Sumber Kekayaan kita, “Bersoraksorailah, hai seluruh bumi! Beribadahlah kepada Tuhan dengan suka cita,  datanglah kehadapan-Nya dengan soraksorai! Sebab Tuhan itu baik, Kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaa-Nya tetap turun-temurun. (*) 

Renungan Oleh:
RD Yos Anting


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •