Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Renungan Harian, Kamis (22 Oktober 2020)
Minggu Biasa XXIX
Bacaan: Gal. Ef 3:14-21; dan Luk. 12:49-53

Ucapan Yesus di Luk 12:49-53 ini bisa membingungkan orang. Bagaimana tidak? Yesus mengatakan “Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah Aku harapkan, api itu telah menyala! Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan” (Luk 12:49.51).  Membingungkan karena Yesus kita kenal sebagai Raja Damai seperti dinubuatkan oleh nabi Yesaya, “Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai” (Yes 9:5). Hal itu ditegaskan juga oleh penulis Injil Lukas (bdk. Luk 1:79; 2:14; 10:15; 19:38).

Apa yang dikatakan Yesus di Luk 12:49-52 sudah dinubuatkan juga oleh Simeon ketika Yesus dipersembahkan  di Bait Allah. Luk 2:34, “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan”.

Nubuat Yesaya dan Simeon serta perkataan Yesus menjadi kenyataan. Kita lihat ajaran-ajaran Yesus telah menimbulkan pro dan kontra di kalangan masyarakat Yahudi waktu itu. Ada orang yang mau menerima Yesus, tetapi juga tidak sedikit yang menolak Yesus.

Melemparkan Api ke Bumi
Yang harus kita pahami, dalam Kitab Suci, ‘api’ sering digunakan untuk menggambarkan api kasih Allah terhadap manusia (lih. Ul 4:24; Kel 13:21-22, dll). Api kasih inilah yang dibicarakan Yesus di sini, sesuai juga dengan pernyataan kasih Allah ini, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yoh 3:16). Api kasih yang inilah yang menyebabkan Yesus menyerahkan nyawa-Nya bagi sahabat-sahabat-Nya (Yoh 15:13).

Maka dengan demikian, perkataan Yesus di Luk 12:49-53 dimaknai sebagai ungkapan keinginan Yesus untuk menyerahkan nyawa-Nya karena kasih-Nya kepada kita. Seperti juga yang pernah dikatakan-Nya dalam Mrk 10:38-39. Yesus menyebut kematian-Nya sebagai baptisan, sebab Ia mengetahui bahwa Ia akan bangkit dari kematian-Nya dengan mulia. Pembaptisan kita maknanya adalah kita ‘ditenggelamkan’ di dalam kematian Kristus, di mana kita ‘mati’ terhadap dosa dan dilahirkan kembali di dalam kehidupan ilahi bersama Yesus (lih. Rom 6:4).

Membawa Pertentangan
Yesus telah datang ke dunia dengan membawa pesan kedamaian (lih. Luk 2:14) dan perdamaian (lih. Rom 5:11). Pesan damai/perdamaian Yesus itu jika kita cermati ditegaskan Yesus lahir dari situasi yang bertentangan. Baca kotbah Yesus di bukit (Mat 5:3-13 atau Luk 6:21-26), namun Yesus membawa pesan damai yang sangat kuat ketika Ia menegaskan bagaimana sikap kita menghadapi orang-orangyang menentang ajaran Yesus. “Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu” (Luk 5:39) dan “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (Luk 5:44).

Pesan
Di bulan misi (Oktober = bulan misi), Yesus melalui Luk 12:49-53 mengingatkan kita bahwa sebagai orang Katolik (murid Yesus) yang misioner, akan ada pertentangan dan pemisahan yang akan menyertai pewartaan kabar gembira/damai (lih. Luk 6:20-23; Mat 10:24). Bahkan bisa terjadi kita akan ditentang oleh anggota keluarga kita yang tidak menerima Yesus. Bisa jadi kita harus dikucilkan oleh keluarga kita sendiri karena menjadi Kristen. Semua terjadi karena terdapat nilai-nilai yang berbeda, yang diajarkan oleh dunia dan yang diajarkan oleh Kristus. Tegasnya: Yesus mengingatkan agar kita memililiki semangat martiria. Ketika menghadapi pertentangan Tuhan Yesus sudah memperingatkannya agar kita teguh memegang ajaran-ajaran-Nya, dan bersikap bijak menyikapi orang-orang yang menentang kita.

Untuk itu St. Paulus dalam Ef 3:14-21 telah mendoakan kita.

Selamat melaksanakan amanat misioner kita.

Tuhan memberkati. (*)

Renungan Oleh:
Andi Kris


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •