Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Renungan Harian, Rabu (21 Oktober 2020)
Bacaan 1:  Efesus 3:2-12
Bacaan 2: Lukas 12: 39-48

Hidup itu identik dengan berguna atau bermanfaat. HP hanya berguna di saat hidup. Lilin, listrik, lampu dan sejenisnya hanya  berguna ketika  hidup. Jam berguna ketika ia hidup. Tumbuhan dan binatang juga berguna ketika hidup. Ketika sudah mati, semuanya tidak berguna lagi. Demikian juga manusia, sejatinya harus berguna. Berguna bagi siapa? Bagi diri sendiri, keluarga, teman, lingkungan dan teristimewa berguna bagi  kelangsungan rencana Allah menyelamatkan dunia seisinya. Manusia yang berguna akan dicari. Bahkan ketika meninggal, semua orang akan menangisi dan merasa kehilangan. Akan berbeda dengan mereka yang hanya selalu membuat resah keluarga, teman, dan lingkungan. Manusia mesti menentukan pilihan.

Tuhan Yesus mengajak para murid-Nya untuk tidak lengah sedikitpun dalam menjadikan dirinya  berguna. Inilah tugas murid-murid Yesus bahkan tugas semua manusia dari Sang Pencipta. Anugerah besar tersedia bagi mereka yang kedapatan oleh tuannya sedang melakukan tugasnya.
“Siapa pelayan yang setia dan bijaksana, sehingga diangkat oleh tuannya menjadi kepala atas pelayan-pelayan lain supaya ia member mereka makan pada waktunya? Alangkah bahagianya pelayan itu apabila tuannya kembali dan mendapati dia sedang melakukan tugasnya! Percayalah: Tuan itu akan mempercayakan segala hartanya kepada pelayan itu”. (Luk.12:42-44)

Melalui suratnya Santo Paulus menyampaikan sharing, bagaimana ia berjuang untuk menyampaikan kabar kasih Yesus kepada bangsa-bangsa di luar Yahudi. Kabar yang telah mengubah hidupnya dari seorang penganiaya hidup, menjadi seorang yang mencintai, memperjuangkan dan mewartakan kehidupan. “Dari Injil itu aku telah menjadi pelayannya, menurut pemberian kasih karunia Allah, yang dianugerahkan kepadaku, sesuai dengan pengerjaan kuasa-Nya.” (Ef.3:7)

Syarat utama agar hidup berguna adalah hubungan yang akrab dengan Allah, sehingga dapat mendengarkan dan memahami apa yang dikehendaki-Nya. Menyediakan waktu untuk berbicara dengan Tuhan dalam doa, membaca dan merenungkan Sabda-Nya dalam Kitab Suci serta selalu berada dalam kesatuan Gereja-Nya, merupakan landasan kuat membangun hidup yang berguna. Kemudian dengan jujur dan tulus lakukan apapun yang baik dan berguna, tanpa harus menunda-nunda, tanpa menunggu diminta. Tentu saja sesuai dengan kesanggupan dan kemampuan. Selebihnya biarlah Tuhan yang menyempurnakan. (*) 

Renungan Oleh:
Ignatius Sumardi


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •