Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Renungan Harian, Kamis (29 Oktober 2020)
Pekan Biasa XXX
Ef 6: 10-20: Mzm 144: 1,2,9-10 :Luk 13:31-35

Penginjil Lukas dalam bacaan Injil hari ini, mengisahkan bahwa ada beberapa orang Farisi berkata kepada Yesus untuk meninggalkan tempat di mana Ia berada dalam perjalanan menuju Yerusalem karena Herodes Antipas hendak membunuh-Nya. Tanggapan Yesus adalah menyuruh para utusan Farisi untuk menyampaikan Herodes sang serigala: “Aku mengusir setan dan menyembuhkan orang, pada hari ini dan besok, dan pada hari yang ketiga Aku akan selesai. Tetapi hari ini dan besok dan lusa Aku harus meneruskan perjalanan-Ku, sebab tidaklah semestinya seorang nabi dibunuh kalau tidak di Yerusalem.” (Luk 13:32-33).

Tuhan Yesus sungguh mengetahui bahwa IA akan menderita, wafat dan bangkit pada hari ketiga. Maka, IA mengingatkan Herodes akan segala karya yang sudah dilakukan-Nya demi keselamatan manusia. Tuhan Yesus merasa iba dengan penghuni Kota Yerusalem, karena tindakan mereka memang tidak terpuji. Nabi-nabi dibunuh di sana, para utusan dilempari dengan batu. Tuhan Yesus memiliki kerinduan yang mendalam untuk mengumpulkan anak-anak kota damai menjadi satu persekutuan, tetapi sayang sekali mereka tidak mau dikumpulkan. Karena kerasnya hati mereka maka Tuhan mengatakan bahwa kota ini akan dihancurkan, ditinggalkan dan menjadi sunyi. Namun Tuhan Yesus juga masih memberi harapan bahwa setelah kesunyian itu, mereka akan berkata: “Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan.”

Inilah kerinduan akan kedatangan-Nya kembali untuk mengadili orang yang hidup dan mati. Yesus mengeluh dan menangisi Yerusalem.

Kelembutan Cinta Tuhan yang Terungkap dalam Air mata
Maka, marilah kita berfokus pada sesuatu yang konkret dalam cinta Yesus ketika berbicara tentang Yerusalem. Yesus mengenang saat-saat Ia berusaha mengumpulkan anak-anaknya (Yerusalem), “seperti seekor induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya,” tetapi hal itu ditentang. Itulah yang membuat-Nya menangis.

Cinta Kristus menyebabkan Dia menangis. Menangis bagi kita masing-masing. Ungkapan yang menunjukkan kelembutan. Yesus bisa saja mengutuk Yerusalem, mengatakan hal-hal mengerikan. Sebaliknya Dia menyesali bahwa Yerusalem tidak membiarkan dirinya dicintai seperti halnya anak-anak ayam. Inilah kasih Allah yang lembut di dalam Yesus. Cinta Kristus tidak dapat digambarkan dan juga tak terukur. Dialah yang benar-benar diutus oleh Bapa untuk menyelamatkan kita.

Dia melakukannya dengan cinta. Dia memberikan hidup-Nya untuk Anda dan untuk saya. Cinta Yesus dekat dengan kita, dan bukan cinta yang abstrak. Itu adalah cinta Kau-Aku/Aku-Kau – kita masing-masing – dengan nama dan nama keluarga kita sendiri. .Inilah wajah kasih Allah yang lembut di dalam Yesus bagi kita masing-masing. Ini adalah jenis cinta yang begitu lembut – Yesus yang menangis, ketika Dia menangis di depan kuburan Lazarus, ketika Dia menangis di sini memandang ke Yerusalem.” 

Membalas Kelembutan Cinta Tuhan dengan Hidup Layak di Hadirat-NYA
Marilah kita juga bertanya kepada diri kita sendiri apakah Yesus menangisi kita? Ya DIA menangisi kita bahkan ketika kita sering memilih untuk mengambil jalan lain. Cinta Tuhan, diekspresikan dalam air mata Yesus yang lembut. Air mata Yesus bisa juga menjadi ungkapan kasihnya bagi semua orang yang masih memiliki hati yang keras, dan bagi kita yang memiliki hati yang tidak setia untuk mendengarkan dan melaksanakan Sabda dan perintah-NYA..

Lalu, apa yang harus kita lakukan untuk membalas cinta kasih Yesus yang begitu besar kepada kita? Rasul Paulus dalam Bacaan Pertama member nasihat-nasihat yang membangkitkan semangat agar kita hidup layak di hadirat Tuhan. Sebagaimana kepada Jemaat di Efesus, St. Paulus juga mengajak kita untuk berani melawan kuasa kegelapan atau kuasa iblis di dunia dengan mengandalkan kuasa Tuhan sendiri (Ef 6:10). Dan kata St. Paulus: “Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah supaya dapat bertahan terhadap tipu muslihat iblis” (Ef 6:11).

Allah adalah senjata, kekuatan, perisai bagi kita untuk melawan kuasa kegelapan atau kuasa iblis di dunia ini. Kita juga hendaknya memiliki kebajikan-kebajikan untuk melindungi diri dari serangan iblis: dengan tetap berdiri tegap berikat pinggangkan kebenaran, berbaju ziarahkan keadilan, kaki berkasut kerelaan untuk mewartakan Injil damai sejahtera, serta memiliki perisai iman untuk bertahan terhadap serangan iblis.

Paulus juga menambahkan resep lain yakni doa dan permohonan. Doa dan permohonan dapat mengubah segala sesuatu dalam hidup manusia. Ia meminta supaya kita berdoa senantiasa dalam Roh dan selalu berjaga-jaga. Ia yakin bahwa hanya Tuhan adalah pelindungnya. Tuhan adalah gunung batu! Dialah tempat untuk berlindung, kubu pertahanan, kota benteng dan penyelamat serta perisai bagi semua orang yang berharap kepada-Nya (Mzm 144: 2). (*)

Oleh:
RD Yustin

 


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •